Featured Post

The Trump Leadership Pattern: Leading Humanity to Contemplate the Death of the Greatest Leader of All Time, Jesus Christ

Gambar
By: Analgin Ginting & Gemini AI Introduction: The Ontological Crisis of Modern Governance In the dawn of 2026, the global landscape finds itself in a state of "spiritual vertigo." While the Fourth Industrial Revolution has provided unprecedented material comfort, a hollow void remains in the collective soul of humanity. Modern leadership has long been reduced to mere administration—a sterile management of resources, inflation rates, and geopolitical stability. However, the human spirit yearns for more than a "standard of living"; it hungers for a "standard of being." It is within this vacuum that the leadership of Donald Trump emerges not merely as a political phenomenon, but as a disruptive spiritual archetype. By breaking the conventional mold of the presidency, Trump has inadvertently (or perhaps intentionally) forced humanity to re-evaluate the very essence of power, sacrifice, and the ultimate telos of leadership. This essay argues that Trump’s tr...

Catatan Tambahan PA PERMATA, Minggu : 8-14 Maret 2020



Bahan Alkitab :         Lukas 2 : 46-52

Thema              :        Cerdas  IQ, EQ dan SQ


Lukas 2 : 46 – 52

2:46       I bas wari si peteluken idapetina Jesus kundul ras guru-guru agama Jahudi i bas Rumah Pertoton. Ibegiken Jesus pengajaren guru-guru e janah isungkuniNa pe.

2:47      Janah adi nungkun guru-guru e man baNa mamang ate kalak kerina megi jabapNa si dem kepentaren e.

2:48      Orang tuana pe mamang atena ngidah Ia, jenari nina nandeNa man baNa, "O Anakku, ngkai maka bagenda perbahanenNdu man kami? Aku ras bapandu enggo ndarami Kam alu aru ate."

2:49      Erjabap Jesus man bana, "Engkai maka idaramindu Aku? La kin ietehndu Aku arus i rumah BapangKu?"

2:50      Tapi la iangka nande ras bapaNa kai si ikatakenNa e.

2:51     Jenari mulih Ia radu ras orang tuaNa ku Nasaret; ibegikenNa kata orang tuaNa. Kerina si enggo jadi enda itimbangken nandeNa i bas ukurna.

2:52     Jesus pe reh belinna dingen reh tambahna pemetehNa, janah reh tambahna pe ngena ate Dibata ras manusia man baNa


FAKTA

1.    Jesus Kristus sejak usia sangat muda mempunyai kegemaran berkumpul dan berdiskusi dengan Guru Guru Agama di Rumah Doa.  Jesus aktif bertanya kepada guru guru agama itu, dan juga selalu memberikan jawaban yang tepat tidak ditentukan oleh usianya yang masih sangat muda.  Jesus cerdas berdiskusi dan memberikan pandangannya.

2.    Pernah, Maria dan Jusuf mencari cari Jesus Kristus, karena asyik berdiskusi di Rumah Doa.  Maria menyampaikan perasaan cemas nya karena tidak melihat Jesus. Jesus menjawab bahwa “Dia harus di rumah BapaNYA”.  Maria tidak mengerti makna jawaban Jesus, namun dia simpan semua dalam hati.

3.    Jesus sangat menghargai orang tuaNya dan patuh akan nasihat orang tuaNya.  Jesus bertumbuh dan semakin dicintai Allah Bapa dan juga manusia.



MAKNA

1.     Pelajaran itu dimulai dari usia yang sangat muda.  Bahkan pelajaran yang paling menentukan dalam hidup diyakini adalah berkaitan dengan seuatu pelajaran spiritual, kemampuan mengendalikan diri dan karakter lalu pengetahuan secara umum. 

2.    Jesus adalah seseorang yang sangat cerdas secara sipirtual (SQ) , karena teman Dia diskusi adalah guru guru agama. Tentu pokok pokok diskusinya berkaitan dengan agama,iman, penerapan iman/karakter dll 

3.    Sebagai seorang anak Jesus juga sangat menyayangi kedua orang tuaNya bukti bahwa dia sangat berbudi luhur, mampu mengatur perasaannya (EQ) sejak kecil.

4.    Jesus berumbuh denga sempurna, baik dalam tubuh/ragaNYA, wawasan (IQ) keagamaanNYA, percaya diriNYA dan tentu saja dalam semua hal  lain

PENGKENAINA

·      Anak anak permata pun perlu meningkatkan kegemarannya dalam hal hal yang berhubungan dengan iman dan spiritualitas.  Kemampuan untuk melihat dan menghubungkan segala sesuatu denga TUHAN disebut SQ singkatan Spiritual Quotient (kecerdasan spiritual)

·      Anak Anak Permata harus mampu mengendalikan emosinya. Harus mampu memilih respon yang posistif saat berkomunikasi denga setiap orang.  Tidak cepat tersinggung, tidak cepat marah, tidak cepat putus asa, tidak cepat bosan, mampu mengatasi rasa malasnya mampu megatasi rasa takutya, mampu mengatasi rasa khawatirnya dan tidak pernah takut melakukan kebenaran. Inilah semua yang disebut dengan Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient /EQ)



·       Seperti Maria yang sangat bijak, yang tidak marah kalau anaknya memberikan jawaban yag sama sekali tidak dia mengerti, maka kaum orang tua pun harus mampu memperlakukan anak anaknya dengan penuh kerendahan diri dalam semangat belajar.   Majelis Gereja, dan orang orang yang lebih tua, perlu sekali berdiskusi denga anak anak Permata dengan nuansa yang sangat positif

Bujur ras mejuah juah kita kerina



Pt. Analgin Ginting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025