Featured Post

Paralysis of Analysis di GBKP: Menakar Macetnya Kepemimpinan Spiritual di Persimpangan Prosedur

Gambar
Oleh Pt. Em Analgin Ginting  Dengan Bantuan Gemini AI  I. PENDAHULUAN Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saat ini sedang berada dalam sebuah anomali sejarah yang memprihatinkan. Sebuah fakta pahit yang tidak bisa dibantah adalah ketidaktuntasan pembahasan Tata Gereja pada Sidang Sinode GBKP Tahun 2025 Kegagalan ini melahirkan kekosongan hukum (vakum) yang berdampak luas; GBKP sempat berjalan tanpa Tata Gereja yang sah secara hukum sinodal. Akibatnya, muncul kegelisahan masif di ribuan Runggun. Pertanyaan retoris namun pedih bergema: "Gereja kita memakai tata gereja yang mana?" Kondisi ini diperparah oleh manajemen persidangan yang tidak efisien. Bayangkan, sebuah persidangan yang dihadiri oleh sekitar 900 orang peserta (Pendeta, Pertua, dan Diaken). Jumlah yang kolosal ini menuntut logistik yang luar biasa besar, biaya yang membengkak, dan ruang sidang yang luas. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa kuantitas manusia tidak berbanding lurus dengan kualitas keputusan. Kita haru...

Jokowi Komunikator Ulung Keturunan Raja Majapahit

Saya merasa sulit untuk memilih kata kata untuk menggambarkan bagaimana rasa kagum sekaligus hormat melihat cara Jokowi Gubernur DKI menangani kepindahan rakyatnya, pemukim di waduk Ria Rio Jakarta. Hal itu terjadi saat saya melihat di televisi yang terpasang di salah satu kamar di Hotel Grand Angkasa Medan tempat saya menginap yang disediakan oleh Smartfren dalam kunjungan saya ke Medan untuk memberikan training bagi pengembangan karyawan Smart fren ini.


 Jokowi jongkok berdialog dengan warga pemukim. Sumber foto Kompas.com

Jokowi memanggil beberapa orang dari kerumunan rakyat kecil penghuni gubuk gubuk di waduk Ria Rio ini ke dalam ruangan Rumah Susun Pinus Elok Cakung,  yang akan menjadi tempat mereka setelah dipindahkan dari waduk yang akan dibenahi ini. Dengan sangat piawai bagaikan seorang Salesman Property yang handal Jokowi mempresentasikan rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka seterusnya.


“ Ini kamarnya, langit langitnya akan diperbaiki dan dicat semuanya. Di dapur sudah ada kompor gas. Dan pesawat televisi layar datar pun sudah tersedia beserta sofa, kasur dan meja kursi. Hanya saat ini belum selesai semuanya, baru tersedia 60 (tempat)”, kata Jokowi.


Nanti akan diselesaikan, diperbaiki dan dicat semuanya sehingga cukup untuk seluruh keluarga dari sekitar tiga ratusan, kata Jokowi menambahkan.


Cara berkomunikasi Jokowi sangat sederhana, elegan, tidak ada batas dengan rakyat dari strata yang paling rendah ini. Komunikasi Jokowi dengan rakyatnya sangat persuasif dan efektif.


Lalu salah seorang perwakilan pemukim waduk Ria Rio ini mengusulkan kepada Jokowi agar pemindahannya dilakukan serentak untuk seluruh 300 keluarga setelah rumah susun selesai diperbaiki. Jokowi mengiyakan usul ini.


Begitu Jokowi selesai mengatakan, “Ya nanti pemindahannya dilakukan serentak”, serta merta laki laki yang mengusulkan tadi menyalami dan mencium tangan Jokowi, pertanda bahwa dia sangat puas dan senang karena usulnya didengarkan dan disetujui Jokowi. Tindakannya menyalami dan mencium tangan Jokowi diikuti oleh teman temannya yang lain, dan segera dibatasi oleh pengawal Jokowi.


Saya sangat terenyuh melihat adegan ini. Dan hati saya bergumam, inilah pemimpin yang kami dambakan di Indonesia. Tidak ada lagi yang kurang dalam diri Jokowi, terutama kedekatan hatinya dan kemampuan berkomunikasinya dengan rakyat, khususnya rakyat kecil yang selama ini sangat diabaikan di Negara ini. Bersyukurlah Bangsa ini mempunyai pemimpin seperti Jokowi.


Saya tidak habis berfikir dan dalam perenungan saya teringat Raja Majapahit yang sangat terkenal arif dan bijaksana Raden Wijaya. Jangan jangan Jokowi memang keturunan Raden Wijaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025