Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 26 April - 2 Mei 2026

Gambar
  Allah Yang Awal dan Akhir: Kompas Iman di Tengah Badai Dunia ​ I. Pengantar: Menghadapi Narasi Ketakutan Dunia ​Dunia hari ini seolah sedang merawat ketakutan massal. Krisis global, ketidakpastian ekonomi, dan dominasi narasi dari "orang-orang kuat" dunia menciptakan atmosfir kecemasan yang mencekam. Namun, teks Wahyu 1:4-8 hadir bukan sekadar sebagai pengingat sejarah, melainkan sebagai pernyataan apokaliptik yang 100% relevan dengan realitas saat ini. Di tengah gempuran kuasa duniawi yang fana, kita dipanggil untuk mengalihkan pandangan kepada Satu Kuasa yang absolut dan kekal, menjadikannya satu-satunya panduan utama dalam langkah hidup sehari-hari. ​ II. Fakta Alkitabiah (Wahyu 1:4-8) ​Berdasarkan nas tersebut, terdapat beberapa pilar fakta yang mengukuhkan posisi umat beriman: ​ Sumber Damai: Salam kasih karunia datang dari Allah Tritunggal—Dia yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang; dari tujuh roh di hadapan takhta-Nya; dan dari Yesus Kristus. ​ ...

“MINTALAH SEORANG ANAKMU, KAWAN”.



Seorang pengusaha sangat kaya raya suatu saat meminta sesuatu kepada sahabat sangat karibnya. Dia memang sangat kaya dalam harta, uang dan kepemilikan serta mempunyai banyak sekali barang. Barang yang dia punyai semuanya berkelas dengan Merek/Brand dunia. Hanya satu yang dia tak punya yaitu anak. Sahabatnya seorang yang sangat bersahaja dan hidup pas-pasan. Namun mempunyai 4 orang anak yang cakep dan ganteng, cerdas dan berani.

“Berikan lah aku satu orang anakmu, kamu kan punya 4 orang sedangkan aku satu pun engga punya, pintanya. Sebagai gantinya kamu ambil saja apa yang kamu rasa paling berharga diantara semua harta harta saya,terserah kamu berapa banyak yang kamu mau ambil sebagai gantinya, katanya menambahkan.

"Oh boleh saja, engkau kan sahabatku sejak dahulu dan sampai sekarangpun kita tetap berteman, timpal sahabatnya". Namun aku akan mendiskusikannya dulu dengan istriku, sebab semua anak kami kan milik berdua. Katanya dengan sedikit bercanda.

Ketika dia bertemu dengan istrinya, diceritakannya lah permohonan sahabat karibnya itu. Dia lalu berkata, bagaimana kalau anak sulung kita saja kita berikan kepada sahabatku itu? Oh, jangan gak boleh, soalnya wajahnya paling mirip dengan nini bulangnya, bengkila, kata istrinya. Kalau anak kita yang nomor dua bagaimana kata sang suami pula. Ah itu juga gak boleh karena sifat, kebaikannya dan wajahnya paling mirip denganku kan? kata istrinya.

Kalau nomor tiga bagaimana kata suaminya. Bagaimana pula papa ini, dia dengammu kan seperti pinang dibelah dua. Jika kamu lagi tugas ke luar kota, aku kan sengaja memandang wajahnya saa dia terlelap, untuk mengobati rasa rinduku kepadamu. Janganlah.

Si suami terdiam, dan merasa bingung dan berfikir tidak akan bisa menyerahkan satu orang pun anaknya kepada sahabatnya orang super kaya itu. Dia tidak mengusulkan anaknya nomor 4, karena merupakan anak bungsu dan kesayangan mereka berdua, suami istri.

Manusia memang sulit sekali memberikan satu orang saja anaknya kepada teman dan sahabatnya. Tidak demikian dengan Allah. AnakNya hanya satu satunya, namun Dia menyerahkannya kepada manusia, karena keagungan kasih sayang Allah.

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Dimodifikasi dari ilustrasi Pdt Sutijono, yang masih aktif memberi kuliah dalam usianya yang sudah 78 tahun. )

Komentar