Featured Post

Musuh Yang Kita Hadapi Tidak Selemah Yang Kita Bayangkan

Gambar
  ​ Oleh:  Pt. Em, Analgin Ginting ​Pendahuluan: Paradoks Pengenalan Diri ​Perjalanan spiritualitas manusia sering kali terjebak dalam dikotomi antara yang sakral dan yang profan. Namun, sebuah tesis mendasar yang diangkat oleh Dharma Pongrekun mengingatkan kita pada sebuah kebenaran kuno: mustahil bagi seseorang untuk beriman kepada Tuhan jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Iman tanpa pengenalan diri adalah sebuah fatamorgana intelektual, sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Jika kita tidak memahami siapa subjek yang percaya, maka objek kepercayaan itu pun menjadi kabur dan kehilangan esensinya. ​Dalam konteks teologi klasik, gagasan ini menemukan resonansi terdalamnya dalam pemikiran Yohanes Calvin. Calvin menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita sendiri adalah dua hal yang saling bertaut erat. Seseorang tidak dapat memandang dirinya secara jujur tanpa menyadari kehadiran Sang Pencipta, dan sebaliknya, seseorang tidak dapat mem...

Bahagia itu Tentang Kamu

 

Banyak orang Kristen yang mampu mengatakan “Aku masih memiliki sukacita dalam setiap masalah yang aku hadapi di dalam hidup ini” Alasannya jelas, PENYERTAAN TUHAN YANG TETAP SETIA. Kita masih memiliki harapan, bukan tanpa harapan sedikitpun. Itulah alasan untuk kita bersukacita.

Tapi apakah semua dapat memiliki pemikiran yang sama seperti ini? Tidak!

Coba pikirkan, betapa banyak masalah yang bisa datang hari demi hari. Betapa banyak hal yang setiap harinya kadang tidak sesuai dengan rancangan dan harapan kita. Ya, penyakit kadang-kadang timbul, dan sering lebih berat karena kita terfokus pada masalah-masalah itu. Banyak dari penyakit yang diderita oleh manusia adalah disebabkan tekanan mental. Dukacita, kekhawatiran, rasa tidak puas, sesal dan merasa bersalah, semuanya cenderung merusak hidup, mengundang kerisauan dan kematian. Bahkan tidak sedikit, orang menjadi sulit untuk menggerakkan alat motoriknya seumur hidup yang sebenarnya dapat menjadi baik jikalau mereka berpikir baik.

Tetapi, keteguhan hati, pengharapan, iman, belas kasihan, kasih memajukan kesehatan dan memperpanjang usia. Pikiran yang merasa puas, roh yang bergembira adalah menyehatkan tubuh dan menguatkan jiwa

Dalam ilmu kesehatan mengatakan bahwa dengan hati yang gembira bisa membuat tubuh mengeluarkan hormon endorvin yang buat sistem kekebalan tubuh meningkat dan itu akan membuat seseorang tidak mudah kenal penyakit, sangat sinkron dengan apa yang di katakan dalam Amsal 17;22 bahwa hati yang gembira adalah obat.

Pagi ini rasanya senang, namun dalam hitungan detik bisa saja membuat kita muram. Jika sudah demikian, gula pun bisa terasa pahit. Firman Tuhan pada saat ini mau mengingatkan kita bahwa situasi bisa saja berubah menjadi tidak ramah. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita memandang situasi tersebut dengan tetap berpikiran positif! lnilah yang membuat rumah sederhana menjadi rumah yang hangat. Pakaian yang biasa tetap membuat wajah berseri dan makanan yang apa adanya tetap menyehatkan tubuh kita.

“ Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya (Yes.40:29)”

Salah seorang mahasiswa Harvard Divinity School pernah mengucapkan satu kalimat terkait dengan banyaknya kekecewaan yang terkait dengan radikalisme akhir-akhir ini. Berhadapan dengan situasi itu, mahasiswa ini berkata bahwa pertama-tama yang terpenting bukanlah tentang kebaikan apa yang bisa kita iakukan di tengah perubahan meiainkan apakah kita tetap bisa menjadi pribadi yang tetap baik di tengah perubahan! Jadi, sebelum kita berambisi untuk melakukan kebaikan, jagalah diri kita terlebih dahulu agar dapat menjadi orang baik di tengah situasi kehidupan yang kadangkala tidak baik.

Sebab sering kali orang-orang berfikir bahwa kebahagian itu tentang sesuatu yang diluar diri mereka. Padahal pemikiran tersebut sangat keliru, kebahagian itu bukanlah tentang apa yang terjadi diluar diri kita. Tetapi apa yang ada dalam diri kita. Sebab semua hal yang baik sekalipun, juga akan menjadi buruk. Apabila cara pandang kita salah dalam melihatnya.

Photo By IG  @tettisitepu


 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025