Featured Post

Refleksi 136 Tahun GBKP: Menjemput Jati Diri yang Tercecer

Gambar
  Oleh Pt. Em Analgin Ginting Pengantar   Menjelang usia ke-136 pada 18 April 2026, GBKP berdiri di persimpangan jalan yang krusial. Perjalanan ini tidak boleh dilepaskan dari sejarah besar dunia, di mana kita juga dipanggil untuk mengenang kembali peristiwa Reformasi Gereja sekitar 500 tahun yang lalu. Semangat Sola Scriptura, Sola Gratia, dan Sola Fide yang dikobarkan para reformator seharusnya menjadi cermin untuk melihat sejauh mana GBKP hari ini masih setia pada jalurnya, atau justru sedang mengalami pengikisan kualitas teologi dan spiritualitas yang mengkhawatirkan. Krisis integritas kini kian nyata ketika pelayanan mulai bergeser menjadi sekadar karier profesional. Fenomena "urban-sentris" di kalangan pendeta menjadi luka terbuka; di mana hasrat menetap di kota besar demi fasilitas telah menciptakan jurang spiritual dengan jemaat di pelosok desa. Jika desa-desa terpencil yang merupakan rahim sejarah GBKP kini dianggap sebagai "tempat pembuangan", maka kita te...

Jangan Simpan Marahmu, Jadikan Aku Sebagai Pelampiasannya.

Selembar surat yang ditulis oleh Abraham Lincoln ditemukan di tumpukan buku buku perpustakaannnya, beberapa puluh tahun setelah dia meninggal. Surat itu berisi kemarahan nya kepada seorang jenderal pembantunya, yang salah strategi dalam perang. Dia ungkapkan kekecewaannnya kepada si jenderal namun surat tersebut tidak pernah dikirimkan.

Manusia punya rasa marah dan rasa kecewa. Bawahan kecewa kepada atasan, atasan juga kecewa dan marah kepada bawahan. Biasanya jika atasan yang marah dia berani memarahi bawahannya. Ada dengan cara yang baik namun kebanyakan dengan emosinal, sehingga si bawahan bisa menyimpan dendam dalam hati.

Marah atasan yan baik adalah marah dengan alasan yang logis, dan disampaikan dengan terkontrol. Robby Djohan menurut para mantan bawahannya sering bilang “Jantjuk” kalau lagi marah. Namun anak buahnya senang, sebab sadar kalau Pak Robby mempunyai alasan yang sangat logis untuk marah. Apalagi marahnya Robby Djohan disertai dengan bimbingan kepada bawahannya, bukan karena emosional. Jadi wajarlah beliau bisa menghasilkan orang orang hebat seperti Emirsyah Satar dan Agus Martawardoyo, Direktur Utama Garuda dan Menteri Keuangan yang sekarang.




Bagaimana kalau bawahan yang marah kepada atasan? Si bawahan akan menyimpannya, dan pura pura tidak ada masalah. Dia akan berlaku seperti biasa, mengerjakan pekerjaannya untuk mempertahankan kedudukannya. Sebab kalau ada bawahan yang memarahi atasan, dia langsung bisa dipecat. Sebab ada aturan bahwa melawan atasan artinya melawan perusahaan. Namun positifkah kalau kekecewaan atau kemarahan disimpan?

Banyak hal negatif yang bisa muncul, seperti perasaan stress, rasa benci yang diekspresikan dengan pura pura, serta ketidak efektifan pekerjaan. Lama kelamaan kalau si bawahan sudah tidak bisa menahan diri sebagian besar akan mundur dari tempatnya bekerja. Temuan para Human Resources Manager mengatakan penyebab seseorang pindah kerja atau keluar dari pekerjaan 80 persen karena tidak cocok dengan atasan. Sebaliknya juga, jika ada bawahan yang kariernya naik terus sebagian besar karena dia mempunyai atasan yang baik, dan penuh perhatian kepada bawahannya. Contoh Robby Djohan, TP Rachmat, dan Inget Sembiring (Mantan Presdir Astra Ghrapia)

Rasa marah atau kecewa memang harus diungkapkan supaya seseorang tidak menyimpan dendam dalam hatinya, yang kelak bisa merugikan diri sendiri. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah mencontoh Abraham Lincoln dengan menulis surat yang tidak dikirimkan. Seorang bawahan bisa menuliskan semua kekecewaannya kepada atasannya namun jangan pernah dikirimkan. Dalam pelatihan yang saya adakan baru baru ini ternyata hampir semua peserta mempunyai kejengkelan kepada atasannya. Setelah menulis surat tensi kejengkelan itu berkurang, karena seolah sudah dilampiaskan. Katarsis kata ahli ahli psikologi

Cara yang lain adalah si atasan membuka diri untuk menerima masukan dari bawahannya. Cara yang kedua ini bisa membuat hubungan atasan dan bawahan lebih dekat secara emosional serta hubungan kerja pun lebih profesional. Seolah si atasan berkata, “jangan simpan marahmu jadikan aku sebagai pembentuk kedewasaanmu”. Anda mau jadi atasan tipe ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025