Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)

Gambar
  ​ Tema: Pengetahuan Yang Lengkap Dan Berguna ( Pemeteh si kuh dingen serta ) Teks Alkitab: 1 Korintus 13:11 – 12 ​ "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." ​ Pendahuluan ​Pertumbuhan adalah keniscayaan dalam tatanan ciptaan Allah. Sebagaimana seorang anak secara fisik dan mental mengalami fase perkembangan dari tutur kata, perasaan, hingga pola pikir sederhana menuju kedewasaan, demikian pula manusia dipanggil untuk mengalami pembaharuan budi dan iman secara berkesinambungan. Ketidakmampuan atau keengganan untuk bertumbuh merupakan sebuah anomali spi...

SBY Sangat Berhasil Sebagai Politikus Di Partai

Menarik sekali ulasan rekan kompasioner Prayitno Ramelan tentang keberhasilan ketua majelis tinggi Partai Demokrat menyelesaikan kemelut di Partai Demokrat.   Artikel yang saat ini masih menjadi Head Line di Kompasina di buka dengan kalimat “Kemelut di internal Partai Demokrat telah diselesaikan oleh Pak SBY dengan cantik dan halus tanpa adanya pemberontakan frontal saat Rapimnas di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (17/2)”. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan bahwa SBY adalan seorang politikus handal di jagad perpolitikan nasional.


Tidak terlalu berlebihanlah untuk mengatakan bahwa SBY seorang politikus handal kalau melihat kembali kiprahnya dalam arena perpolitikan nasional.  Dan menurut pendapat penulis keberhasilan di Hotel Sahid pada minggu kemarin adalah keberhasilan yang ketiga yang  ditorehkan oleh SBY dalam keterlibatannya dalam perjalanan karier politiknya di tanah air.


Keberhasilan politik SBY yang pertama adalah keputusannya untuk keluar dari kabinet gotong royong Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2004.   Keberanian dia  untuk mundur dari jabatan Menko Polkam saat itu, sekaligus kemampuan dia untuk melakukan pencitraan sehingga timbul kesan seolah dia terzolimi. Mampu berperan dengan baik serta mengedepankan etika politik,  akhirnya melambungkan dirinya menjadi orang no 1 di Republik Indonesia, menjadi Presiden. Ini adalah keberhasilan politik yang sangat significant dalam perjalanan selanjutnya Susilo Bambang Yudhoyono.


Menjadi presiden dari tahun 2004 sd 2009  berpasangan dengan rekan menterinya Jusuf Kalla sebagai wakil presiden yang pada kabinet Gotong Royong juga menjabat sebagai Menko Kesra.   Selama 5 tahun itu  kiprah Jusuf Kalla sebagai wakil presiden menurut banyak pengamat lebih dinamis dan taktis dibanding dengan Presiden SBY sendiri.  Ketika tiba tahun 2009, dimana banyak pengamat meyakini bahwa pasangan ini tetap akan maju bersama sama pada Pilpres berikutnya, ternyata SBY dan Jusuf Kalla (JK) bercerai. Perceraian yang tidak diharapkan banyak orang mengingat keberhasilan keberhasilan pasangan ini baik secara politik maupun secara ekonomi.


SBY pada awalnya terkesan masih akan mempertahankan untuk berpasangan dengan Jusuf Kalla, namun ternyata SBY memilih berpasangan dengan Budiono yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.  SBY terpilih menjadi presiden untuk periode kedua dengan pasangan yang baru, sementara Jusuf Kalla yang maju menantang bekas pasangannya berhasil dikalahkan.  Kepiawaian SBY untuk menceraikan Jusuf Kalla tanpa munculnya gejolak menurut penulis ini adalah keberhasilan politik yang kedua bagi SBY.


Jadi ketika pada hari minggu kemarin, ketika SBY kembali melakukan langkah politik yang sangat mulus untuk meredam gejolak di partai Demokrat dalam upayanya merebut kekuasaan tertinggi dari Anas Urbaningrum, maka kita hanya bisa menganngguk angguk kepala tanda kagum sekaligus heran.


Keheranan kita tentu saja berkaitan dengan banyaknya kegagalan SBY dalam bidang pemerintahan, dalam peranannya sebagai Presiden.   Banyak masalah pembangunan, masalah politik, masalah ekonomi (khususnya pemerataan), masalah pemberantasan korupsi  yang terlihat SBY menyikapinya serba tanggung dan ragu.


Keberhasilan dia memainkan peranan sebagai politikus khususnya di Partai Demokrat seolah olah tidak diikuti dengan keberhasilan dia sebagai pemimpin negara, sebagai  Presiden Republik Indonesia.  Berlarut larutnya kasus gereja GKI Yasmin di Bogor adalah salah satu contoh dan PR Politik SBY yang sampai saat ini masih terkatung katung.  Tentu hal ini membuat  banyak pihak heran atau mungkin sangat heran.  Secara politik lokal (dipartai dan ambisi pribadi) SBY sangat berhasil.  Namun ketika dia memerankan peranannya sebagai Presiden, SBY terkesan main aman.


Berhasil di partai namun  namun belum berhasil di tingkat negara sebagai presiden menurut saya lebih disebabkan karena kesantunan SBY  berpolitik dalam koalisinya.  SBY terkesan sangat  hati hati dan hormat memperlakukan koalisi politiknya.   Bukan sebagai pertanda bahwa kapasitas politik dan kepemimpinan SBY hanya cocok untuk tingkat Partai.


Tentu harapan semua penduduk dan Rakyat Indonesia adalah agar keberhasilan keberhasilan politik SBY yang tercatat minimal sudah tiga kali dapat dipakai untuk meraih keberhasilan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia yang usianya hanya sekitar  2  tahun lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026