Featured Post

Menara Babel Digital: Membedah Great Reset 2030 dalam Teropong Iman dan Kedaulatan

Gambar
   Analgin Ginting,  Seorang  Pt. Emeritus di GBKP  ​ Pendahuluan: Sebuah Jendela Peluang atau Jerat Tersembunyi? ​Dunia saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan. Pasca-pandemi COVID-19, sebuah narasi besar muncul dari koridor kekuasaan di Davos melalui World Economic Forum (WEF) yang disebut sebagai "The Great Reset". Narasi ini menjanjikan tatanan dunia baru yang lebih adil, hijau, dan berkelanjutan pada tahun 2030, selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) milik PBB. ​Namun, bagi mereka yang memiliki ketajaman rohani dan pemahaman akan kedaulatan, janji-janji manis ini menyisakan pertanyaan mendasar: Siapa yang sebenarnya memegang kendali? Dan di manakah posisi Tuhan dalam arsitektur masa depan ini? ​ I. Great Reset: Antara Ambisi Manusia dan Penisbian Tuhan ​Secara teknis, Great Reset adalah upaya merombak total sistem kapitalisme global menjadi "Ekonomi Pemangku Kepentingan" (Stakeholder Capitalism). Tujuannya terdenga...

Tipis Peluang Effendi Simbolon Memenangkan PIlkada Gubernur Sumut 2013

Saya sempat bertemu beberapa menit dengan pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy pagi hari tanggal 2 Maret 2013  saat check in di Counter Garuda di Polonia Medan.   Saya memang mengenal namanya sejak dulu, karena termasuk pengamat yang saya anggap punya keberanian dan idealisme.


Ketika saya menanyakan bagaimana dengan peluang  Effendi Simbolon , yang ikut mencalonkan diri sebagai salah satu calon Gubernur Sumatra Utarayang diusung oleh PDIP,  dia menjawab,   "Sulit".

 Ichsanuddin Noorsy

Ketika saya tanyakan lagi mengapa, Ichsanuddin menjawab,  "Dia tidap punya konsep".  Bahkan ditambahkan olehnya  “dia sadar punya uang banyak, namun dia tidak mempunyai program kongkrit”.


Setelah berpisah dengan Ichasanuddin Noorsy, saya membuka detiknews.com.  Saya sempat baca berita tentang debat calon gubernur Sumut di televisi (Jumat 1 Maret 2013, malam) yang diprakarsai oleh KPU Sumut dan salah satu panelisnya adalah  Ichsanuddin Noorsy sendiri.  Berita di detiknews.com mengatakan bahwa,  acara debat dipakai oleh empat calon yang lain untuk menyerang calon incumbent yaitu Gatot Pujo Nugroho yang berpasangan dengan Tengku Erry.


Saya sendiiri tidak menonton debat itu tadi malam, karena saya lebih tertarik menonton the X Factor di RCTI.  Acara ini saya lihat lebih murni dan lebih apa adanya, daripada acara debat dan acara acara politik lainnya.  Sebab tidak ada X Factornya, hanya ada C Factor.  C Factor adalah Coruption  Factor, hahahahaha.


Bayangkanlah,   bagaimana jadinya Sumut 5 tahun kedepan kalau semua calon gubernurnya tidak mempunyai konsep yang matang dan kongkrit.  Semua Urusan Mesti Uang Tunai, adalah akronim yang sangat “sesuatu” di Sumut, dan nampaknya masih akan sulit dihilangkan dan dibuang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025