Featured Post

Mengapa Aku Percaya Yesus Kristus Bangkit dari Kematian: Kedaulatan Ilahi di Atas Reruntuhan Narasi Manusia

Gambar
  Abstrak ​ Artikel ini menegaskan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah peristiwa sui generis yang tidak tunduk pada validasi atau negosiasi perspektif manusia. Dengan membedah kegagalan ontologis dari berbagai narasi penolakan—seperti teori substitusi, halusinasi, dan pencurian—penulis berargumen bahwa kebangkitan merupakan realitas primer yang ditenun oleh kehendak mutlak Sang Pencipta. Kebangkitan bukanlah sebuah hipotesis yang menunggu pembuktian manusia, melainkan sebuah aksioma ilahi yang menuntut penyerahan diri secara intelektual dan spiritual. ​ I. Pendahuluan: Kebangkitan sebagai Anomali Kosmis ​Kebangkitan Yesus Kristus sering kali ditarik secara paksa ke dalam ruang sidang empiris yang sempit, di mana manusia mencoba menghakiminya dengan alat ukur materialisme yang terbatas. Padahal, kebangkitan bukanlah sekadar peristiwa sejarah linier yang tunduk pada hukum sebab-akibat biologis, melainkan sebuah intervensi radikal Sang Pencipta ke dalam keterbatasan ruang da...

Adakah Pelajaran Yang Bisa Dipetik Dari Pertandingan Melawan Arsenal?

Apa akan jadinya jika seandainya tadi malam Kesebelasan Indonesia menang melawan Arsenal? Katakanlah misalnya 1-0 atau 2-1 untuk Indonesia. Apakah kemenangan itu akan mengangkat prestasi Indonesia? Apakah kemenangan itu akan menjadi jaminan untuk kemenangan Indonesia melawan China pada kelanjutan Piala Asia? Apakah kemenangan itu seketika akan mengangkat prestasi dan image positif kesebelasan Indonesia? Atau mungkinkah kemenangan itu akan mengangkat kepercayaan diri para pemain Indonesia yang disebut dengan Dream Team?


Sulit menjawab semua pertanyaan di atas bukan? Lalu apa jadinya dengan kekalahan telak 0-7 melawan Arsenal tadi malam? Adakah penambahan pengalaman bertanding? Jawabannya sudah pasti, tidak ada penambahan pengalaman bertanding. Yang sudah pasti yang lain, pertandingan tadi malam tidak menambah percaya diri para pemain Indonesia, namun sebaliknya menggoreskan suatu mimpi buruk yang dapat berakibat sangat fatal. Hilangnya gairah dan semangat untuk bermain bola dalam kualitas yang demikian tinggi.



 Pemain Arsenal Lukas Podolski Dijaga Dua Pemain Indonesia

Jika saat ini di survey satu persatu perasaan semua pemain nasional Indonesia yang bermain tadi malam, dan kita minta mereka menjawab secara jujur dan berani, maka kemungkinan mereka akan menjawab; “Jauh, kelas mereka jauh diatas kita”. Lalu kita mencoba menggali lebih dalam lagi, “dalam hal apa Anda merasa kalah?” Maka kemungkinan jawabannya akan mengalir dan sulit dihentikan; dalam teknik bermain, dalam ketenangan, dalam penguasaan bola dan penguasaan diri, dalam keakuratan menerima bola dan mengembalikannya kepada teman, dalam kerja sama tim, dalam stamina dan daya tahan bermain, dalam daya juang, dalam kemampuan membaca permainan dan melibatkan diri di dalamnya, dalam kreativitas bermain, dalam kesungguhan, dalam ketaatan bermain bola secara profesional, serta dalam menikmati permainan bola, dan lain seterusnya.


Kita bisa menyimpulkan bahwa kelas Arsenal dengan Kelas sepakbola Indonesia itu ibarat pemain catur yang ber Elo Rating 2700 dengan Non Master yang Elo Ratingnya masih dibawah 1000. Ibarat mengerjakan soal Fisika bagi seorang kelas 3 SMP dengan seorang mahasiswa Pasca Sarjana S3. Terlalu jauh bedanya. Terlalu dalam dan curam “jurang” pemisahnya. Dengan demikian saya melihat pertandingan tadi malam lawan Arsenal, dan juga selanjutnya lawan Liverpool dan Chelsea beberapa hari mendatang, tidak  ada artinya dalam rangkan peningkatan prestasi tim sepakbola Indonesia.


Kalau PSSI ingin meningkatkan prestasi kesebelasan nasional PSSI bukan latih tanding melawan tim kelas dunia seperti itu. Prestasi Tim Nasional Indonesia hanya bisa, sekali lagi HANYA bisa ditingkatkan dengan membenahi sistem kompetisi dan program pembinaan usia muda kita. Tim Tim Eropah termasuk yang paling lemah sekalipun belum satu level dengan tim nasional Indonesia. Oleh sebab itu pertandingan melawan tim tim Eropah atau Amerika Latin tidak akan ada gunanya, karena mereka terlalu kuat bagi tim nasional kita.


Lakukan dulu pembinaan, lalu raih prestasi perlahan lahan. Pada waktunya setelah ada peningkatan dalam waktu waktu yang cukup panjang baru kita bisa bertanding melawan mereka yang hasilnya dapat memberikan sebuah pembelajaran (Contohlah cara Jepang dan Korea Selatan). Kalau saat ini sampai 5 tahun kedepan,  kesebelasan Indonesia jika diminta bermain dengan salah satu Tim Eropah pasti hasinya hanya sebuah kejutan. Seperti keterkejutan ketua umum PSSI Djohar Arifin tadi malam, saat kemasukan 7 Gol.


Satu satunya pembelajaran yang bisa dipetik dari pertandingan tadi malam adalah cara Arsenal menghasilkan pemain pemain muda yang sangat berkelas. Hal itulah yang harus diserap dan diterapkan PSSI kedepan, yaitu cara mereka menghasilkan pemian muda seperti Thomas Eisfeld atau Chuba Akpom. Bagaimana cara melahirkan pemain dalam usia dibawah 20 tahun namun teknik bermain bola serta kemampunannya menciptakan strategi bermain demikian tinggi. Dan juga mampu mencetak Gol.


Bagaimana cara menghasilkan pemain muda yang mempunyai True Self Confident, bukan Inflated Self Confidence. True Self Confidence menurut ahilnya adalah kepercayaan diri yang datang dari keyakinan yang realistis dan ditunjukkan dari bukti serta kemampuan yang nyata dan sulit terbantahkan. Sedangkan Inflated Self Confidence, adalah kepercayaan diri yang muncul dalam benak seseorang padahal prestasi sebenarnya belum menunjukkan apa apa. Jadi, seandainya pun menang melawan Arsenal atau nantinya Liverpool atau Chelsea, maka pengalaman itu hanya melahirkan Inflated Self Confidence bagi pemain Indonesia. Kepercayaan diri yang palsu dan akhirnya menyesatkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025