Featured Post

Mengapa Aku Percaya Yesus Kristus Bangkit dari Kematian: Kedaulatan Ilahi di Atas Reruntuhan Narasi Manusia

Gambar
  Abstrak ​ Artikel ini menegaskan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah peristiwa sui generis yang tidak tunduk pada validasi atau negosiasi perspektif manusia. Dengan membedah kegagalan ontologis dari berbagai narasi penolakan—seperti teori substitusi, halusinasi, dan pencurian—penulis berargumen bahwa kebangkitan merupakan realitas primer yang ditenun oleh kehendak mutlak Sang Pencipta. Kebangkitan bukanlah sebuah hipotesis yang menunggu pembuktian manusia, melainkan sebuah aksioma ilahi yang menuntut penyerahan diri secara intelektual dan spiritual. ​ I. Pendahuluan: Kebangkitan sebagai Anomali Kosmis ​Kebangkitan Yesus Kristus sering kali ditarik secara paksa ke dalam ruang sidang empiris yang sempit, di mana manusia mencoba menghakiminya dengan alat ukur materialisme yang terbatas. Padahal, kebangkitan bukanlah sekadar peristiwa sejarah linier yang tunduk pada hukum sebab-akibat biologis, melainkan sebuah intervensi radikal Sang Pencipta ke dalam keterbatasan ruang da...

Natal Adalah Peristiwa Penguatan Keluarga Terhebat

Hampir saja Natal akan diwarnai dengan perceraian. Jika hal ini sampai terjadi, maka selamanya natal bukanlah sebuah peristiwa yang menggembirakan.  Namun perceraian itu tidak sampai terjadi meskipun sudah diujung tanduk yang sangat runcing dan tajam.   Karena intervensi yang maha Agung dari Allah Bapa, dan berkat ketaataan yang amat hormat dari Malaikat, maka peristiwa natal berubah menjadi sebuah moment kehidupan rumah tangga yang amat mulia.


Jusuf sang calon suami sudah tiba pada sebuah keputusan bulat.  Dia akan meninggalkan Maria, sang tunangan  abadinya.  Karena sebuah “Pengkhianatan”  yang amat mneyakitkan rasa dan nalar.  Maria tiba tiba hamil diluar nikah.  Seorang wanita yang lugu dan sebelumnya sangat terlihat suci  tiba tiba melampaui kodrat kewanitaannya.   Maria mengingkari  semua kata kata dan komitmen yang bisa muncul dari otak dan lidah manusia.


Sebuah kejadian yang Astral yang dia alami hanya bisa dia respon dengan perkataan yang paling dalam dan tulus  oleh Gadis Remaja bertunangan, bahkan oleh semua umat manusia : "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Maria sudah siap untuk menerima segala risiko yang akan timbul dalam hidupnya atas intervensi Roh Kudus yang menghamilinya, termasuk bayangan kehilangan suami yang sungguh sangat dia cintai.


Namun ada sebercik keyakinan dalam gumpalan keraguan, bahwa ada peristiwa serupa yang  dia ingat pernah terjadi hampir 2000 tahun yang lalu.  Kali inipun berkaitan dengan seorang  anak, dalam suatu rumah tangga yang paling dan amat terkenal sepanjang Masa.  Ishak nama anak 9 tahunan itu akan dikorbankan, padahal kelahirannya sudah dinanti puluhan tahun sampai masa menopause pun tiba bagi ibunya.  Kelahirannya pun terjadi atas intervensi Sang Maha Agung, Allah Bapa.  Sebab dalam semua logika manusia tidah mungkin terjadi.


Bayangkanlah mana lebih sulit mengandung di luar nikah, atau mengandung dalam masa sesudah “kering” sesudah peristiwa bulanan wanita dewasa hilang lenyap? Lebih sulit mana? Ahh ternyata jawabnya adalah : “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1: 37).


Dan anak yang sudah lahir berusia 9 tahunan  ini  atas keinginan Tuhan akan dikorbankan diatas puncak bukit, dan sang ayahandanya   sendiri yang akan menyembelihnya. Namun pada detik menuju pengorbanan  yang sulit dipahami, Tuhan Allah memberikan gantinya berupa seekor domba.  Tidak jadi ada masalah dalam keluarga Abraham. Tidak jadi ada penyesalan dalam diri wanita tua nan cantik “Sarah” yang telah melahirkannya.  Sukses lah Abraham mempertanggung jawabkan imannya.   Lenyaplah sudah alasan untuk memberikan korban manusia kepada dewa dewa yang jati dirinya adalah iblis.


Ingatan ini meneguhkan Maria, maka apapun yang kan terjadi pada diriNya adalah atas kehendak Sang Maha Kuasa, dan atas misi menyelamatkan umat manusia. 


Malam itu ada peristiwa sangat aneh menimpa dirinya.  Ingatannya tertuju kepada Jusuf Sang Kekasih tunangannya.  Ada perasaan takut yang dia alami tentang diri kekasihnya itu.  Di seberang sana Jusuf pun amat gelisah membulatkan pikirannya.   Dalam pikiran yang amat rumit, dan hati yang amat sakit terkhianati dia akan meninggalkan Maria tunangannya.  Diam diam dia akan pergi menuju ujung jalan yang tak terbayangkan.  Membawa puing puing hati yang hancur, runcing tajam menusuk nusuk harga dirinya.


Namun sebuah intervensi Agung dari Sorga kembali melakonkan peranan terhebatnya.  Paling hebat dari semua scenario yang mungkin ditulis manusia.  (Kisah ini akan menjadi kisah percintaan terhebat dalam seluruh sejarah industri perfilman dunia yang katanya pusatnya di Holywood dan Bollywood).  Sebuah kejadian amat nyata masuk ke dalam mimpi Jusuf, yang pada saat itu mempunyai panjang gelombang antara sadar dan bawah sadar, Lalu muncul lah sepotong perkataan yang disutradari langsung dari Sorga


 "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."  Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:  "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.


 Apa alasan Hanung Bramantyo membuat Film “Cinta Tapi Beda”?  Hanya untuk sebuah hiburan dan sebuah perenungan.  Ide film yang muncul dari Cerpen yang ditulis oleh seorang remaja bernama Dwitasari ini akan menjadi perbincangan selama beberapa saat.  Namun skenario yang difilmkan dari sorga akan menjadi perbincangan selama lamanya.


Jusuf pun takluk dalam kemenangannya sebagai laki laki.  Dia membuang pikiran untuk meninggalkan Maria tunangnnya.  Dia mengaminkan perkataan Malaikat yang dibawanya dari Surga.  Besok pagi dia berbegas datang ke rumah tunangannya itu.  Berlari dia  mengetuk pintu, dan matanya menatap Maria yang tadi malam gelisah memikirkannya, tangannya terbuka untuk medekap mesra Kekasihnya dalam dekapan agung yang mengandung seluruh rasa. 


Lama sekali Jusuf  memeluk Maria tanpa mengeluarkan seluruh kata.  Perasaan mereka bersatu, nyambung antara satu dengan yang lain, karena dikehendaki demikian dari Surga.  Selanjutnya adalah keabadian yang setiap saat, setiap tahun memberi inspirasi kepada semua umat manusia, bahwa rumah tangga adalah kehendak Tuhan.  Pasangan suami dan istri, sekali untuk selamanya dan itu yang diinginkan dari Surga, serta menjadikan semua keluarga dan rumah tangga sebagai alat untuk memuliakan Tuhan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025