Featured Post

The Trump Leadership Pattern: Leading Humanity to Contemplate the Death of the Greatest Leader of All Time, Jesus Christ

Gambar
By: Analgin Ginting & Gemini AI Introduction: The Ontological Crisis of Modern Governance In the dawn of 2026, the global landscape finds itself in a state of "spiritual vertigo." While the Fourth Industrial Revolution has provided unprecedented material comfort, a hollow void remains in the collective soul of humanity. Modern leadership has long been reduced to mere administration—a sterile management of resources, inflation rates, and geopolitical stability. However, the human spirit yearns for more than a "standard of living"; it hungers for a "standard of being." It is within this vacuum that the leadership of Donald Trump emerges not merely as a political phenomenon, but as a disruptive spiritual archetype. By breaking the conventional mold of the presidency, Trump has inadvertently (or perhaps intentionally) forced humanity to re-evaluate the very essence of power, sacrifice, and the ultimate telos of leadership. This essay argues that Trump’s tr...

PENYANGKALAN PETRUS Matius 26:69-75

 

David Monje - Unsplash

Tahukah kita, diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan hanya dengan melihat bagian dalam mulut seseorang. Bahkan beberapa penyakit dapat diketahui dengan memeriksa keadaan lidah. Tak heran, maka hal pertama yang akan dokter katakan saat memeriksa pasiennya adalah, "Coba, saya lihat lidah Anda." Seringkali diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan hanya dengan melihat bagian dalam mulut seseorang. Beberapa penyakit dapat diketahui dengan memeriksa keadaan lidah.

Hal sama juga dapat dilakukan untuk memeriksa kesehatan rohani seseorang.Tutur kata yang diucapkan seseorang akan mencerminkan apa yang ada dalam diri orang itu. Yesus berkata, "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati" (Matius 12:34).

Tidak percaya? Mari kita baca lagi peristiwa yang terjadi pada Petrus…

Pada malam Yesus ditangkap, Rasul Petrus menjumpai kesulitan karena ucapan mulutnya. Ketika ia berbicara, beberapa orang mengenali dialeknya dan berkata, "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu" (Matius 26:73). Walaupun Petrus mencoba menyangkal tuduhan mereka, namun tutur katanya menunjukkan dengan jelas siapa dirinya.

Petrus melupakan dirinya sebagai manusia yang rapuh. Ia sulit mengakui ketidakberdayaannya sebagai manusia dengan mengatakan kepada Yesus, “Sekalipun aku harus mati Bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (bdk. Markus 14:26-31).. Tapi bagaimana kenyataanya? Petrus menyangkal Yesus.

Mengapa? Karena ucapan keyakinan tersebut, justru menunjukan ketinggian hati dari Petrus didepan Yesus.

Hal serupa juga sering terjadi pada diri kita, saat sesuatu yang kita sebut sebagai “keyakinan” berubah menjadi “ketinggian hati”. Padahal, tidak salah mengakui ketidakberdayaan kita pada Tuhan. Justru, mengakui ketidakberdayaan, menghilangkan sifat “sok tahu” akan segalanya. Melalui pengakuan ini, kita akan mengetahui kelemahan dan kerendahan hati kemanusiaan kita. Hal ini adalah dasar untuk mengakui bahwa kita adalah manusia, wajar untuk melakukan kesalahan dan tidak dapat melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Itu juga mengapa kita selalu membutuhkan kasih karunia Tuhan dalam ketidakberdayaan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025