Featured Post

Refleksi 136 Tahun GBKP: Menjemput Jati Diri yang Tercecer

Gambar
  Oleh Pt. Em Analgin Ginting Pengantar   Menjelang usia ke-136 pada 18 April 2026, GBKP berdiri di persimpangan jalan yang krusial. Perjalanan ini tidak boleh dilepaskan dari sejarah besar dunia, di mana kita juga dipanggil untuk mengenang kembali peristiwa Reformasi Gereja sekitar 500 tahun yang lalu. Semangat Sola Scriptura, Sola Gratia, dan Sola Fide yang dikobarkan para reformator seharusnya menjadi cermin untuk melihat sejauh mana GBKP hari ini masih setia pada jalurnya, atau justru sedang mengalami pengikisan kualitas teologi dan spiritualitas yang mengkhawatirkan. Krisis integritas kini kian nyata ketika pelayanan mulai bergeser menjadi sekadar karier profesional. Fenomena "urban-sentris" di kalangan pendeta menjadi luka terbuka; di mana hasrat menetap di kota besar demi fasilitas telah menciptakan jurang spiritual dengan jemaat di pelosok desa. Jika desa-desa terpencil yang merupakan rahim sejarah GBKP kini dianggap sebagai "tempat pembuangan", maka kita te...

Pekan Penatalayanan 2020 Berngi : 1 sipemena



Kotbah     : Kuan-kuanen 4:20-27

Thema      : Teridah min Sinalsal Kinibujuren Ukurndu
                    (Spiritualitas Pribadi: Dalam rangka Jubilium GBKP)

Khotbah Kuan Kuanen 4 : 20-27

4:20   O, anakku megermetlah dengkehken rananku. Begiken kai si kukataken.

4:21   Ola pelepas rananku sirang ras kam, ingetlah katawari pe dingen bunikenlah i bas pusuhndu.

4:22   Man kalak si ngantusisa datca kegeluhen dingen kejuah-juahen.

4:23   Manjar-anjar kam rukur, sabap perukurenndu kap si mabai dalan kegeluhenndu
.
4:24   Ola ndigan pe belasken kata la tuhu; pedauhlah i bas kam nari kata guak dingen ranan si mahanca kalak papak.

4:25   Teridah min arah matandu sinalsal kinibujuren ukurndu; tatap ku lebe alu la pada mela-mela.

4:26   Ukurkenlah mbages-mbages ope denga idalankenndu maka kai pe si ilakokenndu tuhu mehuli jadina.

4:27   Sada jingkang pe ola kam nilah i bas dalan si benar nari.


.
FAKTA

1.     Kuankuanen pasal 4 ini memberikan sebuah ajar atau nasihat dari penulis untuk orang orang muda.

2.     Pada bagian awal ada penekanan bahwa seorang anak mendengarkan nasihat dari orang tuanya, dan orang tua memberikan nasihat itu kepada anaknya.

3.     Dikatakan bahwa orang mendengar ,mengerti dan menjalankan nasihat adalah orang yag selalu selamat dan berhasil (kejuah juahen)

4.     Suara hati adalah penentu semua tindakan, oleh sebab itu perlu sekali mendengar suara hati dan menjalankannya di dalam praktek hidup.

5.     Selanjutnya adalah aturan untuk melakukan tindakan tindakan baik dan menjauhi tindakan tindakan yang tidak/kurang baik

a.     Tidak mengucapkan perkataan yang tidak benar, gombal
b.     Terlihat dari sinar mata, cahaya kejujuran hati
c.      Tidak malu malu, dan tatap kedepan Percaya diri
d.     Berfikir lah lebih dalam sebelum memutuskan.
e.     Sada jingkang pe ola nolih ibas si benar nari  

MAKNA

1.     Seorang manusia memerlukan Nasihat dalam hidupnya supaya dia mempunyai pertimbangan baik buruk dalam menentukan pilihan pilihannya, supaya juga dia mempunyai perspektif moral dan perspektif teologis  dalam hidupnya.

2.     Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk memberikan ajar/nasihat kepada anak anaknya, dan anak anak pun wajib mendengarkan nasihat dari orang tuanya tanpa ada bantahan.

3.     Hubungan keluarga, hubungan antar manusia haruslah berisi ajaran supaya secara social punya kepekaan untuk menentukan dan merealisaikan tujuan tujuan dalam hidup.

4.     Kehidupan seseorang yang mempunyai pengajaran akan lebih baik, lebih bermakna.  Dan TUhan menginginkan agar kehidupan setiap orang itu mempunyai makna atau nilai.  Hidup yang mempunyai nilai/makna adalah hidup yang disyukuri dan menimbulkan rasa senang. bagi diri sendiri maumpun orang lain

5.     Hati manusia adalah tempat bersemayamnya kebenaran dari Tuhan.  Oleh sebab itu diperlukan waktu dan momentum untuk bertanya kepada hati sanubari, khususnya saat saat memilih /memutuskan keputusan yang berdampak besar.



PENGKENAINA

·       Harus ada waktu bagi setiap orang untuk merenungkan dalam dalam pilihan pilihannya dalam hidup. Pada saat seseorang merenungkan hidupnya, disitulah dia menemukan ajar/nasihat yang pernah diberikan kepada dirinya sendiri.  Orang yang tidak pernah mendengar/menyimak nasihat adalah orang yang sulit, malas melakukan renungan batin.

·       Saat ini sangat terasa, bahwa masyarakat kita tidak mempunyai sumber ajar, tidak mempunyai Firman Tuhan yag tersimpan dalam hatinya. Akibatnya pandangan hidup menjadi pragmatis, dan mengharapkan semua datang secara instan.  

·       Kepada orang tua BERILAH  AJAR/NASIHAT atau FIRMAN TUHAN  kepada anak anak kita supaya  kelak mereka mempunyai ketahanan batin saat ada persoalan hidup.  Saat saat seseorag dipersimpagan jalan, dia akan mengingat ingat semua nasihat dan harapan yang pernah disampaikan kepada dirinya.

·       Kebiasaan merenung dalam perspektif teologis serta kesenangan instropeksi diri dan berdoa kepada TUHAN adalah spiritualitas yang harus dimiliki dan dijalankan setiap orang. Amin 

Bujur ras mejuah juah kita kerina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025