Featured Post

Musuh Yang Kita Hadapi Tidak Selemah Yang Kita Bayangkan

Gambar
  ​ Oleh:  Pt. Em, Analgin Ginting ​Pendahuluan: Paradoks Pengenalan Diri ​Perjalanan spiritualitas manusia sering kali terjebak dalam dikotomi antara yang sakral dan yang profan. Namun, sebuah tesis mendasar yang diangkat oleh Dharma Pongrekun mengingatkan kita pada sebuah kebenaran kuno: mustahil bagi seseorang untuk beriman kepada Tuhan jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Iman tanpa pengenalan diri adalah sebuah fatamorgana intelektual, sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Jika kita tidak memahami siapa subjek yang percaya, maka objek kepercayaan itu pun menjadi kabur dan kehilangan esensinya. ​Dalam konteks teologi klasik, gagasan ini menemukan resonansi terdalamnya dalam pemikiran Yohanes Calvin. Calvin menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita sendiri adalah dua hal yang saling bertaut erat. Seseorang tidak dapat memandang dirinya secara jujur tanpa menyadari kehadiran Sang Pencipta, dan sebaliknya, seseorang tidak dapat mem...

MALAM TERAKHIR (Yohanes 13:1-17, 31-35)

 

Yesus mengetahui bahwa saat kematian-Nya telah tiba. Pada saat-saa
t terakhir itulah, Yesus mengungkapkan kasih kepada murid-murid-Nya sepenuhnya. Meskti ia tahu niat jahat Yudas Iskariot yang mengikuti dorongan Iblis untuk mengkhianati-Nya. Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah tidak dapat dikalahkan oleh kejahatan manusia. Peristiwa salib mengungkapkan di balik segala derita, bukan berarti Yesus kehilangan kuasa dan kasih-Nya, sebaliknya sebagaimana Ia datang dari Bapa dan kini saatnya kepada Bapa (ayat 1-3).

Secara sangat dramatis dan mengejutkan, Yesus menjadi seperti seorang hamba yang membasuh kaki murid-murid-Nya. Dramatis, sebab inilah tanda kasih yang mendalam; pekerjaan seorang budak diambil-Nya. Bahkan para murid belum pernah membasuh kaki Guru mereka, ataupun di antara mereka sendiri. Mengejutkan, hingga reaksi yang muncul adalah pertanyaan bagi Petrus. "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" (ayat 6). Dirinya merasa tidak pantas menerima perlakukan Yesus. Tetapi menolak pelayanan Yesus berarti menolak kasih Yesus. Petrus harus belajar karya kasih Tuhan tidak selamanya dapat dipahami, tetapi menerima dengan percaya adalah sikap iman yang benar. Tindakan pembasuhan kaki, yang dipandang rendah dan hina telah dilakukan Yesus justru menjadi gambaran bagaimana Ia akan direndahkan dalam kematian demi keselamatan umat kepunyaan-Nya. Justru dengan jalan inilah memungkinkan bagi kita untuk memperoleh ‘bagian di dalam Dia’ (ayat 8) dan memperolah ‘pembersihan dari dosa (ayat 10), jika kita memberi diri kita dibasuh oleh-Nya.

Dari sikap Yesus membasuh kaki murid-Nya, kita dapat memahami tentang kasih sejati Allah. Pertama, dalam situasi dimuliakan, Yesus justru merendahkan diri sedalam-dalamnya. Seperti pribadi yang sedang mencintai seseorang yang sakit, maka ia akan melayani dan melakukan pekerjaan yang paling rendah dengan penuh sukacita. Masih banyak orang yang merasa terlalu terhormat untuk melakukan hal-hal rendah, ataupun merasa terlalu tinggi untuk melakukan tugas-tugas yang kasar. Tetapi tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya menunjukkan pribadi Allah yang mulia atas segala sesuatu tetapi mau bertindak rendah bagi manusia yang dikasihi-Nya.

Kedua, kedekatan kepada Allah juga membawa semakin erat kepada manusia. Sekalipun Yesus yang datang dari Allah dan kembali kepada Allah, tidak membuat dirinya jijik terhadap manusia dengan segala perkara duniawinya. Kemuliaan Allah tidak memisahkan Yesus dari manusia. Tindakan pembasuhan kaki oleh Yesus kepada murid-murid-Nya mengajarkan bahwa tidak ada orang lebih dekat dengan sesamanya, daripada orang yang hidup dekat Allah.

Ketiga, Semakin dilukai, semakin mengasihi. Yesus sejatinya sadar bahwa diri-Nya sebentar lagi akan menerima pengkhianatan dari orang terdekatnya. Dan hal yang wajar bila setiap pengkhianatan menimbulkan luka hati dan kebencian. Namun kasih Yesus menampilkan justru semakin besar hingga meluap. Betapa sering dan mudahnya kita menjadi marah terhadap kesalahan dan menjadi benci terhadap orang yang menyakiti kita. Tetapi Yesus mengajarkan menghadapi luka dan pengkhianatan dengan kerendahan hati dan kasih yang begitu besar.

Akhirnya pembasuhan kaki juga menunjukkan bahwa kemuliaan kasih ditampilkan dalam kerendahan hati. Pelayanan adalah sebuah kehormatan dan kemuliaan. Bila dunia menuntut kebesaran diukur dari berapa banyak orang yang melayani kita. Tetapi Yesus menunjukkan kebesaran diukur dari berapa banyak orang kita layani. Sebab itu, para murid Yesus tidak boleh berpikir bahwa melayani merupakan suatu tindakan bernilai rendah, karena Sang Guru pun telah merendahkan diri untuk melayani mereka (ayat 15). Ingat ucapan Yesus seusai membasuh kaki para murid, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” (ayat 17).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025