Featured Post

Surat Ukat, Endi-Enta, dan Soteriologi Calvin: Temuan Kontekstual Anugerah dan Perbuatan Baik

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting Abstrak ​Artikel ini mengeksplorasi korelasi antara filosofi hidup masyarakat Karo yang terekam dalam konsep Surat Ukat ( Endi-Enta ) dengan soteriologi Calvinis, khususnya mengenai doktrin anugerah Allah ( sola gratia ) dan perbuatan baik sebagai ucapan syukur ( gratitudo ). Melalui pendekatan teologi kontekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Karo menyediakan gambaran kultural yang tepat untuk memahami keterdahuluan anugerah Allah sebelum tanggung jawab etis manusia. I. Pendahuluan ​Masyarakat Karo memiliki pandangan hidup yang berakar kuat pada pemeliharaan kehidupan dan relasi sosial. Salah satu ekspresi filosofis yang terekam dalam budaya Karo—terutama melalui Surat Ukat (surat ucapan/ungkapan kehendak hati)—adalah dinamika relasional antara Endi (memberi) dan Enta (meminta respon/hasil) [1]. ​Dalam kehidupan sehari-hari, makanan berfungsi sebagai simbol utama pemeliharaan. Orang Karo percaya bahwa Tuhan ( Dibata ) adalah Pemb...

Let the Church Be the Church

🕊️ 

Mengenang Pemikiran Teologis Pdt. Matius Panji Barus, S.Th., M.Th.

Ada sebuah pertanyaan yang sederhana tapi dalam yang diajukan seninaku Herman Ginting kepada saya. 

> “Apa pikiran Pdt. Matius Panji Barus tentang GBKP?”

Saya terdiam sejenak ketika pertanyaan ini diajukan. Sulit menjawabnya dengan singkat, karena mengenal beliau bukan sekadar mendengar ceramah atau membaca tulisan—tetapi melalui interaksi panjang, percakapan hangat, dan teladan hidupnya.



1. Persahabatan dan Keteladanan

Saya mengenal Pdt. Matius Panji Barus (sering kami singkat Pdt. MP Barus) sejak tahun 2004, saat saya memimpin pelatihan Kebiasaan yang Efektif bagi seluruh pimpinan GBKP. Beliau dikenalkan oleh sahabat saya, Elia Massa Manik.

Sejak itu hubungan kami terjalin erat. Saya memanggil beliau silih, panggilan khas Karo karena istrinya beru Ginting, sama seperti marga saya. Dalam perjalanan panjang hingga tahun 2010 ketika saya menjadi anggota moderamen di bawah kepemimpinannya, saya mengenal beliau sebagai sosok yang:

  • Rendah hati dan sopan
  • Konsisten dalam sikap dan tindakan
  • Memiliki etika pelayanan yang tinggi

2. “Let the Church Be the Church”

Salah satu konsep yang melekat dalam ingatan saya adalah perkataan beliau:

> “Let the Church Be the Church.”

Biarkanlah gereja tetap menjadi gereja.

Konsep ini sejalan dengan pemikiran John A. Mackay (Konferensi Oxford 1937), yang menekankan bahwa gereja harus hidup sesuai hakikatnya—sebagai tubuh Kristus yang hadir bagi dunia, bukan sekadar bangunan atau institusi sosial.

Dalam konteks GBKP, Pdt. MP Barus merumuskannya dalam dua prinsip sederhana namun dalam:

1. Gereja harus menjadi rumah yang nyaman bagi semua orang, termasuk jemaat yang paling miskin sekalipun. Semegah apa pun gedungnya, jangan sampai membuat orang kecil enggan datang

2. Semua pelayan gereja—pendeta, pertua, diaken, dan pimpinan kategorial—harus menjadikan gereja sebagai “tempat Tuhan di dunia.” Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat penghiburan, pemulihan, dan solusi bagi jemaat dari berbagai latar sosial.

3. Refleksi untuk GBKP Hari Ini

Belakangan ini, saya kadang merasa cemas. Ada kecenderungan GBKP menjadi tempat yang lebih nyaman bagi pelayannya sendiri dibanding bagi seluruh jemaatnya. Semoga saya keliru.

Sebagai penghormatan bagi beliau, saya sampaikan dalam persemayaman di GBKP Bekasi:

> “Marilah kita lebih bergairah berteologi, agar GBKP terus bertumbuh secara teologis dan tetap menjadi gereja yang sejati.”

4. Makna Teologis

Dalam teologi gereja (ecclesiology), istilah ekklesia berarti perhimpunan orang yang dipanggil keluar oleh Allah. Gereja bukan sekadar bangunan, tetapi komunitas yang dipanggil untuk hadir di tengah dunia membawa kasih dan pengharapan.

Konsep “Let the Church Be the Church” sejalan dengan teologi Missio Dei: misi adalah karya Allah, dan gereja adalah alat-Nya di dunia untuk melayani manusia tanpa diskriminasi sosial atau ekonomi


5. Penutup

Warisan teologis Pdt. MP Barus bukan dalam bentuk buku tebal atau teori rumit, melainkan keteladanan sederhana yang kuat:

Gereja harus ramah bagi yang paling miskin.

Gereja harus menjadi rumah Tuhan yang menghadirkan penghiburan nyata.

Inilah panggilan untuk kita semua, agar GBKP tetap menjadi gereja yang sejati, rumah bagi semua, dan cahaya bagi dunia. 🌿

📚 Referensi Singkat

1. John A. Mackay, Let the Church Be the Church, Oxford Conference, 1937.

2. Artikel Let the Church Be the Church – Pastor Rudy TLC

3. Teologi Missio Dei – Wikipedia

4. Makna ekklesia – The Gospel Coalition



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025