Featured Post

Bapa Kami, Guru Spiritual Kami

Gambar
Pada hari Selasa, 22 Januari 2026 lalu, kami telah mengantarkan bapa kami tercinta ke tempat peristirahatan sementaranya di dunia. Jenazah beliau dimakamkan di kuburan keluarga di desa kami. Pusaranya di Pendem Bulanjahe telah lebih dahulu ditempati oleh saudaranya, ayahnya (bulang kami), serta nenek tigan kami, Beru Tarigan Tendang, yang meninggal pada tahun 1978 dalam usia sekitar 55 tahun.  Ayah kami menjadi anak yatim sejak usia tujuh tahun, ketika ayahnya—bulang kami—meninggal pada tahun 1950. Sejak itu ia dibesarkan oleh ibunya serta bibi tengah dan bibi tuanya, Beru Ginting Munte, yang sangat menyayanginya, juga sangat menyayangi kami. Ayah kami bertumbuh di jalanan. Ia seorang single fighter. Sekolahnya hanya sampai SMP dan tidak tamat.  Sekitar tahun 1974 terbuka lowongan menjadi pegawai negeri di RSU Kabanjahe. Ayah mengikuti ujian persamaan setara SMP untuk memperoleh ijazah yang diperlukan. Dengan bantuan Dr. Batur Ginting, Kepala RSU saat itu, ia diterima menjadi ...

Hanya Presiden Jokowi yang Berani Memindahkan Ibu kota Negara

Ada sisi lebih dalam sisi lebih dalam,  pemindahan ibu kota yang diputuskan oleh Presiden Jokowi, yaitu kepemimpinan yang kuat (strong leadership). Bahwa hanya karena adanya kualitas kepemimpinan yang kuat yang dicirikan oleh visi yang jelas, kemampuan memengaruhi dan keberanian. Tanpa adanya tiga unsur ini, maka pemindahan ibu kota hanya sebuah wacana.

Pada tahun 2010 saya pertama kali menulis di Katmospir bahwa pemindahan ibukota (bisa dilihat disini) adalah satu satunya solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta.  Tidak berapa lama setelah tulisan itu, muncullah sebuah wacana yang dilontarkan oleh Presiden SBY untuk memindahkan Ibukota Pemerintahan.  Wacana itu sempat menjadi pembicaraan hangat namun tetap tidak ada langkah langkah kongkrit kearah itu. 

Pada tahun 2011 kembali lagi saya membuat sebuah tulisan yang intinya mengungkapkan kekecewaan saya terhadap Presiden SBY karena wacana pemindahan ibu kota semakin meredup. Pada tulisan itu saya mengingatkan bahwa Presiden SBY akan kehilangan kesempatan untuk menorehkan namanya dalam sejarah, karena jiwa penakutnya.  Bahkan saya menuliskan dibagian akhir bahwa jika  Presiden SBY tidak mengambil keputusan untuk memindahkan Ibukota, maka hal itu akan dilakukan oleh presiden berikutnya.

Dan benar, presiden berikutnya – Presiden Jokowi –yang mengambil keputusan untuk memindahkan ibu kota negara .   Mengapa Presiden Jokowi? Karena Presiden yang sangat humble ini memiliki visi yang jelas, punya kemampuan memengaruhi (influence) dan punya keberanian.  

Sumber Photo : https://kabar24.bisnis.com/

Pemindahan ibu kota negara yang populer dengan singkatan IKN, mirip dengan pendaratan manusia di bulan untuk pertama kalinya. Pada tahun 1963, presiden John F. Kennedy mencanangkan visi bahwa bangsa Amerika akan mengirim astronot ke bulan, padahal kemampuan ekonomi dan teknologi saat itu masih sekitar 30%. Benar saja, visi itu menjadi kenyataan di tahun 1969 ketika Neil Armstrong, Edwin Aldrin, dan Michail Collins mendarat di bulan. Hal itu terwujud karena semua elemen bangsa Amerika mendukung visi yang jelas tersebut.

Pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur mungkin saja punya daya dukung ekonomi dan teknologi sekitar 30-60% saat ini, namun visinya jelas, tujuannya pun sangat jelas yaitu untuk pemerataan ekonomi dan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Seharusnya dan seyogyanya  semua elemen bangsa ini saling mendukung, saling bekerja sama, saling berkolaborasi dan saling mengisi untuk mewujudkan rencana itu. Toh itu bukan rencana pribadi Jokowi, juga bukan untuk keagungan pribadi Jokowi. 

Wacana pemindahan IKN sudah ada sejak masa pemerintahan presiden Soekarno. Bahkan di akhir masa pemerintahan presiden Soeharto sempat dibicarakan pemindahan IKN ke Jonggol. Disusul kemudian pada tahun 2010 muncul wacana yang sama oleh presiden SBY dan dikongkritkan oleh presiden Jokowi.

Saya berani mengatakan, bahwa keputusan Presiden Jokowi untuk memindahkan IKN ini bukan sekedar meninggalkan legacy,  karena ide atau gagasan awal pemindahan ibu kota bukan dari Presiden Jokowi.  Tapi keberanian presiden Jokowi memindahkan ibu kota ini karena tujuannya yang sangat nyata untuk seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian, kita berharap seluruh elemen bangsa ini bersatu dan saling bekerja sama, saling menguatkan, saling mendukung untuk mewujudkan rencana besar ini.  Hidup Indonesia.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025