Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 30 Agustus - 5 September 2026

Gambar
  Tema: Memilih Kata yang Bijak (Make Kata Si Payo) ​Bacaan Utama: Titus 2:1–8 ​1. Pendahuluan ​Lidah dan kata-kata memiliki daya pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan manusia—dapat membangun persekutuan atau justru menghancurkan kepercayaan. ​Rasul Paulus memberikan instruksi krusial kepada Titus agar setiap pemberitaan dan pengajaran jemaat senantiasa berakar pada ajaran yang sehat . ​2. Fakta Realitas Kehidupan ​Dalam realitas sehari-hari, ucapan yang ceroboh, fitnah, atau perkataan tanpa kendali sering kali menjadi batu sandungan dalam keluarga dan masyarakat. ​Dunia luar senantiasa mengamati konsistensi antara apa yang diucapkan oleh orang percaya dengan realitas karakter keseharian mereka di tengah dunia. ​3. Arti dan Makna Teologis ​Kata-kata sangat penting dalam memuliakan Tuhan, oleh sebab itu Paulus menekankan kemampuan memilih kata-kata yang bijak dalam pengajaran. ​Kata-kata harus sejalan dengan perbuatan, kebiasaan, dan tabiat; orang yang mampu...

Pemilihan Penghulu (Kepala Kampong) Tempo Doeloe

  Oleh 

M. Tempel Tarigan 

(Penulis Novel Jandi La Surong)

Antara tahun 1951 sampai dengan 1956, saat saya menceritakan ini, jumlah penduduk Tanjong Merawa berkisar 100-an KK. Kuta Tanjong Merawa adalah pantekken merga Singarimbun. Tetapi kapan kuta itu dipantek atau didirikan,  tidak ada datanya. Karena ini panteken Singarimbun, menurut adat waktu itu, yang  menjadi penghulunya haruslah merga Singarimbun.

Secara garis besar terpok Singarimbun ada dua:  Singarimbun Rumah Jahe dan Singarimbun Rumah Julu. Setiap sekian tahun berdasarkan arih-arih atau musyawarah anak kuta, akan dipilih siapa yang menjadi penghulunya.

Beberapa hari sebelum pemilihan diumumkan, anak beru kuta, muda-mudinya keliling rumah-rumah membawa gong penganak. Aku masih ingat, demikian cara penyampaian pengumumannya. Pong rumah enda penganak pun dipukul berkali-kali  untuk mengambil perhatian seisi rumah Waloh Jabu.

Man kam kerina anak jabu rumah enda. Pulong kita kerina ikesain kuta lako milih pengulunta simbaru ibas kesain. Waktu dan jamnya ditetapkan umumnya dung man berngi. Acara pemilihen penghulu  waktu itu diistilahkan saranen.

Pa Mbelgah, Salah Seorang  Pemimpin Karo Jaman Dulu : sumber photo http://www.sinabungjaya.com/


Acarapemilihan, biasanya diadakan di malam hari, di kesain sudah digelar amak atau tikar tempat duduk untuk tiap marga bersama anak jabuna. Tikar diatur mengelilingi lapangan acara, dan di tengah-tengahnya sengaja dikosongkan untuk panitia pemilihan, yaitu anak beru kuta yang sudah ditetapkan berdasarkan arih-arih.

Dengan diterangi lampu petromak, anak beru kuta bertindak sebagai jurinya atau komisi pemilihan umum, jika menggunakan istilah sekarang.

Acara dimulai dengan  hiburan  ndikkar atau pencak silat. Dua orang pemuda yang sudah dipilih langsung memasuki arena. Setelah sentabi ku perpulungen, kedua pemuda itu diadu ndikkar atau ermayan. Ndikkar-nya sangat menarik dan seru, karena baku pukulnya  betul-betul mengenai badan. Sorak-sorai pun terdengar gemuruh,  usai mereka berdua bersalaman yang menandai juga acara hiburan telah selesai.

Anak beru, kembali mengambil alih acara. Turang senina, bapa, nande, bibi, bengkila, mama-mami kerina, kita sipulong berngi enda. Begitulah  kurang lebih kata pembuka: “Hari ini  kita milih penghulu baru, kam arena  ise pilihendu ditunjuk ke arah masing-masing marga. Kami pilih si Anu, kam arena ditunjuk lagi ke arah marga lain ....”

Dan dijawab pula:

“Kami pe si Anu ena ...” dan serentak kompak secara aklamasi, hanya satu orang saja yang menjadi pilihan bersama. Kenapa bisa begitu? Karena sesungguhnya sebelum acara pemilihan, penduduk kuta sudah membicarakannya di mana-mana, baik di kedai-kedai, di pancuran, bahkan sampai ke arena judi .... Jadi beberapa hari sebelumnya, semua itu sudah jadi pembicaraan bersama.

Kandidat dipilih berdasarkan perilaku moral atau rekam jejaknya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Artinya orang yang dipilih biasanya sangat  dihormati anak kuta, dan masin rananna. Jadi pilihan berdasar moral.  Tidak ada model kampanye seperti sekarang, yang katakanlah penuh omong kosong, bujuk rayu atau  menjual janji-janji yang tidak pernah ditepati. Semua itu belum dikenal. Semua mengalir begitu saja, sesuai  adat dan kultur kita di kuta Tanjong Merawa atau kearifan lokal suku Karo.

 ...Bersambung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026