Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 26 April - 2 Mei 2026

Gambar
  Allah Yang Awal dan Akhir: Kompas Iman di Tengah Badai Dunia ​ I. Pengantar: Menghadapi Narasi Ketakutan Dunia ​Dunia hari ini seolah sedang merawat ketakutan massal. Krisis global, ketidakpastian ekonomi, dan dominasi narasi dari "orang-orang kuat" dunia menciptakan atmosfir kecemasan yang mencekam. Namun, teks Wahyu 1:4-8 hadir bukan sekadar sebagai pengingat sejarah, melainkan sebagai pernyataan apokaliptik yang 100% relevan dengan realitas saat ini. Di tengah gempuran kuasa duniawi yang fana, kita dipanggil untuk mengalihkan pandangan kepada Satu Kuasa yang absolut dan kekal, menjadikannya satu-satunya panduan utama dalam langkah hidup sehari-hari. ​ II. Fakta Alkitabiah (Wahyu 1:4-8) ​Berdasarkan nas tersebut, terdapat beberapa pilar fakta yang mengukuhkan posisi umat beriman: ​ Sumber Damai: Salam kasih karunia datang dari Allah Tritunggal—Dia yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang; dari tujuh roh di hadapan takhta-Nya; dan dari Yesus Kristus. ​ ...

KEBERANIAN


Darimanakah lahirnya sebuah keberanian, yang tidak hanya membedakan orang orang penakut dengan para pahlawan pembela kebenaran. Adakah keberanian itu dihasilkan oleh sejenis makanan tertentu, atau itu hasil dari suatu proses pembelajaran jangka panjang, atau juga karena pengalaman hidup yang mengkristal dalam darah dan nafas?

Keberanian yang menjadi harta tak ternilai orang yang berani, bukanlah cara yang dipakai untuk mendapatkan apa yang diingini, bukan juga kemampuan mengeluarkan kalimat-kalimat menggelora yang membuat orang tertunduk lunglai, bukan juga strategi komunikasi yang membuat orang lain menerima argumentasi kita. Keberanian bukanlah cara untuk mempertahankan dan memperpanjang hidup. Tapi keberanian itu adalah Stefanus.

Yang berani menerima kebenaran yang dikatakan para Rasul, Yang dengan rendah hati melakukan mujijat-mujijat yang dirancang dari sorga, yang dengan akal sehat bersedia mengiklankan dan mempertahankan kebenaran Kristus dijalan-jalan ramai dan juga mahkamah . Dengan fasih menyampaikan salah satu pidato terbesar dan terbaik sepanjang masa, yang menjelaskan sejarah keterlibatan Allah dalam Bangsa Jahudi dan umat manusia, yang tidak menolak bahkan menerima dengan gagah berani putusan sirik Mahkamah Jahudi agar dirinya dilempari batu, lalu diberi hadih khusus dan satu-satunya untuk melihat sorga dan Kemuliaan Allah yang sejajar dengan Yesus Kristus, yang pada akhirnya menutup mata dengan penuh kemenangan diatas tumbukan batu yang telah menghujam tubuhnya. Dan seketika diudara menyebar satu kata, yang menjadi ciri pembeda manusia; pemberani atau penakut. The winner or the looser.

Stefanus adalah keberanian, dan keberanian adalah Stefanus. Yang menjadi awal pergerakan ke segala penjuru para pembawa kebenaran dan berita paling menggembirakan kepada manusia, khususnya yang “merasa” tertindas Dosa. Yang memotivasi Para Murid menyebar dari Jerusalem ke Judea dan Samaria, sampai ke Ujung Bumi, sampai ke lima benua, sampai ke Asia dan akhirnya Gunung Sinabung. Keberanian yang dipancarkan dari kematian Stefanus tercium dan terlihat oleh Saulus, yang kelak membuat hatinya remuk redam dan hampa tak berujung, kalau tidak memberitakan Firman Sang Awal Kehidupan.

Diinspirasi dari Kisah Para Rasul Pasal 6 dan 7.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025