Featured Post

Surat Ukat, Endi-Enta, dan Soteriologi Calvin: Temuan Kontekstual Anugerah dan Perbuatan Baik

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting Abstrak ​Artikel ini mengeksplorasi korelasi antara filosofi hidup masyarakat Karo yang terekam dalam konsep Surat Ukat ( Endi-Enta ) dengan soteriologi Calvinis, khususnya mengenai doktrin anugerah Allah ( sola gratia ) dan perbuatan baik sebagai ucapan syukur ( gratitudo ). Melalui pendekatan teologi kontekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Karo menyediakan gambaran kultural yang tepat untuk memahami keterdahuluan anugerah Allah sebelum tanggung jawab etis manusia. I. Pendahuluan ​Masyarakat Karo memiliki pandangan hidup yang berakar kuat pada pemeliharaan kehidupan dan relasi sosial. Salah satu ekspresi filosofis yang terekam dalam budaya Karo—terutama melalui Surat Ukat (surat ucapan/ungkapan kehendak hati)—adalah dinamika relasional antara Endi (memberi) dan Enta (meminta respon/hasil) [1]. ​Dalam kehidupan sehari-hari, makanan berfungsi sebagai simbol utama pemeliharaan. Orang Karo percaya bahwa Tuhan ( Dibata ) adalah Pemb...

GBKP WILAYAH BALUREN SIBAYAK BICARA PEMBERDAYAAN EKONOMI JEMAAT

Ekonomi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Seiring perkembangan zaman, tentu kebutuhan manusia bertambah. Oleh karena itu ekonomi secara terus-menerus mengalami pertumbuhan dan perubahan. Menurut (Suwardjono, 2014) pertumbuhan memiliki definisi yang berbeda yaitu proses kenaikan output perkapita yang terus menerus dalam jangka panjang, sedangkan perubahan yang secara umum terjadi pada perekonomian yang dialami suatu negara seperti kemiskinan, dimana masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemiskinan sebagai akibat berkurangnya pendapatan masyarakat sehingga mengalami penurunan daya beli barang kebutuhan pokok secara umum. Akibatnya masyarakat tidak dapat hidup secara layak, jika hal ini ditangani dengan tepat maka suatu negara mengalami keadaan ekonomi yang stabil sehingga mempengaruhi kesejahteraan kehidupan penduduk yang ada di negara tersebut.

Pt Edison Bangun Saat berinteraksi dengan Jemaat

Namun, Peran Pemerintah di Negara berkembang seringkali dibatasi oleh berbagai isu krusial seperti aspek kebijakan, ketersediaan dana operasional, keterbatasan kapasitas lembaga dan sumberdaya pemerintahan, akses sosial, teknis pelaksanaan program dan jaringan pendukung keberlanjutan program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai sebuah permasalahan yang komplek, penanganan permasalahan tersebut membutuhkan peran multi pihak. Berbagai pendekatan dalam pembangunan masyarakat terbaru meyakini bahwa pelibatan komponen-komponen non pemerintahan menjadi sangat penting. Saat ini, banyak negara berkembang mendorong peran aktif kelompok masyarakat lewat berbagai organisasi kemasyarakatan dan LSM untuk berpartisipasi dalam program pemberdayaan masyarakat (Bäckstrand, 2006)

Mengingat hal ini, maka Pertua Edison Bangun bersama Majelis GBKP Runggun Doulu Kuta berinisiatif untuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pelatihan Pertanian Organik. Bahkan tidak berhenti pada itu saja, inisiatif ini juga direspon secara positif oleh Majelis GBKP Runggun Semangat Gunung dan Majelis GBKP Runggun Doulu Pasar.

Mamre dan Moria Mewakili GBKP Baluren Sibayak

Tepat pada tanggal 6 febuari 2021, pukul 15.00 WIB bersama dengan perwakilan jemaat dari ketiga Majelis ini, melakukan pertemuan bersama untuk menyepakati bentuk pelatihan-pelatihan pertanian Organik yang dibutuhkan oleh jemaat-jemaat. Salah satu kesepakatan yang diambil adalah pembentukan kelompok kelompok petani dari GBKP di Baluren Sibayak (Doulu Kuta, Doulu Pasar dan Semangat Gunung) dan kelanjutan pelatihan di tanggal 1 Maret 2021.

Pertemuan tersebut semakin interaktif dan bersemangat salah satunya karena dihadiri oleh perwakilan BPMK Klasis Barus-Sibayak yakni Pdt Jekson Pardede bersama Dr Rahmenda Sembiring. Sebagai pernyataan bahwa BPMK Klasis Barus-Sibayak ikut memberikan dukungan kepada Pertua Edison Bangun dan GBKP di Baluren Sibayak 

Adapun dari pertemuan ini, muncul beberapa harapan, seperti:

  1. Jemaat dapat terus didampingi secara berkelanjutan, sehingga benar-benar mampu memahami pertanian organik dan mengaplikasikan di lahan masing masing
  2. Jemaat yang berprofesi sebagai Petani di Baluren Sibayak dapat mengatasi masalah masalah yang muncul dari rantai perdangan. Sehingga harga jualnya lebih adil bagi petani. Salah satunya dengan difasilitasi dalam pasar digital maupun konvesional
  3. Sehingga, dari poin kedua tersebut; Jemaat akan memilki pengalaman belajar melalui eksperimen membangun SDM dan infrastruktur berbasis BIG DATA, yang merupakan aset luar biasa berharganya makin kedepannya. Ini jugalah yang dilakukan hampir seluruh startup-startup yang menjadi unicorn di banyak negara dunia. Juga menjadi modal men-solusi berbagai persoalan kompleks yang selama ini terjadi di lingkup pertanian, dimana lokomotif utamanya adalah tata niaga.
  4. Jika model eksperimen ini sukses, maka komunitas ini bisa memberkati community/society lainnya dengan membagikan pengalaman dari sistem pemberdayaan jemaat, masyarakat atau diakonia bersemangat Society 5.0 yang melampaui konsepsi Industri 4.0.

Terakhir, besar harapan GBKP di Baluren Sibayak untuk komunitas dan Lembaga lainnya, terkhusus seluruh orang karo yang ada di dalam Negeri ataupun Luar Negeri; ikut mendukung juga mensukseskan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025