Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 15 - 21 Feb 2026- 20 Februari 2026

Gambar
  MENGIKUT FIRMAN DAN PERINTAH TUHAN (Ngikutken Pedah Ras Perentah) Imamat 18:1–5 Pendahuluan Di zaman sekarang ini, banyak orang percaya hidup di antara dua dunia:dunia iman dan dunia kebiasaan. Kita mengaku mengenal Tuhan, tetapi perilaku kita sering kali lebih mencerminkan “Mesir” — sistem lama, pola lama, kebiasaan lama. Padahal Tuhan memanggil umat-Nya keluar dari Mesir bukan hanya untuk pindah lokasi, tetapi untuk pindah pola hidup. Masalah terbesar umat Tuhan bukan tidak tahu firman.  Masalah terbesar adalah tidak sungguh-sungguh mengikut firman.  Imamat 18:1–5 adalah deklarasi identitas dan perintah yang sangat tegas :  “Akulah TUHAN, Allahmu.”  Segala ketaatan dimulai dari pengenalan itu. Fakta dari Nas (Imamat 18:1–5) 1. Tuhan berbicara langsung kepada Musa. Musa diperintahkan menyampaikan firman kepada bangsa Israel. 2.     Israel dilarang mengikuti pola hidup Mesir (masa lalu).   Israel juga dilarang mengikuti kebiasaan Kan...

Mensukseskan Musyawarah Sidi Jemaat




Kepada orang Kristen, orang yang dipilih oleh Tuhan sendiri untuk Dia selamatkan dan Dia berkati telah diberikanNya “kerajaan” yang tidak tergoncangkan. Kerajaan yang tidak bisa diganggu dan diusik, dan tidak mungkin  dikudeta oleh apapun dan siapapun.  Maka wajiblah seluruh orang Kristen mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut (Bdk Ibrani 12 : 28).  Beribadahlah kepada  Tuhan dalam prilaku hormat dan takut, penuh persiapan dan r rendah hati serta  dipraktekkan dengan jiwa yang total dan bersungguh sungguh.


Semangat bersyukur dan beribadah ini alangkah baiknya juga dipraktekkan saat gereja mengadakan Musyawarah Sidi Jemaat (MSJ) yang  direncanakan pada minggu tanggal 15  Maret secara  sinodal di seluruh gereja GBKP. Dalam Tata Gereja GBKP (2005) Pasal 31 ayat 3  dikatakan : 

Tugas Musyawarah Anggota Sidi Jemaat adalah untuk mendengar laporan perkembangan jemaat dan usul-usul tentang kehidupan Marturia (Kesaksian), Koinonia (Persekutuan) dan Diakonia (Pelayanan) guna pertumbuhan dan pembangunan jemaat.

Yang menarik untuk disimak adalah kata kata “mendengar” yang pada ayat ini dimaksudkan dengan mendengar laporan perkembangan jemaat dan usul usul tentang kehidupan bergereja dalam menjalankan tri tugas gereja marturia, koinonia dan diakonia guna pertumbuhan dan pembangunan jemaat.

Siapa yang mendengar, dan bagaimana cara mendengar, itulah beberapa pandangan yang penulis ingin sampaikan melalui renungan ini. Menurut pandangan saya, Majelis jemaat atau pertua diakenlah yang seharusnya mendengar lebih banyak, karena info info dari jemaat itu jauh lebih penting untuk didengarkan sehingga semua rencana dan program yang sudah disusun bisa dijalankan dalam bahasa  serta pemahaman jemaat.

Musyawarah Sidi Jemaat bukan hanya tanya jawab,  apalagi arena saling membela dan mempertahankan sudut pandang.  Musyawarah Sidi Jemaat  alangkah indahnya jika dijadikan menjadi kesempatan untuk saling belajar, saling mempedulikan, saling menghargai serta saling bertukar ide dan gagasan demi perbaikan kehadiran gereja Tuhan.  Jadi bukan hanya kesempatan saling menampung ide, lalu memberikan jawaban dalam waktu yang bisa bisa sudah kehilangan momentum.

Kalau menurut pandangan pribadi saya, proporsi ideal dalam musyawarah adalah setiap pemaparan 15 menit mengundang munculnya diskusi atau musyawarh 30 menit.  Bukan pemaparan satu jam, namun diskusinya hanya 10 menit, apalagi setelah pemaparan ide ide hanya ditampung tanpa didiskusikan bagi saya bukanlah musyawaran yang positif.

Aspek kedua yang perlu diperhatkan adalah mendengar. Mendengar itu bisa macam macam metode dan tujuannya, namun yang paling baik mendengar itu dilakukan dengan sungguh sungguh dengan tujuan memahami atau memengerti apa yang disampaikan oleh seseorang.  Sering sekali suatu diskusi atau musyawarah tidak berlangsung dengan baik karena para peserta mempunyai ketrampilan buruk dalam mendengar. Contoh dia mendengar hanya untuk membalas memberikan jawaban.

Simak dan tanya untuk memperjelas,  adalah dua hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki  ketrampilan mendengar.  Secara umum semua manusia mempunyai keterbatasan untuk memahami dan memengerti apa yang dimaksudkan orang lain, atau jemaat lain.   Karena pendengaran kita dibatasi oleh cara pandang kita masing masing.  Ketika Anda hendak menyampaikan ide mengenai mobil, saya sendiri sudah mempunyai pandangan mengenai mobil.  Jadi apa yang anda katakan selanjutnya mengenai mobil tidak lagi saya dengarkan, sebab pikiran saya lebih banyak memikirkan mobil menurut persepsi saya dibandingkan dengan mendengar pemaparan anda.  Setelah anda selesai berbicara, maka mobil yang anda maksudkan tidak saya ingat, tidak saya mengerti karena lebih dominan saya memikirkan pandangan saya sendiri.  Jadi supaya saya bisa mengerti gagasan Anda, saya harus rendah hati dan benar benar bersedia mendengarkan Anda. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025