Featured Post

Merancang Arsitektur Pembinaan Spiritual: Menuju Transformasi Profesionalisme dan Keteladanan di GBKP

Gambar
  Oleh: Analgin Ginting Kondisi spiritualitas jemaat GBKP saat ini berada pada persimpangan jalan yang krusial. Pasca-pandemi, kita menyaksikan sebuah paradoks: di satu sisi kita merayakan euforia pemilihan pelayan (Pt/Dk), namun di sisi lain kita menghadapi penurunan partisipasi dan "kelelahan pelayanan" yang mengkhawatirkan. Spiritualitas sering kali terjebak dalam rutinitas liturgis yang kering, sementara Kerygma (pemberitaan) belum sepenuhnya meresap menjadi gaya hidup. Untuk menjawab tantangan ini, kita tidak bisa lagi mengandalkan metode konvensional. Kita membutuhkan transformasi fundamental yang menyentuh tiga pilar utama: Pemuridan, Keteladanan, dan Profesionalisme. 1. Krisis Integritas: Melampaui Euforia Periodisasi Kita harus jujur mengakui bahwa semangat pelayanan di GBKP sering kali bersifat fluktuatif—membara di awal pemilihan dan menjelang akhir periode, namun meredup di tengah jalan. Spiritualitas pemimpin adalah plafon bagi spiritualitas jemaat; jemaat tidak ...

Rasa” Menghidupi Panggilan di GBKP Bersama Pola Hidup Vegan dan Minimalis

 Joni Sembiring

Setiap waktu adalah kesempatan latihan, susah gampang itu bergantung pada terbiasa atau tidaknya diri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Sering kali untuk menjawab 1+1 saja malasnya minta ampun, bukan karena tidak tahu jawabannya tetapi karena memang tidak suka dengan bidang itu. 

Saya sendiri mencintai pola hidup vegan dan minimalis sebagaimana saya mencintai ajaran-ajaran welas asihNya Yesus di kitab suci. Saya suka banget, bahkan rasa penasaran terhadap ilmu vegan dan minimalis terus bermunculan. Proses menjadi vegan, yang ditakutkan sebenarnya adalah ketakutan di dalam pikiran. padahal kalau dijalani, tak ada hal yang menakutkan yang perlu ditakutkan. Mengalir saja! 

Mau di tempatkan di mana pun, risiko menjadi vegan dan minimalis selalu ada di depan mata. Serumit apa pun risiko itu, pada intinya risiko itu muncul dikarenakan orang sekitar belum paham atau baru tahu tentang gaya hidup vegan dan minimalis. Penolakan sering terjadi, namun menghidupi panggilan dengan cara ini membuat saya semakin penasaran dengan rasa pelayanan di Gereja. Risiko itu pun ada gunanya, diri terbentuk kekokohannya dikarenakan risiko itu sendiri. Berterimakasihlah pada risiko!

Sumber photo : https://www.instagram.com/jonisembiringv/

Hidup juga adalah tentang rasa. Menghidupi panggilan di GBKP bersama pola hidup vegan dan minimalis itu ada rasanya. Menghidupi panggilan tanpa membunuh hewan itu ada rasanya. Disebut kolot, tidak keren hanya karena pakaian saya itu-itu saja, juga ada rasanya. Namun pada intinya komitmen vegan dan minimalis saya diperkokoh di GBKP, dan ini pun ada rasanya. Rasa peduli jemaat dan teman sekerja, dukungan yang diberikan membuat saya sangat-sangat menikmati rasa syukur dan bahagia. Rasa syukur dan bahagia menolong saya dalam menghadapi pikiran dan perkataan negatif. Terang gelap, sehat sakit, positif negatif, itu ada gunanya.

 Refleksi yang saya petik dari rasa yang selama ini saya rasakan adalah: kalau ada dua bajumu beri satu pada orang yang tidak ada bajunya. Pengajaran ini menurut saya adalah pengajaran minimalisNya Yesus yang menenangkan banget. Yang terpenting bukan baju yang diberi tetapi tentang rasa keikhlasan berbagi, keikhlasan meminimaliskan diri. Saya ingat betul pesan almarhum Pdt. Agustinus Purba kepada saya tahun 2019 yang membuat saya semakin semangat menghidupi panggilan di GBKP,”Adi bagena la kap mesera ngasuhi kam, nakku! Tetap lanjutken ras semangat melayani!” Pelayanan akan tersasa ternikmati kalau dinikmati dengan rasa yang tepat. Rasa syukur dan bahagia adalah dua rasa yang tepat yang menjadi santapan saya setiap hari dalam menghidupi panggilan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025