Featured Post

Refelksi 136 Tahun Perjalanan GBKP ; Ringkasan Buku Breath Becomes The Wind (Simon Rae )

Gambar
  Napas yang Menjadi Angin: Refleksi 136 Tahun Perjalanan GBKP Pt Em. Analgin Ginting M.Min.  Pengantar  ​Memasuki usia ke-136 tahun, ingatan kita tertuju pada mahakarya Simon Rae, "Breath Becomes the Wind" . Buku ini bukan sekadar catatan kronik, melainkan dokumentasi detak jantung para pionir di Buluh Awar yang rela "napasnya" hilang ditelan waktu agar Injil bisa menjadi "angin" yang menggerakkan kehidupan di Tanah Karo. Simon Rae memotret sebuah fase krusial: bagaimana penginjilan awal (1890-1941) berjalan begitu lambat dan sunyi, di mana selama 51 tahun perjuangan, jemaat yang tercatat hanya sekitar 3.000 orang. Angka kecil ini adalah bukti betapa beratnya meletakkan fondasi iman yang berakar pada kedalaman teologi dan pemahaman budaya yang autentik. ​Namun, sejarah kemudian mencatat lonjakan yang dramatis pasca kemandirian (1941) hingga medio 1990-an. Guncangan politik G-30 S PKI menciptakan kekosongan jiwa yang luar biasa di tengah masyarakat Karo,...

KEBAKTIAN MALAM YANG SANGAT MENEDUHKAN


Persiapan yang dilakukan oleh panitia Sidang Sinode ke 34 ini patut diacungi jempol, terutama dalam menyusun ibadah pagi dan malam hari. Ibadah malam misalnya pada dua malam terakhir ini dilakukan dalam bentuk Teize. Satu bentuk ibadah yang lebih memfokuskan kepada penghayatan. Mulai dengan pencahayaan yang dilakukan dengan mematikan lampu, namun ada salib dan cahaya lilin, pemilihan lagu-lagu yang bernuansa kontemplasi, serta kata-kata pemimpin liturgi yang sangat sahdu. Banyak peserta sidang mengatakan bahwa bentuk kebaktian seperti ini sangat mengena karena mengajak kita semua merenungkan kehidupan, baik secara rohani dan jasmani.

Disamping itu ada hal lain yang sangat membantu menenangkan seluruh peserta sidang, setiap 3 jam sekali diperdentangkan lonceng dari Chapel yang ada di lokasi retreat centre ini. Pada saat bunyi lonceng terdengar semua harus saat teduh, apapun yang dilakukan saat ini. Hal ini sangat membantu terutama saat perdebatan sengit sedang terjadi, karena pada saat lonceng semua harus dia, merenung dan berdoa.

Pada pergantian sesi selalu dinyanyikan lagu-lagu pujian yang berirama riang, baik lagu rohani maupun lagu lagu karo. Dan lagu yang paling banyak sering dinyanyikan karena paling "enak" adalah

Perbunga Dap-Dap
(Karangan Djaga Depari)

Sere pia ni gele-geleken
Meruah-ruah si regi-regi
Lagu kai gia ku endeken
Mejuah-juah simbegi-mbegi

Pepulung batang parira
Ku baba ku Brastagi
Enggo pulung kita kerina
Notokenca sangap encari aron

Enterem kuidah jelma bagi perbunga dap-dap
Mejile tuhu rupana payo nge sibar nitatap
Tapi perukurenna rembang kepe bagi kap kap
Di la mujiken bana la kal akapna terakap aron

Enterem kuidah jelma turang bagi perjabu tengah
kawes kemuhen rubat bage bagem akapna megah
Adi lawes ia nagani, nagani api ki rumah-rumah
Enggo keri penaganina tarumna cikurak janah ersumpah aron

Adi rubat ras teman senina, Em tandana la meteh ngena
Adi rubat kita ras turang, Em tandana pemeteh kurang
Adi rubat ras anak kuta, em tandana kita metuda
Adi rubat ras nande bapa, E Kebilangen kam man Dibata aron.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025