Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)

Gambar
  ​ Tema: Pengetahuan Yang Lengkap Dan Berguna ( Pemeteh si kuh dingen serta ) Teks Alkitab: 1 Korintus 13:11 – 12 ​ "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." ​ Pendahuluan ​Pertumbuhan adalah keniscayaan dalam tatanan ciptaan Allah. Sebagaimana seorang anak secara fisik dan mental mengalami fase perkembangan dari tutur kata, perasaan, hingga pola pikir sederhana menuju kedewasaan, demikian pula manusia dipanggil untuk mengalami pembaharuan budi dan iman secara berkesinambungan. Ketidakmampuan atau keengganan untuk bertumbuh merupakan sebuah anomali spi...

Jokowi Dan Ahok Sang Pande Kudin

“Kudin “ adalah tempat memasak nasi dalam bahasa Karo. Biasanya kudin terbuat dari semacam aluminium atau campuran aluminiun dengan bahan logam lainnya. Sedangkan “Kudin Taneh” adalah kudin yang dibuat dari tanah liat, atau gerabah. Tanah Bahasa Indonesia menjadi taneh dalam Bahasa Karo.


Pande Kudin dengan demikian adalah tukang atau ahli yang membuat gerabah atau kudin taneh. Kudin taneh, karena dibuat dari tanah liat yang dipanaskan atau dibakar dengan demikian akan mudah pecah, kalau terjatuh atau terpukul seseorang. 


Dalam Bahasa Karo ada sebuah peribahasa yang maknanya sangat dalam. Bunyi peribahasanya adalah seperti ini. Seratus pande kudin kalah man sekalak pande kahkah. Pande Kahkah, adalah tukang pukul (kahkah) yang suka memukul atau menghancurkan. Terjemahan peribahasa ini adalah seratus orang ahli yang membuat kudin (gerabah) akan kalah kepada satu orang yang jago memecahkan.


Sebab meskipun yang ahli membuat kudin (gerabah) itu ada seratus orang yang dapat memproduksi gerabah sebanyak 100 biji dalam satu putaran, namun semua gerabahnya dipukul oleh seorang tukang pukul maka semua gerabah itu akan pecah dan hancur juga.


138977391840409580
Sumber Foto : www.tembi.net



Makna peribahasa ini adalah meskipun ada seratus orang yang ahli memproduksi sesuatu (positif) maka dia akan kalah juga kalau berhadapan dengan satu orang tukang perusak (negatif). Daya merusak ternyata lebih hebat daripada daya membangun atau memperbaiki.


Namun yang saya lihat di Jakarta saat ini lebih besar, lebih hebat atau bahkan lebih memprihatinkan dari kandungan makna pepatah Karo diatas. Bukan seratus pande kudin menghadapi satu orang pande kahkah, akan tetapi dua orang pande kudin menghadapi seratus orang pande kahkah. Dua orang yang ahli dan positif menghadapi seratus orang yang negatif dan merusak.


Bukankah dalam mengatasi macet dan banjir di Jakarta hanya 2 orang Jokowi dan Ahok (pande kudin) menghadapi sertaus enam orang anggota DPRD (pande kahkah) yang hanya diam, sekali sekali berkomentar menyampaikan kritik dan hujatannya kepada Jokowi dan Ahok? Ditambah lagi dengan anggota DPR yang tidak pernah berhenti mencari kelemahan Jokowi, Ruhut Sitompul (pande kahkah)


Seandainya dibalik pun jumlahnya belum tentu menang dan banjir teratasi dengan baik. Seandainya seratus orang seperti Jokowi atau Ahok menghadapi satu orang tukang rusak atau tukang hujat profesional saja belum tentu menang yang seratus itu. Faktanya hanya dua orang yang benar benar positif menghadapi masalah dan berusaha untuk mengatasi dengan segala keterbatasannya.


Banjir di Jakarta akan teratasi kalau ada kerja sama penanganan yang sangat terpadu Pemda DKI dengan pemerintah daerah di Bogor, Tangerang dan juga Depok dan Bekasi, yang diarahkan dan dikomandoi oleh pemerintah pusat. Karena lintas wilayah seperti ini harus dikomandoi dan dikoordinasikan oleh pemerintah pusat, yang sejak 10 tahun atau 20 tahun yang lalu hanya bisa berwacana saja.


Untung lah sekarang kita punya dua orang yang sangat positif yaitu pande kudin Jokowi dan Ahok. Mereka berdua, meskipun keahlian dan kemampuan nya dalam mengatasi banjir sangat kecil dan terbatas, namun komitmen dan integritas yang mereka miliki mampu melahirkan sebuah optimisme bagi penduduk Jakarta dan sekitarnya, bahwa banjir akan teratasi di suatu saat. Terutama jika pihak pihak yang lain dan para ahli (pande-pande) yang lain bersedia bekerja sama dengan ikhlas mengatasi masalah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026