Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)

Gambar
  ​ Tema: Pengetahuan Yang Lengkap Dan Berguna ( Pemeteh si kuh dingen serta ) Teks Alkitab: 1 Korintus 13:11 – 12 ​ "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." ​ Pendahuluan ​Pertumbuhan adalah keniscayaan dalam tatanan ciptaan Allah. Sebagaimana seorang anak secara fisik dan mental mengalami fase perkembangan dari tutur kata, perasaan, hingga pola pikir sederhana menuju kedewasaan, demikian pula manusia dipanggil untuk mengalami pembaharuan budi dan iman secara berkesinambungan. Ketidakmampuan atau keengganan untuk bertumbuh merupakan sebuah anomali spi...

PENYANGKALAN PETRUS Matius 26:69-75

 

David Monje - Unsplash

Tahukah kita, diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan hanya dengan melihat bagian dalam mulut seseorang. Bahkan beberapa penyakit dapat diketahui dengan memeriksa keadaan lidah. Tak heran, maka hal pertama yang akan dokter katakan saat memeriksa pasiennya adalah, "Coba, saya lihat lidah Anda." Seringkali diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan hanya dengan melihat bagian dalam mulut seseorang. Beberapa penyakit dapat diketahui dengan memeriksa keadaan lidah.

Hal sama juga dapat dilakukan untuk memeriksa kesehatan rohani seseorang.Tutur kata yang diucapkan seseorang akan mencerminkan apa yang ada dalam diri orang itu. Yesus berkata, "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati" (Matius 12:34).

Tidak percaya? Mari kita baca lagi peristiwa yang terjadi pada Petrus…

Pada malam Yesus ditangkap, Rasul Petrus menjumpai kesulitan karena ucapan mulutnya. Ketika ia berbicara, beberapa orang mengenali dialeknya dan berkata, "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu" (Matius 26:73). Walaupun Petrus mencoba menyangkal tuduhan mereka, namun tutur katanya menunjukkan dengan jelas siapa dirinya.

Petrus melupakan dirinya sebagai manusia yang rapuh. Ia sulit mengakui ketidakberdayaannya sebagai manusia dengan mengatakan kepada Yesus, “Sekalipun aku harus mati Bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (bdk. Markus 14:26-31).. Tapi bagaimana kenyataanya? Petrus menyangkal Yesus.

Mengapa? Karena ucapan keyakinan tersebut, justru menunjukan ketinggian hati dari Petrus didepan Yesus.

Hal serupa juga sering terjadi pada diri kita, saat sesuatu yang kita sebut sebagai “keyakinan” berubah menjadi “ketinggian hati”. Padahal, tidak salah mengakui ketidakberdayaan kita pada Tuhan. Justru, mengakui ketidakberdayaan, menghilangkan sifat “sok tahu” akan segalanya. Melalui pengakuan ini, kita akan mengetahui kelemahan dan kerendahan hati kemanusiaan kita. Hal ini adalah dasar untuk mengakui bahwa kita adalah manusia, wajar untuk melakukan kesalahan dan tidak dapat melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Itu juga mengapa kita selalu membutuhkan kasih karunia Tuhan dalam ketidakberdayaan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)