Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (25 – 31 Oktober 2026)

Gambar
​ Tema: Konfesi Kedatangan Jesus Kembali ( Konfesi Kerehen Jesus Mulihken / Advent ) Teks Alkitab: Matius 24:36–44 ​ Pendahuluan ​Kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali ( Eskaton / Parousia ) merupakan puncak pengharapan iman Kristen. Namun, Alkitab secara tegas menegaskan bahwa waktu kedatangan-Nya dipagari oleh rahasia kedaulatan ilahi. Ketidakpastian waktu ini bukanlah alasan bagi gereja untuk bersikap apatis, melainkan pendorong teologis untuk senantiasa hidup dalam kesiapsiagaan iman. Eskatologi Kristen tidak mengajarkan spekulasi tanggal, melainkan transformasi cara hidup di tengah dunia yang terus berjalan. ​ Fakta ​ Ketahuannya Waktu Hanya pada Bapa: Tidak ada seorang pun—bahkan malaikat maupun Anak—yang tahu hari dan saat kedatangan-Nya, melainkan hanya Bapa. ​ Kondisi Zaman Nuh sebagai Ilustrasi: Manusia sebelum air bah hidup dalam rutinitas wajar (makan, minum, kawin) namun abai terhadap peringatan ilahi hingga kebinasaan datang mendadak. ​ Pemisahan ya...

Kena Ukur Surbakti Dr Honoris Causa Sang Pelanggar Adat.



Dalam adat Karo seorang permain dipantangkan berbicara langsung dengan bengkilanya.  Dan konsep pelarangan berbicara langsung ini disebut dengan istilah rebu.  Selain permain atau permen dengan bengkilanya, juga mami dengan bere berenya, atau  istri seorang laki laki dengan suami dari adik/kakak perempuannya.  Ini disebut dengan erturangku.


Kebiasaan rebu ini menjadi salah satu ciri adat budaya karo dan dipertahankan sampai sekarang.  Kebiasaan adat memang bukan salah atau benar secara filosofis atau agamis, namun biasa atau tidak biasa.  Yang biasa selanjutnya disebut benar, dan yang tidak biasa disebut salah atau mehangke (malu) jika dilakukan. 


Mempertahan adat adalah mempertahankan kebiasan, melanggar adat adalah melanggar kebiasaan.  Namun adat menjadi bernilai bagi kehidupan masyarakatnya jika dipraktekkan, dijaga dan dijunjung tinggi .  Tidak beradat bukalah dosa, namun tidak beradat adalah gagal menjaga adat.  Jaman lalu orang yang mengerti adat lebih takut dikatakan tidak beradat dibanding tidak beragama.


Nah dengan latar belakang inilah saya melihat bahwa Bupati Karo Kena Ukur Surbakti adalah salah seorang pelanggar adat.  Mengapa karena dia sudah tidak lagi memakai konsep rebu, dia berbicara langsung dengan seorang wanita yang dipanggil permain/permemnnya, dan si permen pun berbicara dengan sangat santai terkesan main main dengan bengkilanya.  

“Sekarang saya mau tanya kepada kalian”, kata Kena Ukur Langsung kepada wanita yang disebut permennya. 

Lalu si wanita yang disebut permen sambil duduk berdua berdampingan dengan suaminya menjawab.  “ Yang mana maksudndu kila?  O yang itu kila, tujuan saya sama anakndu hanya meng angek angekin orang saja”

 
Percakapan ini direkam dan disebar luaskan melalui Youtube dibawah judul “Sanggahan Bupati Karo”.  Lama saya merenungkan, apa tujuan Kena Ukur Surbakti merekam dan menyebarkan  video percakapannya ini dengan Molek Br Ginting yang dituduh banyak orang sebagai teman selingkuhannya

. 
Tidak kah Kena Ukur surbakti berfikir bahwa  video youtube ini dapat merusak tatanan adat Karo tentang rebu terhadap generasi muda Karo karena gampang sekali di akses anak anak remaja kita.  Tidak kah dia ingat bahwa suatu saat konsep rebu antara permain dan bengkila  bisa hilang dalam kehidupan anak cucu  orang Karo?


Nampaknya cara kerja dan pola pikir Kena Ukur Surbakti tidak pernah bisa dan mampu menjangkau sesuatu yang jauh dan strategis.  Dan tanpa sadar Kena Ukur adalah seorang pelanggar adat.  Dia melanggar konsep Rebu dalam kalak Karo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)