Featured Post

Synopsis Blades of the Guardians; Kembalinya Sang Legenda dan Kedewasaan Sinema Tiongkok

Gambar
  ​Oleh: Analgin Ginting ​Dunia sinema bela diri Tiongkok kembali diguncang oleh sebuah karya monumental yang bukan sekadar memamerkan adu pedang, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang kemanusiaan, intrik politik, dan prinsip hidup. Blades of the Guardians (atau Biao Ren), yang kini tengah menghiasi layar bioskop di Jabodetabek, menjadi magnet utama bagi para pencinta film kolosal. ​1. Kembalinya Jet Li: Penampilan yang Membuat "Pangling" ​Salah satu daya tarik terbesar film ini adalah kembalinya sang legenda kungfu dunia, Jet Li. Namun, bagi penonton yang datang dengan ekspektasi melihat "Wong Fei-hung" yang lincah atau "lethally fast" seperti di era 90-an, bersiaplah untuk terkejut. ​Jet Li tampil sebagai Chang Guiren, seorang pejabat tinggi di era Dinasti Sui. Penampilannya benar-benar bertransformasi total. Dengan riasan wajah yang matang, kumis dan jenggot panjang yang berwibawa, serta kostum kebesaran yang berat, banyak penonton yang hampir tida...

SANG GURU




Setiap habis kebaktian Nande Rabun selalu menggerutu, “Saya sangat terganggu dengan mereka mereka ini”.
“Kenapa?”, tanya Nande Pagit.
“Mereka selalu mengkritik dan menimpali ucapan pembawa Firman. Apa kah mereka kalau di depan bisa? Belum lagi mereka bercerita saat ibadah, benar benar tidak menghormati”, gerutu Nd Rabun..

Nande Pagit tergerak hatinya, dan bersimpati kepada Nande Rabun lalu menyerahkan sebuah buku untuk dibaca. Dua minggu berikutnya terjadi perubahan dalam diri Nande Rabun dan ketika bertemu dengan Nande Pagit dia berkata, “Bujur ya Nande Pagit, saya sangat dicerahkan oleh Buku yang kam beri” Dan saya sadar bahwa “mereka adalah guru saya, bahkan guru terbaik bagi saya”.

Terjadi perubahan dalam diri Nande Rabun, dan semua orang bisa melihatnya. Sekarang dia tidak menggerutu lagi tapi terlihat sangat bersuka cita tatkala pulang kebaktian.
Sebenarnya apa yang membuat perubahan dalam diri Nande Rabun? Ternyata dia merasa bertemu dengan sang guru. Guru yang dalam bahasa sangsekerta artinya “Yang menghilangkan kegelapan”. Atau yang menyebabkan pencerahan. Dan semua orang tahu bahwa Guru Terbesar sepanjang masa adalah Yesus Kristus.

Yesus Kristus lah yang berkata “Kasihilah Musuhmu”. Suatu uangkapan atau ajaran yang berlawanan dengan logika biasa. Namun seorang penyair keturunan Libanon yang bernama Kahlil Gibran dalam satu puisinya memberikan contoh dari apa yang (mungkin) dikatakan Tuhan Yesus : Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran, dan kebaikan dari yang jahat. Arti kejujuran dari yang bohong. Namun anehnya aku tidak pernah merasa berterima kasih kepada guru-guruku ini.”

Musuh ternyata bisa berubah jadi Guru, karena kita belajar daripadanya. Seperti Nande Rabun, yang belajar dari orang-orang yang membuat dia pada awalnya menggerutu.
Namun bukan kita yang membuat diri kita menjadi guru, tapi muridlah yang membuat seseorang menjadi guru. Tanpa Murid yang mau belajar, tetap tidak ada guru. Dalam hal ini, Kristus adalah Guru terbesar bagi orang yang mau menjadi muridNya. Semoga saya, kam, kita dan mereka pun tercerahkan kelak.
(Dimodifikasi dari Tulisan Nd Cindy Tarigan , Bekasi Timur Regency)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025