Featured Post

Musuh Yang Kita Hadapi Tidak Selemah Yang Kita Bayangkan

Gambar
  ​ Oleh:  Pt. Em, Analgin Ginting ​Pendahuluan: Paradoks Pengenalan Diri ​Perjalanan spiritualitas manusia sering kali terjebak dalam dikotomi antara yang sakral dan yang profan. Namun, sebuah tesis mendasar yang diangkat oleh Dharma Pongrekun mengingatkan kita pada sebuah kebenaran kuno: mustahil bagi seseorang untuk beriman kepada Tuhan jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Iman tanpa pengenalan diri adalah sebuah fatamorgana intelektual, sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Jika kita tidak memahami siapa subjek yang percaya, maka objek kepercayaan itu pun menjadi kabur dan kehilangan esensinya. ​Dalam konteks teologi klasik, gagasan ini menemukan resonansi terdalamnya dalam pemikiran Yohanes Calvin. Calvin menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita sendiri adalah dua hal yang saling bertaut erat. Seseorang tidak dapat memandang dirinya secara jujur tanpa menyadari kehadiran Sang Pencipta, dan sebaliknya, seseorang tidak dapat mem...

Kisah Biksu Senior dan Biksu Junior.

Saat Biksu senior mengajarkan prinsip kehidupan kepada junior, biksu junior menyimaknya dengan sepenuh hati.

Ajarannya yang paling penting adalah bahwa hidup harus dilakonkan dengan penuh pengendalian diri. Ambil jalan tengah, saat bergembira tidak terlalu bergembira, saat sedih pun tidak terlalu bersedih.
Dan soal pola makan, dan soal pergaulan pun tidak luput dari materi pengajaran utamanya. Dan yang paling masuk ke dalam pikiran sang Biksu junior adalah perlakuan terhadap kaum wanita.
Biksu senior mengatakan, “kita harus mampu mengendalikan pikiran dan perilaku kita terhadap wanita. Sebagai seorang biksu, kita sudah selesai dengan diri kita tentang perempuan. Kita tidak boleh terjebak dalam pandangan ketertarikan terhadap kaum wanita”, kata Biksu Senior menekankan pengajaraannya.
Suatu saat berjalanlah mereka berdua melakukan pengembaraannya.
Tibalah dipinggir sungai, dimana sungainya tanpa jembatan. Menyebranginya harus berjalan perlahan dan hati hati sekali. Seorang wanita muda yang juga mau menyeberang terlihat bingung dan ketakutan untuk berjalan sendiri.


Biksu senior mengetahui pikiran dan ketakutan sang wanita muda, sehingga dengan serta merta menawarkan bantuannya untuk mengendong si wanita menyebrang sungai. Berjalanlah mereka bertiga, dimana BIksu senior di depan dengan mengendong wanita muda, dan di belakangnya Sang Biksu junior terheran heran.
Dia marah dan dalam hatinya menuduh dan mempersalahkan Biksu senior, karena menganggap tidak konsisten dan tidak melakukan apa yang dia katakan. Dia mengatakan sudah selesai dengan wanita, tapi di depan mataku dia mengendong wanita muda, nan cantik rupawan dengan mesranya. Pikirnya sambal memendam rasa jengkel dan marah.
Setelah sampai di seberang, dan si Biksu senior melepaskan si wanita muda dari gendongannya, mereka melanjutkan perjalanannya. Tiba tiba Biksu junior berkata sambil setengah emosi kepada seniornya.
Suhu, tidak konsisten, suhu hanya membodoh bodohi saya.
Saya tidak percaya lagi sama suhu.
Suhu yang berkata, kita sudah selesai dengan wanita, tapi di depan mataku, suhu mengendong wanita cantik dengan sangat mesra.
Benar benar suhu berpikir bejat, dan tak tahu malu, sambarnya sambil menahan amarahnya
Si Biksu senior mendengar dengan penuh perhatian semua sumpah serapah muridnya si Biksu junior. Dan ketika si Biksu junior sudah selesai menumpahkan kekesalan dan kejengkelannya, dengan tenang dan berwibawa si Biksu Senior berkata dengan penuh kelelembutan…..
“Saya tidak lagi memikirkan wanita, rupanya kamu tetap memikirkan wanita”
Moral Cerita, kita sering menuduh orang lain sesuai pikiran kita, padahal orang yang kita tuduh sudah melampui pikiran kita.



Sumber cerita :  Diceritakan oleh seorang senior sekitar 30 tahun yang lalu, Cerita yang sangat populer dan banyak diceritakan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025