Featured Post

Catatan Tambahan PJJ: 8 – 14 Maret 2026

Gambar
  Nas: Kejadian 23 : 10 – 20 Thema: Tempat Kita Bermusyawarah (Inganta Runggu) 1. Pendahuluan Kedewasaan berorganisasi dan bersekutu terlihat dari cara kita bermusyawarah secara tajam, efisien, produktif, namun penuh kasih serta visioner. Musyawarah bukan sekadar formalitas, melainkan ruang kedaulatan Tuhan di mana ide-ide kreatif lahir melalui keteraturan. Dalam tradisi iman, bermusyawarah adalah tanggung jawab spiritual untuk mencapai solusi yang bermartabat dan memiliki legalitas yang jelas.  2. Fakta Alkitabiah dan Perspektif Teologis Berdasarkan nas Kejadian 23:10-20, kita menemukan fakta-fakta fundamental dalam bermusyawarah: • Transparansi Publik: Musyawarah dilakukan di "pintu gerbang kota" dan disaksikan oleh semua orang. Secara teologis, ini adalah bentuk akuntabilitas publik. • Legalitas dan Etika: Abraham membayar harga pasar yang berlaku (400 syikal perak) untuk menjamin kepemilikan yang sah dan mencegah konflik di masa depan. • Perspektif John Calvin: Beli...

KEKRISTENAN: IMAN YANG IRASIONAL

 




Akhir-akhir ini saya sedang senang membaca buku “Revolusi Harapan” yang ditulis oleh seorang Filsuf dari Jerman, bernama Erich Fromm. Dalam bukunya tersebut, ia berbicara tentang Iman. Menariknya, dia membagikan jenis iman itu menjadi 2 bagian yakni; Iman Rasional yang berarti pergumulan batin seseorang dan Iman Irasional yang berarti ketundukan pada sesuatu yang diberikan begitu saja; orang menerima begitu saja sebagai benar tanpa menilai terlebih dahulu apakah itu benar atau salah.

Dengan pengertian tersebut, apakah mengimani Allah menjadi manusia termasuk dalam iman Irasional?

Tahukah saudara, hari ini ada begitu banyak orang yang harus diam dan menerima segala sesuatunya tanpa harus ia mengerti dan pahami. Ada begitu banyak orang yang dipaksa dan terpaksa menerima “Tuhannya”, dikarenakan orang tua dan sanksi sosial yang menekan.

Dalam perkuliahan, saya bagian dari orang-orang dengan pengalaman serupa. Sebab, beberapa kali akal dan pikiran mempertanyakan, siapa itu Yesus. Mengapa kita mempercayai manusia menjadi Tuhan? Mengapa ketika orang lain menyebut dirinya sebagai Nabi dan Tuhan kita menjadi marah dan kesal? Mengapa kita harus menerima tentang Allah menjadi serupa dengan manusia. Apakah, kita benar-benar sudah memahami keyakinan ini ataukah ini hanya sebatas formalitas dan warisan turun temurun yang diberikan orang tua kita? Atau kembali, iman kita adalah iman yang irasional, seperti kata Erich Fromm?

Dalam satu waktu, saya mempertanyakan beberapa hal ini dengan seorang pendeta. Dengan alamamter yang sama, diskusi pasti akan lebih mengasyikan pikiran saya. Namun, ekspetasi tidak sesuai dengan realitas. Beliau hanya memberikan jawaban sederhana untuk saya, Begini katanya;

Iman Kristen adalah Iman Melampaui Akal. KelahiraNya melampaui Akal, kematiaNya melampaui Akal dan kebangkitanNya juga melampaui Akal. Ya, Iman Kristen adalah iman yang irasional”

Saya kecewa dan sekaligus terkejut dengan pertanyaan itu. Satu sisi, saya kecewa karena tidak ada perdebatan yang panjang dengan jawaban tersebut. Sisi yang lain, saya terkejut ketika dia mengatakan bahwa Iman Kristen adalah Iman yang irasional.

Ketika semua pendeta berusaha menyederhanakan jawaban-jawaban untuk pertanyaan iman jemaatnya. Ketika semua pendeta berusaha membuat jawaban yang masuk akal agar kepercayaan kekristenan terlihat menjadi masuk akal dan mudah diterima logika. Tapi, dia justru memberikan dan menggaris bawahi tentang iman Kristen adalah iman Irasional.

Bagaimana, menurut saudara? Setujukah saudara tentang jawaban dari pendeta tersebut?

Saya yakin beberapa diantara saudara, mungkin tidak setuju dan sependepat dengan pandangan tersebut. Bahkan secara pribadi, dalam pelayanan juga sering kali saya berusaha untuk menjaga kepercayaan dan keinginan orang-orang untuk datang beribadah dengan menyederhanakan semua pertanyaan-pertanyaan iman dan tidak jarang Tuhan menjadi sederhana dan terbatas dengan jawaban-jawaban yang sampaikan kepada orang lain.

Tapi, dalam kesempatan ini mari kita berdiskusi dan bergumul tentang pertanyaan ini. Salahkah bila iman kita disebut irasional. Salahkah bila iman kita disebut sebagai sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh rasio, serta tidak dapat diungkapkan dalam konsep logis.

Tidak! Iman kita memang iman irasional, Tuhan tidak bisa kita sederhanakan dan konsepkan dalam pengertian kita yang terlalu sederhana. Bahkan iman kita menjadi rasional, justru karena kita menjadikannya sebagai pergumulan pribadi yang sering kita sebut pengalaman iman.

Itulah kebenaran, saat saudara menerimanya dan bergumul akan Kristus. Justru ketika saudara tidak pernah mempertanyakan dan mempergumulkannya. Saudara hanya masuk dalam kumpulan kumpulan orang yang membangun rumahnya diatas pasir. Ketika rumah itu diterpa angin, maka rumah itu akan roboh. Sebab dasarnya tidaklah kuat.

Seperti halnya dengan kehadiran Allah dalam rupa manusia (Yohanes 1:14-18), apakah saudara pernah mempertanyakan hal ini. Apakah saudara pernah menaruh rasa curiga tentang ayat ini?

Saya pernah menggumuli ayat ini, mempertanyakan dan menaruh curiga atas ayat ini. Sebab, bila kita masukkan dalam konsep sejarah. Maka Ajaran tentang manusia menjadi Tuhan, lebih dahulu dimiliki oleh pengikut-pengikut Krishna. Jangan-jangan kekristenan mengikuti ajaran tersebut? Bahkan pernah pula saya berdiskusi panjang dengan seorang Dosen Teologi, yang mengatakan,

“tidak ada satupun pengakuan yang terucap dari Yesus, dan mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Pengakuan itu justru lahir dari tafsiran dan pergumulan iman pembacanya”

Percayalah, bahwa saya telah menunjukkan beberapa ayat tentang tafsiran bahwa Yesus mengakui dirinya sebagai Tuhan. Tapi jawaban Dosen Teologi tersebut, tetap sama. Itu bukan pengakuan dari Yesus. Melainkan tafsiran dan pergumulan dari para pengikut-pengikutnya.

Pada titik inilah, saya menerima bahwa Iman kita menjadi Rasional dikarenakan pergumulan dan pengalaman pribadi kita. Atau sederhananya, “Saudara tidak bisa mengatakan dan memaksa orang lain menerima Yesus sebagai Tuhan. Tapi saudara bisa menunjukan bahwa Yesus adalah Tuhan dan telah lahir dan hidup dalam hidup saudara”

Seperti halnya Yohanes 1:14-18; untuk memperbincangkan teks ini dengan orang lain, saudara tidak bisa mempertanyakan dan memulai diskusi tersebut dengan pertanyaan “Apakah Allah menjadi manusia?”. Tapi saudara bisa berdialog dengan teks ini dengan pertanyaan, “Untuk apa Allah menjadi manusia?”

Ya, pertanyaan itulah yang memberikan makna dalam kehidupan saya. Sebab dari pertanyaan itu, saya memahami bahwa Allah itu Mahabisa. Ia dapat melakukan segala sesuatunya, seperti yang DIA inginkan. Bahkan tidak berhenti pada hal itu saja, dari teks ini saya mengerti tentang keselamatan bukan tentang hari nanti, tapi kehidupan saat ini. Dalam rupa manusia ia membagikan kesalamatan kepada banyak orang berdosa yang mati harapannya, dan mati kehidupannya karena stigma orang lain.

Sekarang, bagaimana pendapat saudara? Apakah Iman Kristen itu Rasional atau Irasional?

Komentar

Unknown mengatakan…
Rasional Pt

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025