Featured Post

Kesalahan Tak Disadari: Bahaya Berpikir Dangkal dan Pasif bagi Pendeta dan Presbiter

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.  ​Dalam dinamika pelayanan gereja, kita sering kali mengukur "kejahatan" atau kesalahan kepemimpinan dari skandal-skandal besar yang tampak di permukaan: korupsi keuangan, penyimpangan moral, atau ajaran sesat. Namun, ada bentuk bahaya lain yang jauh lebih halus, destruktif, dan merayap perlahan merusak tatanan gereja tanpa disadari—yaitu kedangkalan berpikir dan sikap pasif dari para pelayan-Nya (Pendeta dan Presbiter). ​1. Akar Konsep: "Kejahatan Karena Kedangkalan Berpikir" ​Filsuf Hannah Arendt dalam karyanya Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963) mempopulerkan konsep “the banality of evil” (kebiasaan/kedangkalan kejahatan). Ia menemukan bahwa kerusakan massal sering kali tidak dilakukan oleh sosok monster yang penuh niat jahat ( malice ), melainkan oleh manusia-manusia biasa yang enggan berpikir kritis, apatis, dan mematikan daya refleksinya. ​Dalam konteks gereja, fenomena ini berkelindan de...

Jangan Simpan Marahmu, Jadikan Aku Sebagai Pelampiasannya.

Selembar surat yang ditulis oleh Abraham Lincoln ditemukan di tumpukan buku buku perpustakaannnya, beberapa puluh tahun setelah dia meninggal. Surat itu berisi kemarahan nya kepada seorang jenderal pembantunya, yang salah strategi dalam perang. Dia ungkapkan kekecewaannnya kepada si jenderal namun surat tersebut tidak pernah dikirimkan.

Manusia punya rasa marah dan rasa kecewa. Bawahan kecewa kepada atasan, atasan juga kecewa dan marah kepada bawahan. Biasanya jika atasan yang marah dia berani memarahi bawahannya. Ada dengan cara yang baik namun kebanyakan dengan emosinal, sehingga si bawahan bisa menyimpan dendam dalam hati.

Marah atasan yan baik adalah marah dengan alasan yang logis, dan disampaikan dengan terkontrol. Robby Djohan menurut para mantan bawahannya sering bilang “Jantjuk” kalau lagi marah. Namun anak buahnya senang, sebab sadar kalau Pak Robby mempunyai alasan yang sangat logis untuk marah. Apalagi marahnya Robby Djohan disertai dengan bimbingan kepada bawahannya, bukan karena emosional. Jadi wajarlah beliau bisa menghasilkan orang orang hebat seperti Emirsyah Satar dan Agus Martawardoyo, Direktur Utama Garuda dan Menteri Keuangan yang sekarang.




Bagaimana kalau bawahan yang marah kepada atasan? Si bawahan akan menyimpannya, dan pura pura tidak ada masalah. Dia akan berlaku seperti biasa, mengerjakan pekerjaannya untuk mempertahankan kedudukannya. Sebab kalau ada bawahan yang memarahi atasan, dia langsung bisa dipecat. Sebab ada aturan bahwa melawan atasan artinya melawan perusahaan. Namun positifkah kalau kekecewaan atau kemarahan disimpan?

Banyak hal negatif yang bisa muncul, seperti perasaan stress, rasa benci yang diekspresikan dengan pura pura, serta ketidak efektifan pekerjaan. Lama kelamaan kalau si bawahan sudah tidak bisa menahan diri sebagian besar akan mundur dari tempatnya bekerja. Temuan para Human Resources Manager mengatakan penyebab seseorang pindah kerja atau keluar dari pekerjaan 80 persen karena tidak cocok dengan atasan. Sebaliknya juga, jika ada bawahan yang kariernya naik terus sebagian besar karena dia mempunyai atasan yang baik, dan penuh perhatian kepada bawahannya. Contoh Robby Djohan, TP Rachmat, dan Inget Sembiring (Mantan Presdir Astra Ghrapia)

Rasa marah atau kecewa memang harus diungkapkan supaya seseorang tidak menyimpan dendam dalam hatinya, yang kelak bisa merugikan diri sendiri. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah mencontoh Abraham Lincoln dengan menulis surat yang tidak dikirimkan. Seorang bawahan bisa menuliskan semua kekecewaannya kepada atasannya namun jangan pernah dikirimkan. Dalam pelatihan yang saya adakan baru baru ini ternyata hampir semua peserta mempunyai kejengkelan kepada atasannya. Setelah menulis surat tensi kejengkelan itu berkurang, karena seolah sudah dilampiaskan. Katarsis kata ahli ahli psikologi

Cara yang lain adalah si atasan membuka diri untuk menerima masukan dari bawahannya. Cara yang kedua ini bisa membuat hubungan atasan dan bawahan lebih dekat secara emosional serta hubungan kerja pun lebih profesional. Seolah si atasan berkata, “jangan simpan marahmu jadikan aku sebagai pembentuk kedewasaanmu”. Anda mau jadi atasan tipe ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025