Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 1 - 7 Maret 2026

Gambar
  BERUTANG UNTUK MENGASIHI (RUTANG ENGKELENGI) Berdasarkan � Teks: 1 Yohanes 4:11–21 Pendahuluan Dalam budaya Karo, istilah rutang bukan hanya berarti kewajiban ekonomi, tetapi juga kewajiban moral dan relasional. Kita mengenal hutang adat, hutang budi, hutang kekerabatan. Namun dalam terang Injil, Rasul Yohanes memperkenalkan satu jenis “hutang” yang jauh lebih tinggi: hutang kasih. Kasih bukan sekadar pilihan emosional, tetapi respons eksistensial terhadap kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi kita. Karena Allah mengasihi, maka kita berutang untuk mengasihi. Berutang untuk mengasihi bukanlah beban, melainkan identitas. Fakta Beberapa realitas yang kita lihat hari ini: Banyak orang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi relasi horizontalnya rusak. Kekristenan sering berhenti pada pengakuan iman, bukan pembuktian kasih. Ketakutan, kecemasan, dan pertimbangan duniawi sering lebih dominan daripada iman. Relasi antar saudara sering dipengaruhi kepentingan, logika untung-rugi, dan h...

SINTUA HASIAN SIHOMBING


Bahwa Paulus dan Silas pernah dikriminalisasi, melalui sebuah fitnahan mematikan yang sangat cerdas. Lalu didera dan siksa bahkan dimasukkan kedalam penjara. Di dalam perjalanan mereka ke Makedonia, bertemulah dengan seorang penenung wanita yang nampaknya sangat mengenali Tuhan Yesus. Wanita penenung inilah yang dengan teriakannya selalu berkata : "Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan."

Sambil mengikuti Paulus dari belakang dia melontarkan teriakannya kepada semua orang yang melihat Sang Rasul. Dan hal itu berlangsung beberapa hari lamanya. Sangat mengganggu, karena itu adalah kata-kata kosong yang keluar hanya melalui mulut dan bibir si wanita, bukan dari otak kesadarannya apalagi kemurnian hatinya. Sampailah kepada titik batas kesabaran kemanusiaan Paulus, maka dia segera menghadap si wanita penenung dan dengan suara ketegasan manusia yang sudah diurapi menghardik kepada roh yang merasukinya : "Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini”. Seketika itu juga keluarlah roh itu, meninggalkan si perempuan dalam kelunglaian disertai rasa malu bercampur marah.

Persoalan nampaknya selesai, tapi bukan, karena inil baru awal penderitaan. Si wanita penenung hanyalah alat pencari uang beberapa lelaki yang dari tadi mengawasi. Begitu roh setan itu keluar, hilanglah “kesaktian” si wanita. Tidak mampu lagi meramal masa depan apa lagi nomor toto gelap. Hilanglang sumber uang masuk. Rasa geram dan marah memancar dari mata dan tangan para lelaki yang menjadi tuannya. Marah kepada Paulus dan Silas, lalu mereka mengoyakkan pakaian yang melekat dibadan Rasul, menyeretnya ditengah keramaian untuk dibawa menghadap penguasa. Direkayasa kesalahan mereka untuk didera dan akhirnya dimasukkan ke dalam penjara. Karena mata pencaharian syirik mereka diganggu oleh kebenaran, dan Nama Yesus Kristus.

Sintua Hasian Sihombing bukanlah Paulus dan bukan juga Silas. Tapi penyiksaan yang mereka alami sama, karena menyatakan kebenaran. Kebenaran didalam mempersembahkan hidup mereka dalam melakukan ibadah kepada Sang Kasih. Paulus dan Silas disiksa berawal karena wanita penenung dihardik roh setan-nya. Sintua Sihombing, ditusuk dan terbaring lemah, membuktikan kesetiannya kepada Kristus Sang Pembawa Damai. Berbedakah kedudukan si wanita dengan si penusuk? Atau sebaliknya, kedudukan mereka sebenarnya sama. Hanya menjadi alat dari nafsu-nafsu bejat beberapa orang yang merasa dirinya lebih terhormat?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025