Featured Post

CATATAN KHOTBAH ​Minggu, 25 Oktober 2026

Gambar
 ​ Tema: Bersaksi Tentang Tuhan ( Naksiken Kerna Tuhan ) ​ Nas Khotbah: Kisah Para Rasul 1:6–11 ​ I. PENDAHULUAN   ​Kita hidup di sebuah era ketika Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi digital dapat menjawab hampir segala pertanyaan manusia, memprediksi tren masa depan, bahkan mensimulasikan realitas. Namun, di balik kecanggihan teknologi ini, muncul dua krisis eksistensial yang besar: ​ Disorientasi Masa Depan ( Futuristic Anxiety ): Manusia semakin terobsesi ingin mengontrol masa depan—memprediksi algoritma pasar, nasib, dan kepastian hidup—namun justru semakin kehilangan arah dan ketenangan. ​ Krisis Otentisitas Saksi: Di era fake news , deepfake , dan informasi serba instan, dunia tidak lagi kekurangan data , melainkan kekurangan saksi hidup —pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh memantulkan kebenaran, kasih, dan pengharapan Kristus dalam realitas konkret sehari-hari. ​Pertanyaan murid-murid kepada Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:6, "Tuhan, mauk...

Ahok Dan Jokowi Adalah Pemimpin yang Membawa Aroma Wangi Dan Menyegarkan

Ini bukan sebuah puisi, bukan juga sebuah bahasa hiperbolik yang berkaitan dengan cerita kepahlawanan. Ini -judul diatas-  adalah sebuah kisah nyata yang dialami warga Jakarta. Warga yang mengatakan selama 20 tahun merasakan bau ditempat tinggalnya, dan pemimpin (Gubernur DKI) tidak ada yang berani menghilangkan aroma bau itu. Sehingga terpaksalah di dalam kelemahan dan rendahnya posisi tawarnya, rakyat terpaksa mencium  bau setiap hari.


Bau yang timbul dari rumah jagal di Tanah Abang itu, pada hari minggu tanggal 11 Agustus 2013 resmi dibongkar (Kompas.com). Perangkat buldozer yang diinstruksikan oleh Gubernur dan wakilnya meraung raung merobohkan bangunan rumah jagal, rumah potong hewan diiringi dengan sorak sorai penduduk yang selama ini pun merasa tidak setuju dengan keberadaan rumah potong hewan ini.


Selama 20 tahun sejak tahun 1993 melewati jabatan gubernur yang militer Sutiyoso  (2 periode) dan penggantinya Fauzi Bowo dengan kumis tebalnya, tidak berani merobohkan rumah potong hewan  ini. Sehingga masyarakat yang rumah tinggalnya disekitar rumah potong hewan, apalagi yang persis dibelakangnya hanya diam dan mencium  bau tak sedap setiap hari.


Jokowi dan Ahok, bukan militer dan dua duanya juga tidak punya kumis  yang berani merobohkan tempat jagal ini. Salut untuk kepemimpinan mereka berdua. Salut untuk bau wangi dan udara segar yang mereka hadirkan untuk warganya. Tentu kita  menunggu aroma wangi dan segar selanjutnya,  yang mereka hadirkan untuk seluruh  penduduk di Jakarta. Bahkan hati kecil saya berkata, Indonesiapun membutuhkan pemimpin seperti mereka. Bukan pemimpin yang menenggelamkan rumah dan desa penduduk seperti Lapindo. Dalam hal ini, saya harap Anda setuju teman teman kompasianer sekalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026