Featured Post

Musuh Yang Kita Hadapi Tidak Selemah Yang Kita Bayangkan

Gambar
  ​ Oleh:  Pt. Em, Analgin Ginting ​Pendahuluan: Paradoks Pengenalan Diri ​Perjalanan spiritualitas manusia sering kali terjebak dalam dikotomi antara yang sakral dan yang profan. Namun, sebuah tesis mendasar yang diangkat oleh Dharma Pongrekun mengingatkan kita pada sebuah kebenaran kuno: mustahil bagi seseorang untuk beriman kepada Tuhan jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Iman tanpa pengenalan diri adalah sebuah fatamorgana intelektual, sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Jika kita tidak memahami siapa subjek yang percaya, maka objek kepercayaan itu pun menjadi kabur dan kehilangan esensinya. ​Dalam konteks teologi klasik, gagasan ini menemukan resonansi terdalamnya dalam pemikiran Yohanes Calvin. Calvin menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita sendiri adalah dua hal yang saling bertaut erat. Seseorang tidak dapat memandang dirinya secara jujur tanpa menyadari kehadiran Sang Pencipta, dan sebaliknya, seseorang tidak dapat mem...

MAKAN



Bahwa cara makan yang paling akrab adalah makan bersama berkelompok-kelompok, bukan sendirian. Dan makan berkelompok adalah awalan untuk saling berkenalan luar dan dalam. Sebab dalam makan lah kita melihat manusia dalam jati dirinya yang sebenarnya, melihat naluri naluri purba, naluri yang paling dasar. Kita akan saling mengenal, kita mengenal orang asing, kita mengenal kebersahajaan kekasih-kekasih kita, saat makan. Pakailah acara makan bersama untuk mengenal seluruh isi keluarga Anda.

Bahwa saat atau waktu makan yang paling enak, adalah sesaat setelah kita berjalan jauh dalam mengikut Kristus. Setelah kita bekerja keras, setelah kita bertempur mempertahankan kebenaran, setelah capek dan kelelahan dalam upaya mengikuti komitmen pelayanan kita. Setelah kita mendoakan dan mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa kita masih hidup. Lelah, capek, susah, adalah tanda bahwa kita masih hidup. Lalu bersyukurlah bahwa kita masih dianugerahi kelelahan dan kecapekan.

Bahwa menu makan yang paling enak adalah roti dan ikan yang diberkati Kristus. Sebab Roti dan Ikan yang jumlahnya hanya lima dan dua, sanggup memberi makan lebih 5000 orang. Bahkan masih tersisa dua belas bakul penuh. Semuanya karena anugerah. Semuanya karena diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Dan kalau anda mempunyai beras “sada gantang” dan “ikan kepala batu” dua , “ cina cur, sere dan kembiri ras sira bagepe lacina” kalau itu diberkati Tuhan, akan sanggup memberi Anda makan 5000 kali bahkan lebih. Bayangkan seisi keluarga Anda sudah dijamin Tuhan bisa makan 5000 kali.

Lima ribu kali makan, dibagi 3 kali dalam sehari lebih 1600 hari. Dan 1600 hari kalau dibagi 365 hari setahun adalah lebih kurang 4 tahun. Artinya sekali Anda berdoa kepada Tuhan Yesus meminta makan sehari yang diberikan makanan 4 tahun. Tapi Tuhan kita lebih besar lagi KekelengenNya, bahkan kita diajari berdoa setiap hari meminta makan. Dan Tuhan memberikan 4 tahun. “Sekali kam ertoto mindo nakan sada wari ibereken Tuhan nakan 4 Tahun. Sada bulan kam ertoto mindo nakan man Tuhan enggo igenepi nakanndu 30 kali 4 tahun, SERATUS DUA PULUH TAHUN. OH betapa dalam kasihMu kepadaku Tuhan. Terima kasih Tuhan. Aku yakin sekarang, tidak pernah engkau membiarkan kami kelaparan. Halleluya.
(Diinspirasi dari kisah Yesus Memberi Makan Lima Ribu orang, Matius 6 : 34-44)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025