Featured Post

Nande Beru Tarigan Mengajar Kami Berteologi dalam Kelembutan

Gambar
 ​Kami tidak pernah menyangka akan kehilangan Nande Beru Tarigan secepat ini. Dalam doa-doa pribadi, kami terus memohon kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk membersamainya satu atau dua tahun lagi, atau bahkan lebih lama. Namun, Tuhan memiliki ketetapan yang berbeda. ​Hanya berselang sekitar lima bulan setelah kami menghantarkan ayahanda kami, Ginting Mergana, ke tempat peristirahatannya, Nande pun menyusul pergi menuju keabadian bersama Bapa di Firdaus. Air mata yang belum sempat mengering kini harus banjir kembali. Dalam waktu yang begitu singkat, kami lima bersaudara kini telah menjadi yatim piatu. ​Senandung Riang di Tengah Ujian ​Perjalanan kesehatan Nande sebenarnya mulai menurun sejak beliau mengalami stroke ringan pada tahun 2017—sembilan tahun yang lalu. Secara fisik, wajahnya tidak banyak berubah. Namun, tangan kirinya tak lagi bisa berfungsi dan kemampuan kognitifnya perlahan menurun. Meski begitu, keceriaannya tidak pernah pudar. Kami sekeluarga selalu berusaha ...

Antara Faisal Basri dan Presiden Jokowi

Apa sebenarnya tujuan berpolitik? Pertanyaan ini muncul sebagai respon tweet ekonom senior Faisal Basri yang sangat aktif mengkritik program pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur. Entah putus asa, entah bermaksud menarik perhatian, pada 11 Februari 2022 lalu, bang Faisal Basri berceloteh bahwa presiden Jokowi akan ditinggalkan oleh teman-teman politiknya begitu beliau tidak berkuasa lagi. Yang akan setia menemani pak Jokowi adalah rakyat yang secara tulus diperhatikan dan dibantu selama dua periode kepemimpinannya.

Merenungkan tweet bang Faisal Basri yang ramai dikutip media, saya pun akhirnya bertanya, apa sebenarnya tujuan pak Jokowi berpolitik atau berkuasa saat ini. Dengan sedikit modifikasi, pertanyaannya menjadi : “Apa tujuan pak Jokowi berkuasa sebagai Presiden Republik Indonesia?”

Apakah supaya semua teman politiknya tetap setia menemani dia selamanya? Atau supaya rakyat mau menemani dia sampai akhir usianya, sekalipun teman-teman politik meninggalkannya? Lalu, apa pula sebenarnya tujuan atau sasaran atau (maaf bang) agenda Faisal Basri mentweet?

Sumber Photo : https://galamedia.pikiran-rakyat.com/

Ada dua tokoh utama dalam hal ini: pak Jokowi dan bang Faisal Basri. Jujur saja, saya lebih memilih presiden Jokowi yang tulus ketimbang bang Faisal yang menurut saya lebih “cerdik”. Presiden Jokowi lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, sedangkan bang Faisal lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang kemudian menjadi staf pengajar di sana. Entah bagaimana latar belakang dan masa kecil bang Faisal yang membentuk karakternya, namun kita semua tahu bahwa presiden Jokowi mempunyai latar belakang keluarga yang sangat bersahaja. Bahkan suatu saat keluarga pak Jokowi bertempat tinggal di bantaran sungai dan hidup dalam kesederhanaan.

Saya yakin, karakter seorang anak terbentuk di masa ketika ia sedang tumbuh, yang pada gilirannya akan dipertontonkan dalam usia dewasa. Karakter pak Jokowi yang saya lihat adalah ketulusan, tidak mementingkan diri sendiri, berani membuat keputusan dan siap menerima risiko terburuk dalam hidupnya, menghormati orang lain, jujur dan mempunyai integritas.

Dengan karakter seperti ini, saya melihat bahwa tujuan pak Jokowi berpolitik adalah menerimanya sebagai bagian perjalanan hidup, melakukan kebenaran dan kejujuran serta berusaha semaksimal mungkin menolong rakyat, karena dari situlah pak Jokowi berasal. Dalam seluruh kiprah politik pak Jokowi, sejak wali kota, gubernur hingga presiden, kepentingan rakyat selalu menjadi fokus dari kekuasaannya.

Lalu …… apakah pak Jokowi akan takut ditinggalkan oleh teman-teman politiknya? Apakah pak Jokowi akan takut dan kesepian ditinggalkan oleh rakyat? Saya yakin, pak Jokowi tidak pernah memikirkan semua itu. Pak Jokowi akan memerintah sebaik mungkin. Agenda terpenting pak Jokowi adalah memastikan rakyat di Papua, di Pati atau di Liang Melas Datas mendapat perhatiannya. Selama waktu  masih ada, pak Jokowi akan memberikan yang terbaik untuk rakyat. Hutan-hutan sosial dibagikan untuk digarap oleh rakyat setempat. Sertifikat diberikan kepada rakyat untuk menolong mereka, bukan untuk mendapatkan popularitas. Yang dilakukan oleh presiden Jokowi barangkali sesuai dengan perkataan novelis, kritikus, esaias, politikus, dan orator Irlandia, George Bernard Shaw, Hidup bukanlah lilin singkat bagi saya. Hidup adalah serupa obor indah yang saya pegang saat ini, dan saya ingin membuatnya menyala secerah mungkin sebelum menyerahkannya kepada generasi mendatang.”

Kembali ke bang Faisal Basri, saya kira hanya dia yang tahu apa tujuan sebenarnya menulis tweet tersebut. Apakah secara tulus mengingatkan pak Jokowi, atau ingin menunjukkan kekeliruan pak Jokowi, entahlah. Kembalilah bang Faisal sebagai seorang ekonom senior.

Hanya saya juga teringat akan kata-kata bijak di dalam kitab Pengkhotbah, bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia di bawah matahari adalah sia-sia. Hidup manusia di dunia ini ibarat daun-daun kayu. Sebentar dia hijau dan sangat menarik, tapi tiba saatnya akan jatuh ke tanah busuk dan hilang. Hanya sekejap. 

Saya, sang penulis akan lenyap seperti dedaunan tadi. Pak Jokowi akan lenyap, bang Faisal akan lenyap, kita semua akan lenyap dan dunia ini akan diisi oleh anak-anak dan cucu-cucu kita. Pada saatnya, mereka pun akan lenyap juga, diganti lagi oleh keturunan mereka, begitu seterusnya. 

Jadi, benar semua sia-sia. Namun demikian, perlu kita ingat apa yang ditulis oleh George Bernard Shaw, selama saya hidup, saya ingin membuat obor itu menyala secerah mungkin, sebelum saya menyerahkannya kepada generasi mendatang.

Jangan-jangan yang dimaksud dengan menyala secerah mungkin itu adalah melakukan apapun dengan ketulusan dan kejujuran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ 10 – 16 Agustus 2025