Featured Post

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026

Gambar
 ​ Tema: Makin Dalam Mengenal Tuhan ( Erbagesna Nandai Dibata ) ​Nats Alkitab: Kolose 1:9–10 ​ Kolose 1:9–10 (TB): "Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah," ​ 1. Pendahuluan ​Pengenalan akan Allah merupakan inti dari kehidupan rohani seorang percaya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa semangat dan strategi untuk belajar agar lebih mengenal Tuhan dalam diri jemaat GBKP boleh dikatakan sangat rendah. Pengenalan akan Tuhan masih dominan bersifat sosial—hanya sebatas tradisi, rutinitas kebudayaan, atau relasi komunal—dan bukan lahir dari perenungan pribadi ( personal devotion ) yang mendalam bersama T...

Pada Tanggal 24 Agustus Orang Karo (Khususnya Anak Muda) Jakarta Berjumpa

 " 24 Agustus Orang Karo (Khususnya Anak Muda) Jakarta Berjumpa"

 Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Yoel Fermi Kaban

Sebenarnya “Orang Karo berjumpa” perlu dibalas dengan pertanyaan “di mana beritanya?”, seperti yang sering dilontarkan oleh seniman Sujiwo Tejo pada akun twitternya menanggapi hal-hal yang sudah wajar sekarang ini. Seperti banyak suku-suku lainnya, Suku Karo juga merupakan suku yang masyarakatnya akrab satu dengan yang lainnya, gemar menjalin silaturahmi dan bersosialisasi dengan orang dengan suku dan asal yang sama.

Sumber Foto : mabiring-in.blogspot.com



Masyarakat Karo memenuhi “kebutuhan untuk bertemu”nya melalui momen-momen pesta - dalam bahasa Karo disebut kerja - yang diselenggarakan baik secara periodik seperti kerja tahun atau pesta tahunan maupun insidentil kerja adat perkawinan, kematian, memasuki rumah baru dan pulung-pulung meriah ukur, pertemuan yang khusus dilaksanakan karena rasa bahagia atau kira-kira seperti reunian. Sebutan lain acara perjumpaan ini bisa juga disebut gendang yang juga bisa berarti pesta dengan merayakan dengan hal yang disukai masyarakat suku Karo yaitu menari. Gendang Guro-guro Aron misalnya, acara pesta muda-mudi.


Jadi, kali ini betul sekali tidak ada beritanya jika hanya biasa-biasa saja. Hari Sabtu, 24 Agustus diselenggarakan sebuah acara DeLaFest, ajang anak muda unjuk kebolehan dalam beberapa nomer lomba, tari Lima Serangkai-Tari Kreasi, musik akustik, lomba rias pengantin Karo, dan rally photo. Diikuti oleh belasan group peserta lomba, acara yang membuat acara perjumpaan orang Karo ini lebih spesial dari perjumpaan biasa dan festival yang juga beberapa kali dilaksanakan khususnya di kota-kota yang jauh dari Tanah Karo adalah tidak hanya menerima energi euforia dari acara yang digelar, namun berlanjut ke “memberi energi”.


Begitu berharganya setiap perjumpaan masyarakat Karo, panitia yang berasal dari pemuda Karo di Depok tidak ingin acara yang dilaksanakan dengan dana yang didapat dengan tidak mudah ini berhenti pada sekedar pesta pora. Maka “memberi energi” ini dibuat melalui satu aksi peduli terhadap Tanah Karo, kampung halaman dengan tajuk “Orang Karo, Mari Membaca!”. Charity Action ini kali ini ditujukan kepada anak-anak dalam Pendidikan Anak Usia Dini yang ada di Tanah Karo dalam naungan (Gereja Batak Karo Protestan). Dasar yang cukup kuat bahwa anak-anak dan generasi muda adalah masa depan sebuah suku, bangsa dan negara, acara yang dari anak muda ini mengajak untuk tidak hanya berkumpul, tapi juga mengumpulkan sesuatu yang bisa diberikan kembali.


Acara yang berlangsung dari pagi sampai malam ini akan bertempat di Gedung Cut Nyak Dien, Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. Mengingat derasnya arus globalisasi saat ini, sangat langka melihat orang konsisten berkecimpung dengan budaya tradisional dan memeliharanya. Dengan setiap adanya acara sedemikian rupa merupakan langkah penting bagi pelestarian budaya.
Tak sabar rasanya melihat Cibubur dengan rasa kesejukan udara Tanah Karo dan kehangatan orang-orangnya, terlebih-lebih menyaksikan energi yang akan dipersatukan di sana nantinya.

Akan sangat sangat senang bertemu anda nanti di sana pada salah satu hari yang akan menjadi hari tak terlupakan dalam hidup.
Salam,
Kaban
Mejuah-juah!

*dan setiap orang Karo akan sangat senang dibalas kembali dengan “Mejuah-juah”
Oh ya, yang tadi di atas sempat disebutkan, jangan tanya ada gendang-gendangnya atau tidak.
PASTI ADA!

Komentar

Badia Tarigan Silangit mengatakan…
Wah keliatannya kegiatan ini bakalan dipenuhi orang karo, sayang ya saya tinggal dimedan, Sukses ya buat kegiatannya :)
Analgin Ginting mengatakan…
Kalau ada waktu datanglah kam, kan Medan ke Jakarta hanya dua jam perjalanan. hehehhe