Featured Post

Menara Babel Digital: Membedah Great Reset 2030 dalam Teropong Iman dan Kedaulatan

Gambar
   Analgin Ginting,  Seorang  Pt. Emeritus di GBKP  ​ Pendahuluan: Sebuah Jendela Peluang atau Jerat Tersembunyi? ​Dunia saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan. Pasca-pandemi COVID-19, sebuah narasi besar muncul dari koridor kekuasaan di Davos melalui World Economic Forum (WEF) yang disebut sebagai "The Great Reset". Narasi ini menjanjikan tatanan dunia baru yang lebih adil, hijau, dan berkelanjutan pada tahun 2030, selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) milik PBB. ​Namun, bagi mereka yang memiliki ketajaman rohani dan pemahaman akan kedaulatan, janji-janji manis ini menyisakan pertanyaan mendasar: Siapa yang sebenarnya memegang kendali? Dan di manakah posisi Tuhan dalam arsitektur masa depan ini? ​ I. Great Reset: Antara Ambisi Manusia dan Penisbian Tuhan ​Secara teknis, Great Reset adalah upaya merombak total sistem kapitalisme global menjadi "Ekonomi Pemangku Kepentingan" (Stakeholder Capitalism). Tujuannya terdenga...

Menanam Kebaikan

Kalau Anda seorang atasan, yang mempunyai bawahan.  Apa yang paling penting dilakukan oleh bawahan Anda  menurut Anda ?

1.     Bawahan mencapai target target pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan cara apapun.  Pokok e, target kerja harus tercapai.

2.     Bawahan berusaha mencapai target kerja (target pekerjaan nomor 2 setelah kebaikan) tapi harus dengan cara cara yang baik dan jujur sesuai dengan sistem nilai dan budaya perusahaan.

3.     Bawahan mencapai target pekerjaaan (harus mencapai) dengan cara cara yang baik dan jujur dengan mengimplementasikan system nilai dan budaya perusahaan.

Dari ketiga alternatif  diatas, pilihan  mana yang menurut anda harus dilakukan dan dilaksanakan oleh bawahan Anda? Pilihan Anda tentu saja sangat berkaitan dengan sistem  nilai Anda sendiri dan juga perusahaan dimana Anda bekerja. 





Perusahaan yang berorientasi keuntungan semata, pasti akan memilih nomor satu.  Perusahaan yang lebih mengutamakan kebaikan dan kejujuran daripada keuntungan finansial  akan memilih nomor 2 (namun saya duga tidak banyak perusahaan yang seperti ini).  Perusahaan yang menomor satukan keuntungan namun juga mempunyai system nilai dan budaya perusahaan yang  jelas dan baik akan memilihi pilihan nomor 3.

Gampang kah bagi para pemimpin menciptakan system kerja atau etos kerja yang akhirnya melahirkan pilihan  3  diatas ?  Nampaknya sederhana, namun pada kenyataannya akan sulit diciptakan,  Kalau pemimpinnya hanya fokus kepada hasil kerja tanpa mampu menyentuh sisi humanis dari bawahannya ini pasti sulit dilakukan.  Pemimpin yang mampu menciptakan kualitas seperti nomor 3 diatas harus lah pemimpin yang dapat dipercaya dan sekaligus  mampu menciptakan  rasa nyaman dalam diri anak buahnya

Pak Jokowi Menanam Pohon di Gunung Kidul . Sumber photo : Liputan6.com

Ringkasnya pemimpin itu harus lah terlebih dahulu menanam motivasi dan menanam kebaikan dalam diri semua anak buahnya.  Sebab motivasi akan menghasilkan produktivitas kerja dan kebaikan akan menghasilkan kebaikan dalam diri anak buah.  Jadi  produktivitas dan kebaikan yang akan diperoleh bawahan tidak terlepas dari  gaya dan karakter  sang pemimpin yang menjadi atasannya.

Ini lah pertanyaan paling penting. Sudah kah anda menjadi pemimpin yang menanam kebaikan kepada  anak buah Anda? Atau jangan jangan Anda lebih sering tidak puas dan marah kepada anak buah Anda?   Webinar Authentic Leadership akan membuka rahasia ini, sehingga Anda akan terdorong menjadi pemimpin yang menanam kebaikan.

Berbuat baik kepada bumi dimana kita hidup kita lakukan dengan menanam pohon. Berbuat baik kepada perusahaan dan kehidupan,  kita lakukan dengan menanam kebaikan. Segeralah ikuti webinar yang sudah diikuti hampir 300 orang dari seluruh Indonesia, dari semua level dan usia. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025