Featured Post

Paralysis of Analysis di GBKP: Menakar Macetnya Kepemimpinan Spiritual di Persimpangan Prosedur

Gambar
Oleh Pt. Em Analgin Ginting  Dengan Bantuan Gemini AI  I. PENDAHULUAN Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saat ini sedang berada dalam sebuah anomali sejarah yang memprihatinkan. Sebuah fakta pahit yang tidak bisa dibantah adalah ketidaktuntasan pembahasan Tata Gereja pada Sidang Sinode GBKP Tahun 2025 Kegagalan ini melahirkan kekosongan hukum (vakum) yang berdampak luas; GBKP sempat berjalan tanpa Tata Gereja yang sah secara hukum sinodal. Akibatnya, muncul kegelisahan masif di ribuan Runggun. Pertanyaan retoris namun pedih bergema: "Gereja kita memakai tata gereja yang mana?" Kondisi ini diperparah oleh manajemen persidangan yang tidak efisien. Bayangkan, sebuah persidangan yang dihadiri oleh sekitar 900 orang peserta (Pendeta, Pertua, dan Diaken). Jumlah yang kolosal ini menuntut logistik yang luar biasa besar, biaya yang membengkak, dan ruang sidang yang luas. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa kuantitas manusia tidak berbanding lurus dengan kualitas keputusan. Kita haru...

Hadiah Seks Bagi Pemain Nigeria Jika Menjadi Juara Piala Afrika

Penangkapan Ahmad Fathanah di dalam  salah satu kamar di Hotel Le Meridien bersama seorang gadis muda belia yang cukup sexy memperkuat  dugaan  gratifikasi sex memang sudah terjadi di Republik kita ini. Tidak cukup uang dan kedudukan yang dikejar untuk memuaskan naluri kekuasaan manusia.  Namun sex yang merupakan perwujudan hedonisme paling tua dalam sejarah manusia tidak pernah bisa ditinggalkan.


Teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju dan canggih ternyata salah satu dampaknya adalah mempermudah hubungan antara pria dan wanita.  Yang selanjutnya menggampangkan proses gratifikasi sex tadi.  Baru berkenalan satu jam bisa berlanjut satu kamar berduaan.



Memang kultur Indonesia sampai saat ini masih membuat tabu hubungan hubungan sex diluar pasangan resmi.  Diperkuat dengan nilai nilai agama, membuat percakapan dan praktek sex  hanya ramai dibawah permukaan



Bahkan hukuman dan sanksi adat dalam masyarakat Indonesia terhadap praktek sex yang tidak resmi bisa berakibat sangat fatal, seperti misalnya dilengserkannya Bupati Kabupaten Garut Aceng Fikri.


Namun sekarang timbul pertanyaan, sampai kapankah prilaku melakuan hubungan sex  diluar pasangan resmi  tetap dijaga dan ditempatkan sebagai sesuatu yang dilarang dan diharamkan.  Sebab timbulnya peristiwa seperti Maharani mengidentifikasikan kemungkinan banyak wanita muda yang bersedia melakukan hal yang serupa.


Ada kekhawatiran  bahwa suatu saat gratifikasi sex dihalalkan dan didukung dengan peraturan dan perundang undangan.   Jika sudah dibuat peraturannya, maka sex menjadi sesuatu yang bukan lagi dianggap tabu atau dosa.



 Di Negara Nigeria, gratifikasi atau hadiah sex ini dianggap bukan haram.  Dan menjadi pekerja sex komersial atau prostitusi dianggap hal biasa.  Hari ini di koran Tempo  edisi 8 Februari 2013 diberitakan bahwa Tim Kesebelasan Nigeria akan diberikan hadiah duit dan sex dari ANP (Asosiasi Prostitusi Nigeria) jika di Final Piala Afrika bisa mengalahkan Negara Burkina Faso.  Setiap pemain akan diberikan layanan sex gratis seminggu penuh.  Wadow…..


Tentu hal seperti di Neigeria  tidak kita harapkan terjadi di Indonesia, karena dengan runtuhnya benteng etika ini maka kemungkinan banyak implikasi negatif yang muncul dan merusak masyarakat dan negara.


Namun dipihak lain kita juga sanksi dan menakutkan hal ini bisa menjadi kenyataan, karena faktor kepemimpinan negara serta lembaga lembaga agama dan kemasyarakatan sangat lemah, lambat dan cenderung reaktif  dalam memantau, mengarahkan prilaku prilaku yang terjadi dalam masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025