Featured Post

Teologi Pemilihan Pemimpin Dengan Sistem Undi Dan Kemungkinan Penerapannya di GBKP

Gambar
Sebuah Artikel Teologi masuk ke dalam Akun WA ku, dikirim oleh seorang abang yang sangat saya hormati yaitu Prof  Dr Ir Cipta Ginting, Guru Besar Universitas Lampung.  Beliau semasa aku masih kuliah  di IPB menjadi asisten dosen agama Kristen Protestan, dan kami sampai sekarang tetap berkomunikasi dalam level tertinggi.    Mendapatkan sebuah kiriman artikel dari seorang abanganda yang sangat dihormati tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya.  Segera saya baca dan dan mengajak diskusi Artificial Inteligent (Gemini AI) dan berikut ini lah ringkasannya A. Substansi Dan Relevansi Artikel Berdasarkan artikel berjudul "Membuang Undi Menemukan Pemimpin: Analisis Plus Minus Sistem Undi Pemilihan Pemimpin Dalam Kisah Raja Saul" oleh Jhon Marthin Elizon Damanik dan Binsar Jonathan Pakpahan, berikut adalah ringkasan substansi, kesimpulan, dan evaluasi mengenai sistem undi tersebut: ​1. Substansi Artikel ​Artikel ini membahas penggunaan sistem undi ( goral )...

Bagaimana Kalau Anda Diteriaki "Anjing!"

Dapatkan Anda berubah karena perkataan orang lain?   Maksudku, jika ada seorang berkata bahwa Anda adalah seorang yang kurang tampan, apakah Anda menjadi orang yang kurang tampan?  Misalnya wajah Anda persis mirip Bradd Pitt atau Tom Cruise, lalu sekelompok orang mengatakan bahwa wajah Anda mirip (maaf) beruk.  Apakah Anda akan menjadi orang yang mempunyai wajah seperti beruk (maaf) ?


Atau seorang yang mengatakan bahwa Anda sangat kaya, padahal uang Anda hanya secukupnya,  dapatkah Anda menjadi orang kaya?  Orang mengatakan Anda kurang setia, pembohong, atau apa saja yang negatif.  Mungkin hati Anda akan panas, namun sejujurnya anda tidak akan berubah menjadi seperti yang dikatakannya.



Tatkala orang banyak mengkritik Anda, namun Anda hidup dengan prinsip yang benar,  sebenarnya tidak perlu lah sakit hati.  Orang memfitnah pun tidak akan ada dampaknya apa apa kalau kita tetap setiap hidup sesuai dengan nilai nilai kebenaran yang kita miliki.


Eleanor Roosevelt pernah berkata, bahwa seseorang tidak mungkin menyakitimu tanpa seijinmu.  Artinya kita akan sakit hati terhadap kritikan atau fitnahan orang lain, jika kita mengijinkannya.  Jika pikiran kita membenarkan fitnahan orang lain itulah yang akan membuat kita merasa sakit.  Selanjutnya besar kemungkinan kita akan membalas dengan bantahan ataupun dengan mencari cari kesalahan orang lain itu.   Membalas kritikan dengan kritikan, membalas fitnahan dengan fitnahan atau pun membalas rasa sakit (yang kita ijinkan) dengan tindakan fisik berupa memukul atau menampar orang lain itu, hanya bisa terjadi kalau kita memilih seperti itu.


Jadi sebenarnya yang menentukan adalah pikiran kita.  Ada info masuk ke dalam diri kita melalui panca Indra, masuk ke otak turun ke hati, kembali ke otak,  lalu otaklah yang membuat kesimpulan.  Jika otak tidak sempat membuat kesimpulan, langsung masuk ke hati kita, maka hati bisa panas, sakit, benci dan dendam.


Misalkan  Anda sedang mengendarai sepeda motor Anda dengan kecepatan lumayan tinggi di tempat sepi.  Lalu dari depan pengendara sepeda motor yang lain datang berpapasan dengan Anda. Saat persis di dekat Anda dengan suara agak kencang dia berkata “ Anjing….”.  Pikiran Anda kalau tidak mampu diolah otak akan langsung merasa sakit hati.  Mungkin saja Anda berbalik mengejar dia dan bahkan memukulnya.


Namun kalau Anda sempat berfikir mungkin Anda akan bertanya apa maksudnya? Bisa saja di depan Anda , di tempat yang sudah dilalui oleh pengendara yang dari depan tadi ada bangkai anjing yang banyak sekali di jalan.  Atau pun bisa saja ada anjing  lepas yang dapat menghambat perjalanan Anda.


Jadi masalah kita sebenarnya ada dalam pikiran kita masing masing.  Ada pikiran yang terbiasa reaktif, bereaksi jika ada aksi.  Bereaksi jika ada stimulus, atau rangsang atau informasi dari luar diri kita.  Dan biasanya keputusan orang yang terbiasa reatif  lebih sering menjurus kepada negatif.  Akhirnya membalasa dengan kritikan atau kemarahan.  Marak sekarang dalam media sosial memberi  komentar atau merespon dengan cara yang reaktif ini. 


Namun ada juga pikiran yang proaktif.  Proaktif artinya pikirannya tidak ditentukan oleh stimulus atau aksi dari luar dirinya.  Tapi pikirannya lebih banyak ditentukan oleh nilai nilai atrau prinsip hidup yang dimilikinya.  Orang yang berfikir seperti ini, tidak akan pernah merasa sakit hati atau disakiti.  Karena bagi dia, pilihannya ditentukan oleh dirinya sendiri.  Anda bisa berkata jelek kepadanya, namun dia berifikir dan membalas dengan kebaikan, seperti misalnya mengucapkan terima kasih.


Contoh lain adalah  : Anda berkata bahwa saya bego.  Namun saya berfikir mungkin pikiran anda sedang butuh perhatian, lalu saya menjawab , terima kasih mungkin Anda salah alamat.  Sebab baru beberapa waktu yang lalu sepuluh orang teman mengatakan saya sangat normal cenderung cerdas. Hahahha.


Jadi teman teman sekalin pikiran kita yang menentukan tindakan kita, perasaan kita, ataupun respon kita.  Orang yang terbiasa berfikir proaktif, akan menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri.  Dia tidak akan pernah sakit hati kepada siapapun, karena dia selalu punya pikiran ataupun sudut pandang yang lain.  Jadi saya berksemipulan bahwa untuk menghilangkan kebiasaan melakukan cyberbully adalah dengan melatih diri berfikir proaktif.  Setujukah teman teman  sekalian?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025