Featured Post

Paralysis of Analysis di GBKP: Menakar Macetnya Kepemimpinan Spiritual di Persimpangan Prosedur

Gambar
Oleh Pt. Em Analgin Ginting  Dengan Bantuan Gemini AI  I. PENDAHULUAN Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saat ini sedang berada dalam sebuah anomali sejarah yang memprihatinkan. Sebuah fakta pahit yang tidak bisa dibantah adalah ketidaktuntasan pembahasan Tata Gereja pada Sidang Sinode GBKP Tahun 2025 Kegagalan ini melahirkan kekosongan hukum (vakum) yang berdampak luas; GBKP sempat berjalan tanpa Tata Gereja yang sah secara hukum sinodal. Akibatnya, muncul kegelisahan masif di ribuan Runggun. Pertanyaan retoris namun pedih bergema: "Gereja kita memakai tata gereja yang mana?" Kondisi ini diperparah oleh manajemen persidangan yang tidak efisien. Bayangkan, sebuah persidangan yang dihadiri oleh sekitar 900 orang peserta (Pendeta, Pertua, dan Diaken). Jumlah yang kolosal ini menuntut logistik yang luar biasa besar, biaya yang membengkak, dan ruang sidang yang luas. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa kuantitas manusia tidak berbanding lurus dengan kualitas keputusan. Kita haru...

Kisah Biksu Senior dan Biksu Junior.

Saat Biksu senior mengajarkan prinsip kehidupan kepada junior, biksu junior menyimaknya dengan sepenuh hati.

Ajarannya yang paling penting adalah bahwa hidup harus dilakonkan dengan penuh pengendalian diri. Ambil jalan tengah, saat bergembira tidak terlalu bergembira, saat sedih pun tidak terlalu bersedih.
Dan soal pola makan, dan soal pergaulan pun tidak luput dari materi pengajaran utamanya. Dan yang paling masuk ke dalam pikiran sang Biksu junior adalah perlakuan terhadap kaum wanita.
Biksu senior mengatakan, “kita harus mampu mengendalikan pikiran dan perilaku kita terhadap wanita. Sebagai seorang biksu, kita sudah selesai dengan diri kita tentang perempuan. Kita tidak boleh terjebak dalam pandangan ketertarikan terhadap kaum wanita”, kata Biksu Senior menekankan pengajaraannya.
Suatu saat berjalanlah mereka berdua melakukan pengembaraannya.
Tibalah dipinggir sungai, dimana sungainya tanpa jembatan. Menyebranginya harus berjalan perlahan dan hati hati sekali. Seorang wanita muda yang juga mau menyeberang terlihat bingung dan ketakutan untuk berjalan sendiri.


Biksu senior mengetahui pikiran dan ketakutan sang wanita muda, sehingga dengan serta merta menawarkan bantuannya untuk mengendong si wanita menyebrang sungai. Berjalanlah mereka bertiga, dimana BIksu senior di depan dengan mengendong wanita muda, dan di belakangnya Sang Biksu junior terheran heran.
Dia marah dan dalam hatinya menuduh dan mempersalahkan Biksu senior, karena menganggap tidak konsisten dan tidak melakukan apa yang dia katakan. Dia mengatakan sudah selesai dengan wanita, tapi di depan mataku dia mengendong wanita muda, nan cantik rupawan dengan mesranya. Pikirnya sambal memendam rasa jengkel dan marah.
Setelah sampai di seberang, dan si Biksu senior melepaskan si wanita muda dari gendongannya, mereka melanjutkan perjalanannya. Tiba tiba Biksu junior berkata sambil setengah emosi kepada seniornya.
Suhu, tidak konsisten, suhu hanya membodoh bodohi saya.
Saya tidak percaya lagi sama suhu.
Suhu yang berkata, kita sudah selesai dengan wanita, tapi di depan mataku, suhu mengendong wanita cantik dengan sangat mesra.
Benar benar suhu berpikir bejat, dan tak tahu malu, sambarnya sambil menahan amarahnya
Si Biksu senior mendengar dengan penuh perhatian semua sumpah serapah muridnya si Biksu junior. Dan ketika si Biksu junior sudah selesai menumpahkan kekesalan dan kejengkelannya, dengan tenang dan berwibawa si Biksu Senior berkata dengan penuh kelelembutan…..
“Saya tidak lagi memikirkan wanita, rupanya kamu tetap memikirkan wanita”
Moral Cerita, kita sering menuduh orang lain sesuai pikiran kita, padahal orang yang kita tuduh sudah melampui pikiran kita.



Sumber cerita :  Diceritakan oleh seorang senior sekitar 30 tahun yang lalu, Cerita yang sangat populer dan banyak diceritakan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025