Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 1 - 7 Maret 2026

Gambar
  BERUTANG UNTUK MENGASIHI (RUTANG ENGKELENGI) Berdasarkan � Teks: 1 Yohanes 4:11–21 Pendahuluan Dalam budaya Karo, istilah rutang bukan hanya berarti kewajiban ekonomi, tetapi juga kewajiban moral dan relasional. Kita mengenal hutang adat, hutang budi, hutang kekerabatan. Namun dalam terang Injil, Rasul Yohanes memperkenalkan satu jenis “hutang” yang jauh lebih tinggi: hutang kasih. Kasih bukan sekadar pilihan emosional, tetapi respons eksistensial terhadap kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi kita. Karena Allah mengasihi, maka kita berutang untuk mengasihi. Berutang untuk mengasihi bukanlah beban, melainkan identitas. Fakta Beberapa realitas yang kita lihat hari ini: Banyak orang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi relasi horizontalnya rusak. Kekristenan sering berhenti pada pengakuan iman, bukan pembuktian kasih. Ketakutan, kecemasan, dan pertimbangan duniawi sering lebih dominan daripada iman. Relasi antar saudara sering dipengaruhi kepentingan, logika untung-rugi, dan h...

CARI TAHU DULU / Matius 7:1-5

 


Di suatu negeri, tinggallah seorang kakek tua yang terkenal karena kebijaksanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasihat.

Suatu hari, datang ke situ, seorang pria muda. Sesampai di hadapan kakek, ia berkata, “Kakek, saya merasa tidak bahagia. Saya seorang pemarah dan punya emosi yang labil. Tolong saya, bagaimana cara mengendalikan emosi yang cepat terbakar dan tidak terkendali ini?”

Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek bijak berujar lembut namun tegas, “Anak muda, perhatikan baik-baik. Setiap kali kamu tersinggung, marah atau terpancing emosi, ingatlah ‘tujuh langkah kesabaran’. Kamu harus melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju lagi tujuh langkah. Lakukan hal tersebut tujuh kali berturut-turut, dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah kamu boleh berpikir dan mengambil keputusan untuk bertindak.”

Merasa mendapat nasihat yang luar biasa, pria muda ini yakin, masalah emosi sulit terkendali yang dideritanya pasti bisa terpecahkan.

Malam telah larut ketika ia sampai kembali di rumah. Dengan badan yang letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar.

Di dalam benaknya terbayang makan malam dan air hangat untuk mandi yang biasa disediakan oleh istrinya. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.

Saat melihat pemandangan seperti itu, kemarahan pun segera menguasai dan emosi pun membutakan akal sehatnya. “Istri yang tidak setia. Baru ditinggal sebentar saja sudah berani memasukkan orang lain ke kamar…!”

Dengan kemarahan yang meluap-luap, pria itu lantas berniat buruk. Tetapi, spontan dia teringat nasihat si kakek tua yang bijak, dan langsung  mempraktikkannya.

Sambil menghembuskan napas kemarahan, ia mulai menghentakkan kakinya sepenuh tenaga.

Suara hitungan segera terdengar, “Mundur tujuh langkah, satu-dua-tiga…! Maju tujuh langkah, satu-dua-tiga…!!” Kegaduhan itu pun akhirnya membangunkan sang istri.

Ketika istrinya bangun dan menyingkap selimut, betapa kaget sekaligus leganya pria itu karena ternyata yang menemani istrinya tidur adalah ibunya sendiri.

Detik itu juga rasa syukur terucap dari mulutnya yang bergetar. Ia telah berhasil mencegah satu tindakan emosional dan bodoh. Entah apa yang akan terjadi seandainya dia menuruti emosinya. Hidupnya pasti akan dirundung penyesalan seumur hidup.

Seperti halnya yang terjadi pada suami tersebut, dalam keseharian kitapun penilaian kita terhadap seseorang bisa saja salah.  Maka dari itu firman Tuhan melarang kita untuk menghakimi atau mengukur orang lain dengan ukuran kita, apalagi berdasarkan penampilan luarnya.  Yang berhak menilai manusia itu Tuhan, bukan sesamanya, karena ukuran kita menilai orang berbeda dengan penilaian Tuhan.  "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;  manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati."  (1 Samuel 16:7b).  Dalam kotbahnya Tuhan Yesus menasihati agar kita tidak terlalu memfokuskan diri pada hal-hal yang lahiriah (penampilan luar).  Berkenan dengan hal ini Tuhan Yesus menegur keras orang-orang Farisi,  "...sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran... di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan."  (Matius 23:27:28).  Ternyata penampilan luar seringkali menipu!

Memang kita tidak boleh meremehkan penampilan, namun itu bukan yang utama.  Alkitab dengan tegas melarang kita untuk menilai, menghakimi atau mengukur seseorang berdasarkan penampilan luarnya.  Yang berhak menilai seseorang adalah Tuhan, bukan kita

Karena itu, mencoba mengerti lebih dahulu menjadi sesuatu yang amat sangat penting dalam kehidupan kita dalam bersosial dengan orang lain. Bila kita ingin sosial yang berkualitas dan memuaskan, yang memperkaya kita dan orang lain, memahami orang lain adalah kunci utamanya.

Ingatlah mencoba mengerti lebih dulu bukanlah persoalan siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi inilah kunci dari sosial yang baik dan berkualitas. Bahkan bila hal ini terus dipraktikan, maka orang-orang yang ada disekitar kita merasa didengar dan dimengerti. Suatu hubungan yang akan memperkaya satu dengan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025