Featured Post

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

Gambar
  Thema: Memahami Kasih Sayang Tuhan (Ngangka Kerna Keleng Ate Dibata) Teks: Efesus 3:14–21 ​ Pendahuluan ​Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, dan Artificial Intelligence (AI) sampai pada akhir September 2026 ini, manusia dihadapkan pada kemudahan sekaligus disrupsi kehidupan yang luar biasa. AI dan algoritma digital mampu menjawab berbagai persoalan teknis, memberikan analisis yang cepat, serta menawarkan solusi atas kebutuhan fisik dan praktis manusia secara instan. Namun, di balik seluruh kecanggihan teknologi tersebut, ada ruang terdalam dalam jiwa manusia—rasa hampa, kebingungan nilai, dan kerinduan akan kasih sejati—yang tidak pernah dapat diisi oleh algoritma maupun kecerdasan buatan manapun. ​Kondisi zaman ini menegaskan kembali betapa pentingnya doa untuk mengenal Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus secara pribadi dan mendalam. Pengetahuan intelektual yang dihasilkan oleh teknologi bersifat terbatas dan permukaan, sedangkan pengenala...

SANG GURU




Setiap habis kebaktian Nande Rabun selalu menggerutu, “Saya sangat terganggu dengan mereka mereka ini”.
“Kenapa?”, tanya Nande Pagit.
“Mereka selalu mengkritik dan menimpali ucapan pembawa Firman. Apa kah mereka kalau di depan bisa? Belum lagi mereka bercerita saat ibadah, benar benar tidak menghormati”, gerutu Nd Rabun..

Nande Pagit tergerak hatinya, dan bersimpati kepada Nande Rabun lalu menyerahkan sebuah buku untuk dibaca. Dua minggu berikutnya terjadi perubahan dalam diri Nande Rabun dan ketika bertemu dengan Nande Pagit dia berkata, “Bujur ya Nande Pagit, saya sangat dicerahkan oleh Buku yang kam beri” Dan saya sadar bahwa “mereka adalah guru saya, bahkan guru terbaik bagi saya”.

Terjadi perubahan dalam diri Nande Rabun, dan semua orang bisa melihatnya. Sekarang dia tidak menggerutu lagi tapi terlihat sangat bersuka cita tatkala pulang kebaktian.
Sebenarnya apa yang membuat perubahan dalam diri Nande Rabun? Ternyata dia merasa bertemu dengan sang guru. Guru yang dalam bahasa sangsekerta artinya “Yang menghilangkan kegelapan”. Atau yang menyebabkan pencerahan. Dan semua orang tahu bahwa Guru Terbesar sepanjang masa adalah Yesus Kristus.

Yesus Kristus lah yang berkata “Kasihilah Musuhmu”. Suatu uangkapan atau ajaran yang berlawanan dengan logika biasa. Namun seorang penyair keturunan Libanon yang bernama Kahlil Gibran dalam satu puisinya memberikan contoh dari apa yang (mungkin) dikatakan Tuhan Yesus : Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran, dan kebaikan dari yang jahat. Arti kejujuran dari yang bohong. Namun anehnya aku tidak pernah merasa berterima kasih kepada guru-guruku ini.”

Musuh ternyata bisa berubah jadi Guru, karena kita belajar daripadanya. Seperti Nande Rabun, yang belajar dari orang-orang yang membuat dia pada awalnya menggerutu.
Namun bukan kita yang membuat diri kita menjadi guru, tapi muridlah yang membuat seseorang menjadi guru. Tanpa Murid yang mau belajar, tetap tidak ada guru. Dalam hal ini, Kristus adalah Guru terbesar bagi orang yang mau menjadi muridNya. Semoga saya, kam, kita dan mereka pun tercerahkan kelak.
(Dimodifikasi dari Tulisan Nd Cindy Tarigan , Bekasi Timur Regency)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026