Featured Post

Surat Ukat, Endi-Enta, dan Soteriologi Calvin: Temuan Kontekstual Anugerah dan Perbuatan Baik

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting Abstrak ​Artikel ini mengeksplorasi korelasi antara filosofi hidup masyarakat Karo yang terekam dalam konsep Surat Ukat ( Endi-Enta ) dengan soteriologi Calvinis, khususnya mengenai doktrin anugerah Allah ( sola gratia ) dan perbuatan baik sebagai ucapan syukur ( gratitudo ). Melalui pendekatan teologi kontekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Karo menyediakan gambaran kultural yang tepat untuk memahami keterdahuluan anugerah Allah sebelum tanggung jawab etis manusia. I. Pendahuluan ​Masyarakat Karo memiliki pandangan hidup yang berakar kuat pada pemeliharaan kehidupan dan relasi sosial. Salah satu ekspresi filosofis yang terekam dalam budaya Karo—terutama melalui Surat Ukat (surat ucapan/ungkapan kehendak hati)—adalah dinamika relasional antara Endi (memberi) dan Enta (meminta respon/hasil) [1]. ​Dalam kehidupan sehari-hari, makanan berfungsi sebagai simbol utama pemeliharaan. Orang Karo percaya bahwa Tuhan ( Dibata ) adalah Pemb...

Negeri Bertabur Bencana

Beragam bencana lahir di negeri ini
Mulai dari bencana yang murni terjadi karena faktor alam, sampai bencana yang diakibatkan oleh manusia. Bahkan ada juga bencana yang diputuskan untuk dialamkan.
Semua bencana menelan korban, memutuskan hidup banyak orang. Mati.

Ada banjir, ada gempa bumi dan tsunami, ada letusan gunung api, tanah longsor sampai banjir lahar dingin.
Tabrakan kereta api, mobil terguling di jalan tol, bus masuk jurang, pesawat jatuh dan jatuh lagi, kapal tenggelam,rumah rumah terbakar.

Yang paling aneh adalah ada lumpur yang meluap dilokasi pertambangan, menggelora menenggelamkan ribuan rumah dan pusara, serta menenggelamkan kebenaran dan kepedulian.
Namun kembali terdengar ada bencana yang lebih aneh lagi, ada jembatan yang runtuh. Meruntuhkan seluruh kejujuran dan ketulusan untuk berbakti pada negara dan rakyat tercinta.

Masih kah akan ada bentuk bencana yang lebih aneh lagi?
Teman, kemana kita harus mencari jawabnya? Aku pilu dan merasa tersiksa sekali melihat nestapa di negeri ini. Bingung, tidak ada kepastian dan harapan pun menghilang.

Namun ada satu yang pasti, tidak cukup kita bertanya kepada rumput yang bergoyang.
Karena jawabnya ada pada nurani para pemimpin yang sudah runtuh dan tenggelam. Hilang.
Dan sulit untuk didapatkan kembali. Kalaupun dicari yang ditemukan hanyalah mayat mayat korban yang sukar untuk diidentifikasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025