Featured Post

Catatan PJJ 29 Maret – 4 April 2026

Gambar
 ​ Thema: Muat Bagin Ibas Berita Si Meriah Nas: 2 Timotius 1:3-8 ​1. Pendahuluan ​Surat ini merupakan "wasiat rohani" Rasul Paulus yang ditulis dari penjara Roma yang dingin dan gelap. Paulus menyadari waktunya sudah dekat, sehingga ia menulis dengan nada yang sangat personal dan emosional kepada Timotius, rekan sekerjanya yang lebih muda. Pendahuluan ini menekankan bahwa pelayanan bukanlah sekadar tugas organisasi, melainkan hubungan kasih yang berakar pada doa dan kenangan bersama. ​2. Fakta dari Nas  ​ Pelayanan yang Berintegritas: Paulus melayani Allah dengan hati nurani yang murni, melanjutkan warisan iman dari nenek moyangnya. Ini menunjukkan kesinambungan janji Allah dalam sejarah. ​ Kekuatan Doa Syafaat: Kedekatan personal Paulus ditunjukkan melalui doa yang tidak putus-putus, siang dan malam, bagi Timotius. ​ Empati dalam Persekutuan: Kenangan akan air mata Timotius menunjukkan bahwa dalam pelayanan, perasaan dan kerapuhan manusiawi tidak diabaik...

SAMPAI KAPAN, AKU HARUS BERTAHAN? Lukas 13:23-30

unsplash.com


Siapa yang tidak pernah bosan dalam masa penantian ini? Tampaknya, seluruh dari kita pernah mengalami kebosanan bila diminta untuk menanti. Misalnya menunggu seseorang yang telah janjian dengan saudara. Bahkan, bila teman janjian kita telat selama beberapa jam, maka rasa kesalpun kemungkinan akan muncul dari kita.

Ya, kira-kira demikianlah yang terjadi pada seorang yang mempertanyakan kepada Yesus; “Kapan Kerajaan Allah itu datang? Pertanyaan yang sangat mungkin juga terungkap oleh kita, bila berada pada situasi yang mereka hadapi. Yang mana kala itu mereka sedang mengalami banyak penderitaan baik secara politik, ekonomi, sosial bahkan sampai pada masalah agama. Sebab seperti yang kita ketahui, kala itu mereka sedang dalam penjajahan bangsa Roma. Beberapa kaum revolusioner telah mencoba melakukan perlawanan, namun tidak mendapatkan hasil. Lalu mereka melihat Yesus dengan seluruh perbuatan dan pelayananNya, tentulah besar harapan mereka agar Yesus menjadi pembebas mereka dalam penderitaan yang selama ini telah mereka alami. Bahkan kita sendiripun, terkadang sering merasa marah dan kesal, mempertanyakan “Kapan penderitaan ini akan berakhir? “Kapan masalah ini akan berlalu? Kapan, kapan dan kapan?

Beberapa orang, ada melakukan hal berbeda dengan cara memotivasi dirinya untuk bertahan dalam penderitaan. “Aku bisa melewati ini!”, “Aku kuat melakukan ini”, “Aku akan bertahan! Memangnya kanker pikir dia itu siapa? Aku ini lebih kuat dari kanker!” . Sikap yang tidak jauh berbeda dari seekor nyamuk muda tadi, bukan?

Saudaraku, suasana hati dapat sangatlah menyesatkan. Bila sedang berada dalam suasana yang baik, hidup ini terasa sangat menyenangkan. Kita memiliki perspektif, akal sehat dan kebijakan. Dalam suasana hati yang baik, semua terasa ringan, masalah-masalah yang dihadapi terasa tidak terlalu berat dan lebih mudah dipecahkan. Bila berada dalam suasana hati yang baik, hubungan-hubungan kita rasanya mengalir lancer dan komunikasi berjalan dengan mudah. Bila dikritik, kita dapat menerimanya dengan enak.

Sayangnya, hal sebaliknya juga terjadi. Bila kita berada dalam suasana hati yang buruk, hidup terasa begitu serius dan berat. Perspektif kita menjadi sempit. Kita menangani persoalan sendiri dan sering kali salah menafsirkan apa-apa yang ada di sekitar kita, sepertinya semua yang ada berniat mencelakakan kita. Demikianlah, maka pemikiran seperti, “Aku bisa melewati ini!”, “Aku kuat melakukan ini”, “Aku akan bertahan! Memangnya kanker pikir dia itu siapa? Aku ini lebih kuat dari kanker!” muncul dalam pikiran kita.

Karena itu jawaban Yesus bagi orang yang mempertanyakan, tampaknya sangat relevan untuk kita yang juga mempertanyakan “SAMPAI KAPAN AKU BERTAHAN”, yakni

 

            “Berjuanglah untuk masuk melalu pintu yang sesak itu!” (Bdk. Lukas 13:24)           

Sebuah perjuangan, bukan penantian pasif seperti seorang putri yang menanti pangeran datang menghampirinya di atas menara. Perjuangan, bukan seperti dongeng cinderela yang selalu menerima siksaan saudari dan ibu tirinya, lalu berfikir bahwa Ibu Peri akan datang. Ingatlah, bahwa itu hanya dongeng semata dan banyak orang mati karena korban KDRT saat ini!

Perjuangan itu seperti saat kita berada dipuncak sebuah gunung yang diselimuti oleh kabut. Kita bukan memaksakan diri untuk berjalan dalam kabut tersebut. Sebab pada akhirnya kita tidak pernah mengetahui, dimana letak jurang ataupun keberadaan kita. Alhasil bila kita memkasakan diri berjalan dalam kabut. Maka kemungkinan besar untuk jatuh ke jurang yang terjal sangatlah besar.

Kitapun, bukan pula memaksakan diri untuk menghembuskan angin agar kabut itu hilang dari keberadaan kita. Sebaliknya, kabut selalu berada di ketinggian, jadi selama saudara menempuh jalan ke bawah, pada akhirnya saudara akan tiba dibawah kabut dan bisa melihat dimana saudara berada. Ya, saudara harus berjuang untuk keluar dari kabut dahulu untuk menemukan jalan pulang.

Kiasan ini, mengartikan bahwa kabut adalah penderitaan, masalah dan situasi buruk yang kita alami. Sedang mencari jalan keluar dari kabut, inilah perjuangan yang Yesus ingin nyatakan kepada kita. Bahkan bila perjuangan itu sangatlah berat, seperti pintu sempit. Saudara harus memiliki keyakinan bahwa; dalam diri yang terbuka pada kehadiran Allah; dalam diri yang mengaku lemah kepada Yesus; dalam diri yang meminta dan memohon pertolongan Roh Kudus. Selalu akan membawa kita berjuang melewati kabut. Seperti seorang perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun, dengan penuh keyakinan mendapatkan kesembuhan saat ia menjamah jubah Yesus. Demikianlah sebuah perjuangan!


Perjuangan untuk terus melangkah dalam jalan yang sempit, perjuangan untuk berusaha masuk dalam pintu yang sempit, perjuangan untuk terus berjalan sekalipun hanya langkah kecil yang kita buat. Sebab pada akhirnya yang kita butuhkan hanya biji sesawi untuk memindahkan gunung. Daripada berfikir dan meratapi bahwa penderitaan ini akan berlangsung selamanya. Mengapa tidak mencoba untuk keluar dari kabut itu, sekalipun dengan langkah kaki yang kecil. Setidaknya dalam langkah kecil tersebut, kita berusaha untuk terus berjalan mencari jalan keluar. Dengan penuh keyakinan, bahwa Allah yang membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir juga Allah yang sama untuk membantu, membimbing, dan memberikan kita kekuatan untuk keluar dari penderitaan, bukan bertahan dalam penderitaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025