Featured Post

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026

Gambar
 ​ Tema: Kalak Si Tek Rembak Ras Dibata (Orang yang Percaya Dekat dengan Allah) Nats: Roma 10 : 1 – 4 ​ 1. Pendahuluan ​Setiap manusia pada dasarnya memiliki religiositas —sebuah kerinduan bawaan (naluri) untuk mencari, menyembah, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, dalam realitas kehidupan, banyak orang terjebak dalam kesibukan ritual dan aktivitas keagamaan yang luar biasa giat, tetapi kehilangan arah dan esensi yang sejati. ​Melalui surat Roma ini, Rasul Paulus membedah kontras antara "kegiatan agama yang meluap-luap" dengan "pengenalan yang benar akan Allah". Menjadi dekat dengan Allah ( rembak ras Dibata ) bukan soal seberapa keras kita berusaha membenarkan diri sendiri, melainkan seberapa penuh kita berserah pada kebenaran yang telah Allah sediakan. ​ 2. Fakta Tekstual (Analisis Teks) ​ Ayat 1: Paulus mengungkapkan kerinduan terdalam (empati dan kasih yang besar) serta doanya agar bangsa Israel memperoleh keselamatan. ​ Ayat 2: Paulu...

Film "Cinta Tapi Beda" Perlu Dijadikan Bahan DIskusi Lebih Serius

Saya sempat bingung untuk menduga duga akhir cerita film “Cinta Tapi Beda”  yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra.  Hari ini tanggal 27 Desember 2012, film ini mulai diputar di bioskop-bioskop  Tanah Air.  

Apakah akhir ceritanya Cahyo (Reza Nangin) akan menikah dengan anak Pak Lurah pilihan ibu dan ayahnya di Jogja, dan Diana juga akan menikah dengan dr Oka yang menjadi pilihan ibunya?  Kalau begitu akhir ceritanya maka saya akan menyesal sekali menonton film ini.  Sebab akhirnya film ini akan menjadi film yang sangat biasa dan berakhir dengan datar tanpa makna.


Akan tetapi saya benar benar terkejut, bangga dan sampai meneteskan air mata, menemukan akhir cerita yang sangat cerdas dari Hanung.


Dalam adegan ibadah pemberkatan nikah di gereja katolik di Padang, kedua calon pengantin memasuki altar.  Sang pengantin pria (Choky Sitohang) ditanya oleh Pastor yang menjadi imam, apakah dia akan mencintai penganten wanita selama lamanya? Dijawab dengan tegas, “ saya akan mencintainya”. 



Lalu pertanyaan pastor dialihkan kepada penganten wanita, dan tidak ada jawaban.  Penganten wanita  Diana ( Agni Pratistha) diam dalam kebingungannya.  Tiba tiba si penganten laki laki permisi kepada Pastor untuk bertanya kepada penganten wanita,  apakah dia bersedia menjadi istrinya.  Kembali diam, dan wajah kebingungan.

Tiba tiba penganten laki laki berkata, pernikahan ini lebih baik dibatalkan.  Disinilah saya melihat kecerdasan Sang Sutradara, karena dia mampu mengambil akhir film dengan sangat klimaks dan sesuai dengan keinginan seluruh penonton.

Selanjutanya, Ibu Diana yang diperankan dengan sangat bagus oleh Jajang C Noor mengijinkan anaknya untuk pergi mengikuti kata hatinya.  “Aku tidak ingin lagi melihat air matamu” kata Jajang.

Pada adegan yang lain, di Jogja sana Ibunda Cahyo pun merestui anaknya untuk menikah dengan gadis pujannya.  Tapi tidak dengan ayahnya yang tetap bersikeras bahwa berdosa menikah dengan gadis musyrik.

Cukup berani Hanung Bramantyo mengangkat film ini setelah film nya yang pernah jadi polemik “?”.  
Namun bisa juga dipahami apa yang ingin disampaikan oleh Hanung, bahwa kenyataan “Cinta Tapi Beda” tidak mungkin dihapuskan atau dihilangka dari bumi Indonesia.  Persoalan ini akan tetap muncul, karena peluang untuk jatuh cinta antara dua insan berbeda agama atau keyakinan akan tetap ada.

Bisa saja suatu saat film  ini dilarang untuk beredar, karena tajamnya polemik yang dihadirkannya.  Namun fakta bahwa jatuh cinta atau menikah dengan pasangan yang berbeda agama dan  keyakinan akan selalu ada.

Jadi, kalau kita lebih dewasa berfikir maka film “Cinta Tapi Beda”  bisa dipakai untuk membuat langkah antisipasi dalam menemukan solusi yang lebih baik dan win win.  Hanung mengakhiri ceritanya dengan memberikan kepada penonton membuat ending dari film ini.  Untuk yang bersedia berfikir lebih jauh  tentang makna perbedaan agama, film ini sangat menarik untuk ditonton.

Komentar

Putra mengatakan…
Pemain Film nya ini Orang karo ya bang, Reza Nangin (kependekan dari Marga Perangin-angin). Bener gak tuch?
Analgin Ginting mengatakan…
Hahaha, tadinya sempat juga aku berfikir begitu, kupikir dia marga perangin-angin seperti kam bilang. hehehe. Terima kasih sudah meninggalkan jejak.

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025