Featured Post

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026

Gambar
 ​ Tema: Makin Dalam Mengenal Tuhan ( Erbagesna Nandai Dibata ) ​Nats Alkitab: Kolose 1:9–10 ​ Kolose 1:9–10 (TB): "Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah," ​ 1. Pendahuluan ​Pengenalan akan Allah merupakan inti dari kehidupan rohani seorang percaya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa semangat dan strategi untuk belajar agar lebih mengenal Tuhan dalam diri jemaat GBKP boleh dikatakan sangat rendah. Pengenalan akan Tuhan masih dominan bersifat sosial—hanya sebatas tradisi, rutinitas kebudayaan, atau relasi komunal—dan bukan lahir dari perenungan pribadi ( personal devotion ) yang mendalam bersama T...

Ternyata Dari Kasus Cebongan Kopassuslah yang Paling Mengalami Rugi

Tahapan pengadilan Kasus Cebongan saat ini sudah sampai kepada penuntutan. Semua yang ikut menyerang, termasuk yang bertindak sebagai supir mobil Avanza pun sudah dituntut. Lima orang yang ikut berperan dalam penyerangan rata rata dituntut 2 tahun penjara.


Disampaikan oleh Oditur Militer hal hal yang memberatkan mereka, namun juga disampaikan banyak hal yang meringankan mereka. Pelaku utama dalam penyerbuan ke Lapas Cebongan dituntut antara 8 sampai 12 tahun. Eksekutor Serda Ucok Tigor Simbolon dituntut paling berat, 12 tahun penjara dan dipecat dari militer. Serda Sugeng Sumaryanto dituntut 10 tahun dipecat dari militer, dan Kopda Kodik dituntut 8 tahun dan dipecat dari dari militer.



Banyak komentar yang bermunculan dari tuntutan ini. Sebagian merasa senang, terutama para pendukung Kopassus. Namun tidak sedikit juga yang merasa kecewa dengan rendahnya tuntutan terhadap pelaku penyerbuan dan pembunuhan empat orang yang diduga sebagai pelaku penusukan anggota Kopassus sebelumnya, Sertu Santoso.


Namun secara institusi saya melihat yang paling dirugikan tentu saja adalah Kopassus. Terlepas dari masalah hukum dan pengadilan yang masih akan berlangsung beberapa waktu lagi, maka Kopassus akan kehilangan beberapa personel terbaiknya. Satu orang sudah tewas, tiga orang akan dipecat serta 6 orang yang akan menjalani hukuman. Jadi akan ada pengurangan 10 orang personil dari Kopassus. Tentu hal ini akan mengurangi kekuatan kesatuan ini, apalagi sebagai pasukan para komando kemampuan satu orang Kopassus barangkali sebanding dengan kemampuan 5 atau 10 orang militer dari kesatuan yang lain. Jika dikurangi 10 orang yang setara dengan 100 orang, maka dalam kasus Cebongan ini dapat dianalogikan ibarat melemahkan kekuatan Kopassus sebesar kemampuan tempur 100 orang.


Jadi kalau kita lihat akibat terjadinya kasus penyerbuan lapas Cebongan ini, maka institusi yang paling dirugikan adalah Kopassus. Satu prajuritnya sudah tewas, lalu 3 orang akan dipecat serta image yang buruk dimata sebagian besar penduduk Indonesia.


Dari kenyataan ini, saya pribadi mempunyai pertanyaan untuk diri saya sendiri. Benarkah ini kasus yang terjadi begitu saja? Benarkah seluruh rentetan kasus ini terjadi tanpa ada konspirasi karena ada tujuan tujuan tertentu? Benarkah emosi yang meluap dari Rasa Korsa timbul begitu saja meskipun buntutnya sesuatu yang tak terduga? Belum adakah di dunia ini suatu ilmu atau ketrampilan untuk mampu mengendalikan dan mendayagunakan emosi, sehingga dari emosi yang timbul seolah lumrah, timbul kejadian kejadian yang dinginkan untuk melemahkan seseorang atau satu lembaga?


Inilah beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika mengikuti kasus ini. Namun sebagai seseorang yang sangat cinta terhadap Bangsa Indonesia saya tetap saja berusaha mengambil hikmah serta percaya kepada pengadilan militer yang mengadili kasus ini. Bahkan berharap agar dari kasus ini kita semua belajar sebaik baiknya untuk Indonesia yang lebih baik. Belajar untuk saling menghargai sesama manusia, belajar untuk menyadari bahwa manusia itu berharga dimata Tuhan Sang pencipta, dan belajar untuk menahan emosi diri kita masing masing. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026