Featured Post

BANTULAH KAMI TUHAN, PRESBITER KAMI SEORANG NPD

Gambar
 Oleh   Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.  ​Bab 1: Pengantar ​Kepemimpinan dalam institusi keagamaan sering kali dianggap sebagai panggilan suci yang steril dari gangguan kepribadian. Namun, realitas sosiologis menunjukkan bahwa organisasi gereja tidak luput dari dinamika psikologis manusia yang kompleks. Ketika sebuah posisi otoritas moral diduduki oleh individu dengan gangguan kepribadian tertentu, esensi pelayanan dapat bergeser menjadi ajang pemuasan ego pribadi yang merusak sistem. ​Eksistensi Narcissistic Personality Disorder (NPD) di tingkat pimpinan puncak menciptakan tantangan yang unik bagi gereja arus utama. Di satu sisi, pimpinan tersebut sering kali memiliki karisma yang memikat jemaat, namun di sisi lain, terdapat pola perilaku otoriter yang menghancurkan semangat kolektivitas. Ketidakmampuan membedakan antara "suara Tuhan" dan "kehendak pribadi" menjadi garis tipis yang sering dilanggar dalam pola kepemimpinan seperti ini. ​Fenomena ini memerlukan ...

Pemilihan Penghulu (Kepala Kampong) Tempo Doeloe

  Oleh 

M. Tempel Tarigan 

(Penulis Novel Jandi La Surong)

Antara tahun 1951 sampai dengan 1956, saat saya menceritakan ini, jumlah penduduk Tanjong Merawa berkisar 100-an KK. Kuta Tanjong Merawa adalah pantekken merga Singarimbun. Tetapi kapan kuta itu dipantek atau didirikan,  tidak ada datanya. Karena ini panteken Singarimbun, menurut adat waktu itu, yang  menjadi penghulunya haruslah merga Singarimbun.

Secara garis besar terpok Singarimbun ada dua:  Singarimbun Rumah Jahe dan Singarimbun Rumah Julu. Setiap sekian tahun berdasarkan arih-arih atau musyawarah anak kuta, akan dipilih siapa yang menjadi penghulunya.

Beberapa hari sebelum pemilihan diumumkan, anak beru kuta, muda-mudinya keliling rumah-rumah membawa gong penganak. Aku masih ingat, demikian cara penyampaian pengumumannya. Pong rumah enda penganak pun dipukul berkali-kali  untuk mengambil perhatian seisi rumah Waloh Jabu.

Man kam kerina anak jabu rumah enda. Pulong kita kerina ikesain kuta lako milih pengulunta simbaru ibas kesain. Waktu dan jamnya ditetapkan umumnya dung man berngi. Acara pemilihen penghulu  waktu itu diistilahkan saranen.

Pa Mbelgah, Salah Seorang  Pemimpin Karo Jaman Dulu : sumber photo http://www.sinabungjaya.com/


Acarapemilihan, biasanya diadakan di malam hari, di kesain sudah digelar amak atau tikar tempat duduk untuk tiap marga bersama anak jabuna. Tikar diatur mengelilingi lapangan acara, dan di tengah-tengahnya sengaja dikosongkan untuk panitia pemilihan, yaitu anak beru kuta yang sudah ditetapkan berdasarkan arih-arih.

Dengan diterangi lampu petromak, anak beru kuta bertindak sebagai jurinya atau komisi pemilihan umum, jika menggunakan istilah sekarang.

Acara dimulai dengan  hiburan  ndikkar atau pencak silat. Dua orang pemuda yang sudah dipilih langsung memasuki arena. Setelah sentabi ku perpulungen, kedua pemuda itu diadu ndikkar atau ermayan. Ndikkar-nya sangat menarik dan seru, karena baku pukulnya  betul-betul mengenai badan. Sorak-sorai pun terdengar gemuruh,  usai mereka berdua bersalaman yang menandai juga acara hiburan telah selesai.

Anak beru, kembali mengambil alih acara. Turang senina, bapa, nande, bibi, bengkila, mama-mami kerina, kita sipulong berngi enda. Begitulah  kurang lebih kata pembuka: “Hari ini  kita milih penghulu baru, kam arena  ise pilihendu ditunjuk ke arah masing-masing marga. Kami pilih si Anu, kam arena ditunjuk lagi ke arah marga lain ....”

Dan dijawab pula:

“Kami pe si Anu ena ...” dan serentak kompak secara aklamasi, hanya satu orang saja yang menjadi pilihan bersama. Kenapa bisa begitu? Karena sesungguhnya sebelum acara pemilihan, penduduk kuta sudah membicarakannya di mana-mana, baik di kedai-kedai, di pancuran, bahkan sampai ke arena judi .... Jadi beberapa hari sebelumnya, semua itu sudah jadi pembicaraan bersama.

Kandidat dipilih berdasarkan perilaku moral atau rekam jejaknya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Artinya orang yang dipilih biasanya sangat  dihormati anak kuta, dan masin rananna. Jadi pilihan berdasar moral.  Tidak ada model kampanye seperti sekarang, yang katakanlah penuh omong kosong, bujuk rayu atau  menjual janji-janji yang tidak pernah ditepati. Semua itu belum dikenal. Semua mengalir begitu saja, sesuai  adat dan kultur kita di kuta Tanjong Merawa atau kearifan lokal suku Karo.

 ...Bersambung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025