Featured Post

Menara Babel Digital: Membedah Great Reset 2030 dalam Teropong Iman dan Kedaulatan

Gambar
   Analgin Ginting,  Seorang  Pt. Emeritus di GBKP  ​ Pendahuluan: Sebuah Jendela Peluang atau Jerat Tersembunyi? ​Dunia saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan. Pasca-pandemi COVID-19, sebuah narasi besar muncul dari koridor kekuasaan di Davos melalui World Economic Forum (WEF) yang disebut sebagai "The Great Reset". Narasi ini menjanjikan tatanan dunia baru yang lebih adil, hijau, dan berkelanjutan pada tahun 2030, selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) milik PBB. ​Namun, bagi mereka yang memiliki ketajaman rohani dan pemahaman akan kedaulatan, janji-janji manis ini menyisakan pertanyaan mendasar: Siapa yang sebenarnya memegang kendali? Dan di manakah posisi Tuhan dalam arsitektur masa depan ini? ​ I. Great Reset: Antara Ambisi Manusia dan Penisbian Tuhan ​Secara teknis, Great Reset adalah upaya merombak total sistem kapitalisme global menjadi "Ekonomi Pemangku Kepentingan" (Stakeholder Capitalism). Tujuannya terdenga...

KIB Lanjut Atau Tidak Tergantung Reshuffle Kabinet

Coba kita perhatikan pergerakan KIB, begitu cepat dan lembut. Muncul tiba-tiba seolah-olah begitu yakin sekali bahwa kepentingan mereka sama.

Jika kita belajar dari sejarah pilpres 2014, ketiga partai memang sudah kompak, mereka adalah pendukung Prabowo-Hatta Rajasa dan mereka membelot dari posisi oposisi ketika mendapat tawaran posisi di kabinet dan sejumlah direksi di BUMN, serta jabatan lainnya. Karena besarnya dampak jabatan-jabatan publik tersebut dalam pencitraan partai maka pada pileg 2019 partai mereka lolos ambang batas parlemen 4% dan berhasil duduk di senayan. Walau seperti kita ketahui PAN kembali mendukung Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019 tersebut.

Sumber photo : https://nalarpolitik.com/

Pada awal tahun 2022 ini, partai Golkar dan PAN melakukan manuver cukup dahsyat ketika menggagas gerakan mendukung Jokowi 3 Periode, yang kita ketahui sangat didukung oleh Opung LBP. Gerakan ini belum tau sudah berakhir atau masih bergerak bawah tanah. Karena opung LBP mantan tentara yang jago strategi.

Setelah gerakan 3 Periode, partai-partai ini tiba-tiba melakukan deklarasi untuk berkoalisi  dalam pilpres 2024 dengan mengusung nama Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Jika melihat nama dan istilah koalisi ini menurut saya tidak jauh-jauh dari master mind di 2014 (Koalisi Indonesia Hebat) dan 2019 (Koalisi Indonesia Kerja). Mungkin ini episode ketiganya, Indonesia Bersatu kembali setelah terbelah selama 2 periode.

Koalisi Indonesia Bersatu, murni hanya untuk mengusung capres/cawapres 2024 dan apakah akan terwujud? Siapakah calon mereka? Tapi menurut saya, Koalisi ini hanya sebuah tekanan dan bargain politik kepada Jokowi, yang menurut desas-desus beberapa kali membatalin rencana Reshuffle Kabinet. PAN, merasakan sekali manfaatnya hadir dalam kabinet di periode sebelumnya sehingga bisa bertahan saat pilpres 2019. Dan saat ini mereka butuh itu. Apalagi partai sudah terbelah dua, sejak pendirinya Amien Rais keluar dan membentuk Partai Ummat. Demikian juga PPP berhasil lolos PT ketika berada dalam kabinet dan mendorong kadernya menjadi wapres 2019 walau posisi ini tak berdampak signifikan bagi mereka saat ini. Dengan kehadiran Partai Ummat dan ketokohan Amien Rais di akar rumput, bisa dipastikan akan menggerus suara PAN dan PPP di 2024. Jadi kelanjutan dan keberhasilan koalisi ini semua tergantung tanggal 15 Juni 2022 sebagai tanggal yang di tetapkan Mensesneg, Pratikno untuk Reshuffle Kabinet.

Jokowi masih melihat keseriusan dan kepatuhan KIB ini sebelum memutuskan jadi tidaknya Reshuffle Kabinet. Kalo patuh, artinya sudah ada sebuah kenderaan yang komplit dan memenuhi syarat untuk mengusung Capres/Cawapres yang diinginkan sebagai penerus kebijakan Jokowi. Bisa jadi, ini rangkaian dari simbol-simbol yang diberikan Jokowi saat Rakernas Projo 21/5, lanjut kemaren ketum Projo hadir di acara silaturahmi KIB 5/6, yang juga memberikan kesan, Jokowi masih melakukan screening terhadap keseriusan KIB. Jangan nanti setelah diberikan kursi di Kabinet, tujuan untuk memberikan jalan bagi capres/cawapres yang diinginkan malah tak jadi. Biasanya kegagalannya akan diawali dari perpecahan di internal partai itu sendiri. Mari kita tonton terus elite-elite kita main drama... Qiqiqiqiqiqi

Salam,

Mbah GWK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025