Featured Post

Musuh Yang Kita Hadapi Tidak Selemah Yang Kita Bayangkan

Gambar
  ​ Oleh:  Pt. Em, Analgin Ginting ​Pendahuluan: Paradoks Pengenalan Diri ​Perjalanan spiritualitas manusia sering kali terjebak dalam dikotomi antara yang sakral dan yang profan. Namun, sebuah tesis mendasar yang diangkat oleh Dharma Pongrekun mengingatkan kita pada sebuah kebenaran kuno: mustahil bagi seseorang untuk beriman kepada Tuhan jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Iman tanpa pengenalan diri adalah sebuah fatamorgana intelektual, sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Jika kita tidak memahami siapa subjek yang percaya, maka objek kepercayaan itu pun menjadi kabur dan kehilangan esensinya. ​Dalam konteks teologi klasik, gagasan ini menemukan resonansi terdalamnya dalam pemikiran Yohanes Calvin. Calvin menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita sendiri adalah dua hal yang saling bertaut erat. Seseorang tidak dapat memandang dirinya secara jujur tanpa menyadari kehadiran Sang Pencipta, dan sebaliknya, seseorang tidak dapat mem...

Inilah Metoda Lima Langkah Mengatasi Konflik Berdasarkan Firman Tuhan

 

Konflik memang tidak bisa dihindari dari kehidupan.  Struktur berfikir otak manusia, serta pola pola hubungan dalam keluarga, Gereja atau  masyarakat secara logis akan melahirkan konflik.   Sehingga salah satu kunci keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup adalah kemampuan mengatasi konflik itu sendiri.

Cara berfikir otak kanan yang lebih cenderung  mengutamakan perasaan dan nilai nilai, dan cara berfikir otak kiri yang lebih mengutamakan kepraktisan dan hitungan untung rugi, sudah pasti akan melahirkan konflik sekalipun mereka adalah saudara sekandung.

Sumber photo : https://pogomediation.co.uk/avoiding-relationship-conflict-during-covid-19-during-stay-at-home/

Belum lagi kalau kita melihat kenyataan atau fakta kehidupan yang selalu mempunyai kecenderungan melahirkan persaingan dan konflik misalnya :

¡  Prejudice (menganggap dan mengatakan kesalahan orang lain)

¡  Kejahatan/stubborenness (Menusuk dari belakang)

¡  Ke-sensitifan (seseorang yang sangat sensitif perasaannya)

¡  Perbedaan persepsi dan paradigma

¡  Perbedaan prioritas/sasaran

¡  Persaingan untuk mendapatkan sumber daya

¡  Persaingan untuk mendapatkan kekuasaan

¡  Kesalah-pahaman (miscommunication)

¡  Harapan yang tidak terpenuhi

Oleh sebab itu salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan saat ini adalah kemampuan mengatasi atau mengelola konflik.  Apakah sulit ?  Sulit hanya ada dalam kamus orang orang yang lebih sering mencari cara mudah, dan cara cepat.  Tapi bagi orang orang yang mengutamakan kebenaran dan perdamaian dalam dirinya tidak ada yang sulit. 

Cara mengatasi konflik secara professional adalah

1.     Relaks, tenang, redakan emosi,  berdoa .

2.     Klarifikasi masalah (issues) dan fokuslah kepada keinginan dan sasaran.

3.     Pahami dan memahami  perspektif kedua belah pihak.

4.     Uraikan permasalahan menjadi langkah langkah kecil dan sederhana.

5.     Berikan atau ikuti, lalu katakan harapan dan kebutuhan.

Metoda lima Langkah diatas menarik sekali untuk diterapkan dalam dunia kerja, atau dunia professional. 

Namun bukan itu satu satunya strategy untuk mengatasi konflik.

Saya sangat dipengaruhi  oleh dua kisah, yang menjadi sumber pengetahuan dan keyakinan untuk mengatasi konflik.  Yang pertama adalah cara Jakub berdamai  dengan abangnya Esau yang dia tipu untuk mendapatkan hak kesulungan.  Dia tahu dan bisa rasakan bagaimana sakit hatinya Esau pada saat itu, karena dia urung mendapatkan berkat dari ayahanndanya Ishak.   Setelah bertahun tahun lamanya suatu saat Jakub mendatangi Esau hanya untuk minta maaf supaya konflik diantara mereka bisa diatasi dan berdamai.  Kisah Jakub mendatangi Esau tertulis dengan sangat menarik pada Kejadian 33 : 1 – 15

Yang kedua adalah Kisah Tuhan Yesus suatu saat singgah ke sumur orang Samaria.  Padahal pada saat itu orang Jahudi tidak berkomunikasi secara baik dengan orang Samaria.  Dengan penuh ke-rendahhatian serta penuh dengan kelembutan kasih sayang, Yesus Kristus duduk ditepi Sumur dan meminta air untuk diminumnya kepada seorang perempuan yang datang pada saat sinar matahari  bersinar dengan sangat lcerah dan panas terik. TUhan Yesus tidak hanya mendamaikan dan mengatasi konflik  yang DIa alami saat itu, namun lebih dari itu Tuhan Yesus berhasil mendamaikan keturunan Jahudi dan kaum Samaria. Kisah ini tertulis pada Johanes 4 : 5 - 10.

Sumber : https://www.blogger.com/blog/post/edit/309341876594250887/2195627387954053860

Nah saat merengungkan kedua perikop diatas, ditambah dengan pengalaman yang pernah saya alami serta studi literatur maka saya mengusulkan lima langkah untuk mengatasi konflik, baik konflik kita sendiri juga konflik  dalam persekutuan.

Lima Langkah Mengatasi Konflik  berdasarkan Firman Tuhan

(Pendekatan Pt. Analgin Ginting)

1.     Sadari dan terima bahwa Anda sedang konflik.

2.     Doakan teman Anda berkonflik, terus menerus sampai Anda mulai merasa kasih kepadanya. (kalau belum muncul rasa kasih/iba, doakan terus.  Tidak ada untungnya menyimpan perasaan bahwa yang Anda benar dan dia salah)

3.     Minta kekuatan Roh Kudus untuk mendatangi dia, minta maaf dan menyatakan rasa kasih anda.

4.     Datangi teman Anda berkonflik untuk menyatakan maaf Anda secara tulus

5.     Pelihara komunikasi yang positif denga teman Anda dan terus mendoakan dia

 Saya yakin sekali bahwa metoda ini akan berhasil dalam mengatasi konflik, termasuk saat kita sendri yang berkonflik atau saat kita mendamaikan konflik orang lain.  Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025