Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 14 - 20 Februari 2026

Gambar
  MENGIKUT FIRMAN DAN PERINTAH TUHAN (Ngikutken Pedah Ras Perentah) Imamat 18:1–5 Pendahuluan Di zaman sekarang ini, banyak orang percaya hidup di antara dua dunia:dunia iman dan dunia kebiasaan. Kita mengaku mengenal Tuhan, tetapi perilaku kita sering kali lebih mencerminkan “Mesir” — sistem lama, pola lama, kebiasaan lama. Padahal Tuhan memanggil umat-Nya keluar dari Mesir bukan hanya untuk pindah lokasi, tetapi untuk pindah pola hidup. Masalah terbesar umat Tuhan bukan tidak tahu firman.  Masalah terbesar adalah tidak sungguh-sungguh mengikut firman.  Imamat 18:1–5 adalah deklarasi identitas dan perintah yang sangat tegas :  “Akulah TUHAN, Allahmu.”  Segala ketaatan dimulai dari pengenalan itu. Fakta dari Nas (Imamat 18:1–5) 1. Tuhan berbicara langsung kepada Musa. Musa diperintahkan menyampaikan firman kepada bangsa Israel. 2.     Israel dilarang mengikuti pola hidup Mesir (masa lalu).   Israel juga dilarang mengikuti kebiasaan Kan...

Indah Pada Waktunya / Pengkhotbah 3:11-15 ( Pekan Penatalayanan Hari Keempat)

 

Photo by Fabrizio Verrecchia - Unsplash

Apakah Anda mempunyai jam dinding atau jam tangan yang ada jarum detiknya? Perhatikan dan ikuti jarum itu berdetik selama satu menit. Dengan detik-detik itu kita menghitung waktu. Waktu adalah bagian terpenting dalam hidup kita. Setelah jangka waktu 75 tahun, semua jam di dunia ini telah berdetik sebanyak hampir 2,5 miliar kali.

Bernard Berenson, seorang kritikus seni bertaraf internasional, mempunyai semangat hidup yang tinggi. Bahkan dalam keadaan sakit ia tetap menghargai waktu yang ada. Sesaat sebelum meninggal dunia pada usia 94 tahun, ia berkata kepada seorang temannya, "Saya ingin berdiri di ujung jalan dengan topi di tangan, dan meminta setiap pejalan kaki yang lewat agar menjatuhkan setiap menit yang tidak mereka gunakan ke dalamnya." Melihat sikapnya itu, hendaknya kita sadar betapa pentingnya kita belajar menghargai waktu!

Tentu saja kita tak ingin menjadi orang yang terlalu `diburu waktu' sehingga menjadi gila kerja, tidak mengacuhkan keluarga, tak pernah bersantai bersama teman-teman, atau terlalu sibuk untuk sekadar mencium wanginya bunga mawar atau mengagumi indahnya matahari terbenam. Sebab, “waktu” itu penguasa yang kejam, yang menekan kita di bawah kendalinya. Sedikit demi sedikit waktu membuat kita merasa dan kelihatan lebih tua, dengan terus-menerus mendorong kita menuju hari kematian kita. Waktulah yang menentukan kapan kita menanam atau menuai, kapan kita tertawa atau menangis, kapan kita menyimpan atau membuang sesuatu (Pengkhotbah 3:1-8). Dan kadangkala kita seperti pion-pion yang tak berdaya dalam permainan alam semesta ini.

Namun ketika kita menyadari bahwa Allah yang menetapkan waktu dan mengendalikan segalanya adalah Sahabat kita, maka semuanya menjadi berbeda. Bahan refleksi kita berkata bahwa "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya" (Pengkhotbah 3:11). Dengan demikian kita dapat mempercayai Allah untuk merajut maksud-maksud-Nya yang penuh kasih bagi kita, hingga menjadi karya yang indah sepanjang masa. Ada kalanya maksud-Nya yang indah itu dapat terlihat dengan jelas, namun adakalanya pula rancangan-Nya tetap menjadi misteri karena keterbatasan kita sebagai manusia.

Terakhir, saya teringat dengan A.B. Simpson, seorang teolog yang pernah berkata, "Saya percaya jerih payah dan doa yang dipanjatkan 20 tahun yang lalu tidak akan berlalu begitu saja. Memang mungkin kita tidak dapat melihat langsung hasil karya dan pengorbanan kita sekarang ini, tetapi pada suatu saat semuanya akan nyata dalam keindahan dan kemuliaan.”

Kasih yang saudara berikan, pengampunan yang saudara tunjukkan, kesabaran dan ketekunan yang dikaruniakan dalam hidup saudara akan menghasilkan buah yang lebat. Orang yang saudara tuntun kepada Kristus mungkin menolak diperdamaikan dengan Allah. Hatinya mungkin terlihat sedemikian kerasnya sehingga doa dan usaha saudara terasa sia-sia belaka. Namun sesungguhnya semua itu tidak akan sia-sia, melainkan akan berhasil pada suatu saat-mungkin sesudah Anda sendiri melupakannya. Atau malah seperti yang ayah saya ajarkan, ketika banyak para revolusioner yang diingat dan dikenang bukan semasa hidupnya. Tetapi setelah ia pergi dari tempat tersebut ataupun ketika ia telah benar-benar meninggalkan dunia ini.

Karena itu (lagi), "Biarlah Allah yang menentukan waktunya! Mungkin segala sesuatu berjalan begitu lambat, tetapi yakinlah bahwa segala sesuatu itu pasti ada hasilnya. Ada masa menabur dan musim semi terlebih dahulu sebelum tiba saatnya musim menuai dan musim gugur." Dengan kata lain, seseorang bukan cuman menunggu dan terpaku pada waktu Tuhan. Tetapi juga tetap bekerja dan menaruh harapnnya kepada Tuhan. Jangan sampai Tuhan sudah bekerja, manusianya yang malah berpangku tangan dan menunggu Tuhan mengubahkan keadaannya.

Tetaplah menabur! Pada waktu-Nya, dan sesuai dengan kehendak-Nya, Allah akan mengirimkan hasil panennya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025