Featured Post

Surat Ukat, Endi-Enta, dan Soteriologi Calvin: Temuan Kontekstual Anugerah dan Perbuatan Baik

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting Abstrak ​Artikel ini mengeksplorasi korelasi antara filosofi hidup masyarakat Karo yang terekam dalam konsep Surat Ukat ( Endi-Enta ) dengan soteriologi Calvinis, khususnya mengenai doktrin anugerah Allah ( sola gratia ) dan perbuatan baik sebagai ucapan syukur ( gratitudo ). Melalui pendekatan teologi kontekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Karo menyediakan gambaran kultural yang tepat untuk memahami keterdahuluan anugerah Allah sebelum tanggung jawab etis manusia. I. Pendahuluan ​Masyarakat Karo memiliki pandangan hidup yang berakar kuat pada pemeliharaan kehidupan dan relasi sosial. Salah satu ekspresi filosofis yang terekam dalam budaya Karo—terutama melalui Surat Ukat (surat ucapan/ungkapan kehendak hati)—adalah dinamika relasional antara Endi (memberi) dan Enta (meminta respon/hasil) [1]. ​Dalam kehidupan sehari-hari, makanan berfungsi sebagai simbol utama pemeliharaan. Orang Karo percaya bahwa Tuhan ( Dibata ) adalah Pemb...

Percayakah Kamu, Akan Kehidupan Sebelum Kematian?

 

Percayakah kamu akan kehidupan setelah kematian? Sungguh? Syukurlah, bila engkau mempercayainya. Tapi saya ingin bertanya sesuatu yang sebalkinya. Percayakah kamu akan kehidupan sebelum kematian? Ataukah kita menjadi orang-orang mati yang sebelum “kematian datang? Menjalani kehidupan dengan terus menerus mengharapkan surga, tanpa pernah merasa ingin ada di dunia. Mengeluh tentang rasa sakit dan kecewa yang dunia berikan.

Percayalah, tidak semua orang mempercayai kehidupan sebelum kematian, karena Sebagian besar orang, bila menengok kembali hidup mereka setelah terbaring di peti mati, masih dan selalu berharap prioritas hidup mereka akan berbeda.

Percayalah, perbedaan antara orang hidup sebelum kematian dan orang yang mati sebelum kematian bukanlah terletak pada seberapa sering mereka memiliki suasana hati yang buruk atau seberapa parah perasaan buruk mereka, tetapi, sebaliknya, pada apa yang mereka perbuat bila mereka sedang berada pada suasana hati buruk dan suasana yang bahagia,

Percayalah, banyak orang yang mati sebelum kematian menghadapi kesusahan dengan menyingsingkan lengan baju dan berusaha mengenyahkannya. Mereka memperlakukan suasana hati mereka yang buruk dengan sangat serius dan berusaha mencari dan menganalisis apa yang salah. Mereka berusaha memaksa diri mereka keluar dari keadaan suasana hati yang buruk itu, yang cenderung akan menambah rumit masalah, bukan memecahkannya.

Sebaliknya, bila anda mengamati orang-orang yang mengalami kehidupan sebelum kematian; mereka akan merasa tenang dan tentram. Saudara akan mendapati bahwa bila mereka sedang merasa senang, mereka akan sangat bersyukur. Mereka memahami bahwa perasaan negative san positif datang silih berganti, dan akan selalu tiba saatnya ketika mereka merasa terlalu senang. Bagi orang-orang yang hidup sebelum kematian, ini tidak apa-apa, memang begitulah hidup ini berlangsung. Mereka menerima perasaan sepintas lalu yang tidak dapat dielakkan ini.

Percayalah, bila orang-orang yang mengalami hidup sebelum kematian merasa depresi, marah atau stress, mereka memperlakukan perasaan ini dengna sikap terbuka dan kebijakan yang sama. Bukan melawan perasaan ini dan menjadi panik hanya karena merasa tidak enak, mereka menerima perasaan ini, menyadari bahwa ini juga akan berlalu. Bukan tersandung dan jatuh melawan perasaan negative ini, mereka dengan tenang menerima perasaan ini. Sesuatu yang memungkinkan mereka dengan lembut dan tenang keluar dari perasaan negative menuju keadaan pikiran yang lebih positif.

Jadi, bagaimana dengan saudara? Apakah saudara adalah kumpulan orang-orang yang mati sebelum kematian datang atau saudara telah hidup sebelum kematian mendatangi diri saudara?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025