Featured Post

Catatan Tambahan Khotbah Minggu 29 Maret 2026

Gambar
Thema : Raja Yang Datang Di Dalam Nama TUHAN.   (Raja Si reh Ibas Gelar Tuhan) Nas Khotbah : Lukas 19 :  28 – 40 I. Pendahuluan Saudara yang dikasihi Tuhan, narasi "Minggu Palmarum" seringkali terjebak dalam romantisme sorak-sorai semata. Namun, jika kita menggali lebih dalam, perjalanan Yesus ke Yerusalem bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Ini adalah sebuah proklamasi kedaulatan. Yesus tidak sedang hanyut dalam arus massa; Dialah yang menetapkan arus tersebut. Tema kita hari ini, "Raja Yang Datang Di Dalam Nama TUHAN", memanggil kita untuk memeriksa kembali: Raja seperti apa yang kita sembah? Apakah Dia Raja yang memenuhi ambisi kita, atau Raja yang memenuhi kehendak Bapa?  II. Fakta dari Nas: Kedaulatan Sang Sutradara Agung Lukas mencatat dengan detail bagaimana Yesus mengatur pengambilan keledai. Ini bukan sekadar meminjam kendaraan. Secara teologis, ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Sutradara Paling Agung dalam kehidupan manusia. Dia menguasai semua skenario da...

PENYANGKALAN PETRUS Matius 26:69-75

 

David Monje - Unsplash

Tahukah kita, diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan hanya dengan melihat bagian dalam mulut seseorang. Bahkan beberapa penyakit dapat diketahui dengan memeriksa keadaan lidah. Tak heran, maka hal pertama yang akan dokter katakan saat memeriksa pasiennya adalah, "Coba, saya lihat lidah Anda." Seringkali diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan hanya dengan melihat bagian dalam mulut seseorang. Beberapa penyakit dapat diketahui dengan memeriksa keadaan lidah.

Hal sama juga dapat dilakukan untuk memeriksa kesehatan rohani seseorang.Tutur kata yang diucapkan seseorang akan mencerminkan apa yang ada dalam diri orang itu. Yesus berkata, "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati" (Matius 12:34).

Tidak percaya? Mari kita baca lagi peristiwa yang terjadi pada Petrus…

Pada malam Yesus ditangkap, Rasul Petrus menjumpai kesulitan karena ucapan mulutnya. Ketika ia berbicara, beberapa orang mengenali dialeknya dan berkata, "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu" (Matius 26:73). Walaupun Petrus mencoba menyangkal tuduhan mereka, namun tutur katanya menunjukkan dengan jelas siapa dirinya.

Petrus melupakan dirinya sebagai manusia yang rapuh. Ia sulit mengakui ketidakberdayaannya sebagai manusia dengan mengatakan kepada Yesus, “Sekalipun aku harus mati Bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (bdk. Markus 14:26-31).. Tapi bagaimana kenyataanya? Petrus menyangkal Yesus.

Mengapa? Karena ucapan keyakinan tersebut, justru menunjukan ketinggian hati dari Petrus didepan Yesus.

Hal serupa juga sering terjadi pada diri kita, saat sesuatu yang kita sebut sebagai “keyakinan” berubah menjadi “ketinggian hati”. Padahal, tidak salah mengakui ketidakberdayaan kita pada Tuhan. Justru, mengakui ketidakberdayaan, menghilangkan sifat “sok tahu” akan segalanya. Melalui pengakuan ini, kita akan mengetahui kelemahan dan kerendahan hati kemanusiaan kita. Hal ini adalah dasar untuk mengakui bahwa kita adalah manusia, wajar untuk melakukan kesalahan dan tidak dapat melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Itu juga mengapa kita selalu membutuhkan kasih karunia Tuhan dalam ketidakberdayaan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025