Featured Post

Keterhubungan Suku Karo dengan Suku Melayu Deli

Gambar
​Mendekonstruksi Dikotomi Pedalaman-Pesisir dan Mitologi Etnitisasi Kolonial di Sumatera Utara ​ Oleh: Sintesis Historiografi dan Antropologi Kritis (Daniel Perret & Erond L. Damanik) ​Historiografi arus utama Sumatera Utara kerap dipenjara oleh dikotomi biner yang tajam: Melayu di ranah pesisir yang diidentikkan dengan keadaban, literasi, Islam, dan kosmopolitanisme; berhadapan dengan suku-suku pedalaman—yang disatukan di bawah label payung "Batak"—yang distigmatisasi sebagai masyarakat terisolasi, kasar, tak beradab, hingga kanibal. Narasi dikotomis ini tidak hanya cacat secara metodologis, melainkan juga mengabaikan fakta sejarah mengenai dinamika integrasi sosio-ekonomi dan politik yang harmonis di kawasan Sumatera Timur Laut prakolonial. ​Melalui sintesis pemikiran ahli sejarah Perancis, Daniel Perret, dan antropolog Universitas Negeri Medan, Prof. Erond L. Damanik, artikel ini mengurai fakta bahwa keterpisahan kultural dan etnis antara Suku Karo dan Suku Mela...

Film "Cinta Tapi Beda" Perlu Dijadikan Bahan DIskusi Lebih Serius

Saya sempat bingung untuk menduga duga akhir cerita film “Cinta Tapi Beda”  yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra.  Hari ini tanggal 27 Desember 2012, film ini mulai diputar di bioskop-bioskop  Tanah Air.  

Apakah akhir ceritanya Cahyo (Reza Nangin) akan menikah dengan anak Pak Lurah pilihan ibu dan ayahnya di Jogja, dan Diana juga akan menikah dengan dr Oka yang menjadi pilihan ibunya?  Kalau begitu akhir ceritanya maka saya akan menyesal sekali menonton film ini.  Sebab akhirnya film ini akan menjadi film yang sangat biasa dan berakhir dengan datar tanpa makna.


Akan tetapi saya benar benar terkejut, bangga dan sampai meneteskan air mata, menemukan akhir cerita yang sangat cerdas dari Hanung.


Dalam adegan ibadah pemberkatan nikah di gereja katolik di Padang, kedua calon pengantin memasuki altar.  Sang pengantin pria (Choky Sitohang) ditanya oleh Pastor yang menjadi imam, apakah dia akan mencintai penganten wanita selama lamanya? Dijawab dengan tegas, “ saya akan mencintainya”. 



Lalu pertanyaan pastor dialihkan kepada penganten wanita, dan tidak ada jawaban.  Penganten wanita  Diana ( Agni Pratistha) diam dalam kebingungannya.  Tiba tiba si penganten laki laki permisi kepada Pastor untuk bertanya kepada penganten wanita,  apakah dia bersedia menjadi istrinya.  Kembali diam, dan wajah kebingungan.

Tiba tiba penganten laki laki berkata, pernikahan ini lebih baik dibatalkan.  Disinilah saya melihat kecerdasan Sang Sutradara, karena dia mampu mengambil akhir film dengan sangat klimaks dan sesuai dengan keinginan seluruh penonton.

Selanjutanya, Ibu Diana yang diperankan dengan sangat bagus oleh Jajang C Noor mengijinkan anaknya untuk pergi mengikuti kata hatinya.  “Aku tidak ingin lagi melihat air matamu” kata Jajang.

Pada adegan yang lain, di Jogja sana Ibunda Cahyo pun merestui anaknya untuk menikah dengan gadis pujannya.  Tapi tidak dengan ayahnya yang tetap bersikeras bahwa berdosa menikah dengan gadis musyrik.

Cukup berani Hanung Bramantyo mengangkat film ini setelah film nya yang pernah jadi polemik “?”.  
Namun bisa juga dipahami apa yang ingin disampaikan oleh Hanung, bahwa kenyataan “Cinta Tapi Beda” tidak mungkin dihapuskan atau dihilangka dari bumi Indonesia.  Persoalan ini akan tetap muncul, karena peluang untuk jatuh cinta antara dua insan berbeda agama atau keyakinan akan tetap ada.

Bisa saja suatu saat film  ini dilarang untuk beredar, karena tajamnya polemik yang dihadirkannya.  Namun fakta bahwa jatuh cinta atau menikah dengan pasangan yang berbeda agama dan  keyakinan akan selalu ada.

Jadi, kalau kita lebih dewasa berfikir maka film “Cinta Tapi Beda”  bisa dipakai untuk membuat langkah antisipasi dalam menemukan solusi yang lebih baik dan win win.  Hanung mengakhiri ceritanya dengan memberikan kepada penonton membuat ending dari film ini.  Untuk yang bersedia berfikir lebih jauh  tentang makna perbedaan agama, film ini sangat menarik untuk ditonton.

Komentar

Putra mengatakan…
Pemain Film nya ini Orang karo ya bang, Reza Nangin (kependekan dari Marga Perangin-angin). Bener gak tuch?
Analgin Ginting mengatakan…
Hahaha, tadinya sempat juga aku berfikir begitu, kupikir dia marga perangin-angin seperti kam bilang. hehehe. Terima kasih sudah meninggalkan jejak.

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026