Featured Post

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026

Gambar
 ​ Tema: Kalak Si Tek Rembak Ras Dibata (Orang yang Percaya Dekat dengan Allah) Nats: Roma 10 : 1 – 4 ​ 1. Pendahuluan ​Setiap manusia pada dasarnya memiliki religiositas —sebuah kerinduan bawaan (naluri) untuk mencari, menyembah, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, dalam realitas kehidupan, banyak orang terjebak dalam kesibukan ritual dan aktivitas keagamaan yang luar biasa giat, tetapi kehilangan arah dan esensi yang sejati. ​Melalui surat Roma ini, Rasul Paulus membedah kontras antara "kegiatan agama yang meluap-luap" dengan "pengenalan yang benar akan Allah". Menjadi dekat dengan Allah ( rembak ras Dibata ) bukan soal seberapa keras kita berusaha membenarkan diri sendiri, melainkan seberapa penuh kita berserah pada kebenaran yang telah Allah sediakan. ​ 2. Fakta Tekstual (Analisis Teks) ​ Ayat 1: Paulus mengungkapkan kerinduan terdalam (empati dan kasih yang besar) serta doanya agar bangsa Israel memperoleh keselamatan. ​ Ayat 2: Paulu...

Menemukan Jeruk Pernantin di Kintamani, Bali

Masih Ingat tentang Jeruk Pernantin yang sangat terkenal itu? Jeruk yang pernah merajai buah buahan dari Tanah Karo. Jeruk yang dalam bahasa aslinya (Karo disebut Rimo Keling). Buahnya besar, lebih besar dari Jeruk yang sekarang. Rasanya lebih tajam manis bercampur sedikit asam, dan air buahnya banyak. Warna kulitnya hijau alami dan kuning emas kalau sudah masak. Jeruk yang membuat Tanah karo sangat terkenal. Dulu ada beberapa tempat penghasil jeruk ini selain Pernantin dan Tigabinanga, juga Beras Tepu dan Guru Kinayan.




Nah, kemarin tanggal 30 Desember 2011 saya seolah olah bernostalgia dengan Jeruk ini. Saya melihat dan menemukan jeruk yang besar dan rupanya sama di Kintamani. Saya sangat tertarik, lalu saya beli 5 kg @ Rp 12.500. Bentuknya persis sama, hanya ketika saya mencicipi rasanya berbeda dengan “Rimo Keling” yang dulu itu.




Namun menemukan jeruk ini mengingatkan kembali kenangan masa lalu. Kenangan di Tiga Baru Kabanjahe. Suatu saat saya menemami Mama saya menjual tomat hasil ladangnya. Saat itu ada orang menjual jeruk ini. Saya menangis minta dibelin, tapi ibu saya tidak membelinya. Katanya mahal. Karena saya menangis terus, akhirnya dibelin “cimpa tuang”. Hahaha, minta jeruk dikasih “cimpa tuang”, di Tiga baru Kabanjahe sekitar tahun 1971-1972.

Komentar

Anonim mengatakan…
Bang kayaknya kalau dilihat bentuk gepengnya itu lebih mirip "rimo kelele" yang memang rasanya beda jauh sama "rimo keling". Aku terakhir makan rimo keling di Kidupen thn 82an. Petik langsung dr pohon. Anak Pa Tua nangkih, aku nimai teruh. Mantaff. Tapi mungkin namanya "jeruk keprok" tolong koreksi kalau salah.

Cuma seingatku rimo keling lama berbuahnya bang. Pohonnya tinggi.
Analgin Ginting mengatakan…
terima kasih atas komentarndu. Nampaknya benar sekali yg kam katakan karena rasa jeruk ini mirip jeruk sekarang. Tidak eksotis seperti rimo keling. Mejuah juah.

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025