Featured Post

Menara Babel Digital: Membedah Great Reset 2030 dalam Teropong Iman dan Kedaulatan

Gambar
  Oleh Analgin Ginting Pt. Emeritus di GBKP  ​ Pendahuluan: Sebuah Jendela Peluang atau Jerat Tersembunyi? ​Dunia saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan. Pasca-pandemi COVID-19, sebuah narasi besar muncul dari koridor kekuasaan di Davos melalui World Economic Forum (WEF) yang disebut sebagai "The Great Reset". Narasi ini menjanjikan tatanan dunia baru yang lebih adil, hijau, dan berkelanjutan pada tahun 2030, selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) milik PBB. ​Namun, bagi mereka yang memiliki ketajaman rohani dan pemahaman akan kedaulatan, janji-janji manis ini menyisakan pertanyaan mendasar: Siapa yang sebenarnya memegang kendali? Dan di manakah posisi Tuhan dalam arsitektur masa depan ini? ​ I. Great Reset: Antara Ambisi Manusia dan Penisbian Tuhan ​Secara teknis, Great Reset adalah upaya merombak total sistem kapitalisme global menjadi "Ekonomi Pemangku Kepentingan" (Stakeholder Capitalism). Tujuannya terdengar mulia: me...

Pada Tanggal 24 Agustus Orang Karo (Khususnya Anak Muda) Jakarta Berjumpa

 " 24 Agustus Orang Karo (Khususnya Anak Muda) Jakarta Berjumpa"

 Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Yoel Fermi Kaban

Sebenarnya “Orang Karo berjumpa” perlu dibalas dengan pertanyaan “di mana beritanya?”, seperti yang sering dilontarkan oleh seniman Sujiwo Tejo pada akun twitternya menanggapi hal-hal yang sudah wajar sekarang ini. Seperti banyak suku-suku lainnya, Suku Karo juga merupakan suku yang masyarakatnya akrab satu dengan yang lainnya, gemar menjalin silaturahmi dan bersosialisasi dengan orang dengan suku dan asal yang sama.

Sumber Foto : mabiring-in.blogspot.com



Masyarakat Karo memenuhi “kebutuhan untuk bertemu”nya melalui momen-momen pesta - dalam bahasa Karo disebut kerja - yang diselenggarakan baik secara periodik seperti kerja tahun atau pesta tahunan maupun insidentil kerja adat perkawinan, kematian, memasuki rumah baru dan pulung-pulung meriah ukur, pertemuan yang khusus dilaksanakan karena rasa bahagia atau kira-kira seperti reunian. Sebutan lain acara perjumpaan ini bisa juga disebut gendang yang juga bisa berarti pesta dengan merayakan dengan hal yang disukai masyarakat suku Karo yaitu menari. Gendang Guro-guro Aron misalnya, acara pesta muda-mudi.


Jadi, kali ini betul sekali tidak ada beritanya jika hanya biasa-biasa saja. Hari Sabtu, 24 Agustus diselenggarakan sebuah acara DeLaFest, ajang anak muda unjuk kebolehan dalam beberapa nomer lomba, tari Lima Serangkai-Tari Kreasi, musik akustik, lomba rias pengantin Karo, dan rally photo. Diikuti oleh belasan group peserta lomba, acara yang membuat acara perjumpaan orang Karo ini lebih spesial dari perjumpaan biasa dan festival yang juga beberapa kali dilaksanakan khususnya di kota-kota yang jauh dari Tanah Karo adalah tidak hanya menerima energi euforia dari acara yang digelar, namun berlanjut ke “memberi energi”.


Begitu berharganya setiap perjumpaan masyarakat Karo, panitia yang berasal dari pemuda Karo di Depok tidak ingin acara yang dilaksanakan dengan dana yang didapat dengan tidak mudah ini berhenti pada sekedar pesta pora. Maka “memberi energi” ini dibuat melalui satu aksi peduli terhadap Tanah Karo, kampung halaman dengan tajuk “Orang Karo, Mari Membaca!”. Charity Action ini kali ini ditujukan kepada anak-anak dalam Pendidikan Anak Usia Dini yang ada di Tanah Karo dalam naungan (Gereja Batak Karo Protestan). Dasar yang cukup kuat bahwa anak-anak dan generasi muda adalah masa depan sebuah suku, bangsa dan negara, acara yang dari anak muda ini mengajak untuk tidak hanya berkumpul, tapi juga mengumpulkan sesuatu yang bisa diberikan kembali.


Acara yang berlangsung dari pagi sampai malam ini akan bertempat di Gedung Cut Nyak Dien, Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. Mengingat derasnya arus globalisasi saat ini, sangat langka melihat orang konsisten berkecimpung dengan budaya tradisional dan memeliharanya. Dengan setiap adanya acara sedemikian rupa merupakan langkah penting bagi pelestarian budaya.
Tak sabar rasanya melihat Cibubur dengan rasa kesejukan udara Tanah Karo dan kehangatan orang-orangnya, terlebih-lebih menyaksikan energi yang akan dipersatukan di sana nantinya.

Akan sangat sangat senang bertemu anda nanti di sana pada salah satu hari yang akan menjadi hari tak terlupakan dalam hidup.
Salam,
Kaban
Mejuah-juah!

*dan setiap orang Karo akan sangat senang dibalas kembali dengan “Mejuah-juah”
Oh ya, yang tadi di atas sempat disebutkan, jangan tanya ada gendang-gendangnya atau tidak.
PASTI ADA!

Komentar

Badia Tarigan Silangit mengatakan…
Wah keliatannya kegiatan ini bakalan dipenuhi orang karo, sayang ya saya tinggal dimedan, Sukses ya buat kegiatannya :)
Analgin Ginting mengatakan…
Kalau ada waktu datanglah kam, kan Medan ke Jakarta hanya dua jam perjalanan. hehehhe

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025