Featured Post

Bapa Kami, Guru Spiritual Kami

Gambar
Pada hari Selasa, 22 Januari 2026 lalu, kami telah mengantarkan bapa kami tercinta ke tempat peristirahatan sementaranya di dunia. Jenazah beliau dimakamkan di kuburan keluarga di desa kami. Pusaranya di Pendem Bulanjahe telah lebih dahulu ditempati oleh saudaranya, ayahnya (bulang kami), serta nenek tigan kami, Beru Tarigan Tendang, yang meninggal pada tahun 1978 dalam usia sekitar 55 tahun.  Ayah kami menjadi anak yatim sejak usia tujuh tahun, ketika ayahnya—bulang kami—meninggal pada tahun 1950. Sejak itu ia dibesarkan oleh ibunya serta bibi tengah dan bibi tuanya, Beru Ginting Munte, yang sangat menyayanginya, juga sangat menyayangi kami. Ayah kami bertumbuh di jalanan. Ia seorang single fighter. Sekolahnya hanya sampai SMP dan tidak tamat.  Sekitar tahun 1974 terbuka lowongan menjadi pegawai negeri di RSU Kabanjahe. Ayah mengikuti ujian persamaan setara SMP untuk memperoleh ijazah yang diperlukan. Dengan bantuan Dr. Batur Ginting, Kepala RSU saat itu, ia diterima menjadi ...

HANYA KARENA SEBUAH SENTUHAN



Dia tahu betul siapa dirinya, dan sadar posisinya dalam keterhubungannya dengan orang-orang disekitar. Bahwa dirinya tidak ada harga sama sekali. Oleh karena penyakit yang diderita selama dua belas tahun terakhir dalam hidupnya, seolah menjadikan tembok tidak tertembus untuk bisa berhubungan dan berbicara dengan manusia lain. Dia mengalami pendarahan dalam kutuk kewanitaannya.

Namun demikian tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, tidak ada sesal yang memancar dari tangan dan kakinya, serta tidak ada marah yang menyembul dari sinar matanya.

Oleh sebab itu, dia pun tidak pernah berharap ada orang lain yang berempati dan mau mengulurkan tangan belas kasihan kepada dirinya. Tak perlu ada percakapan apalagi yang hanya basa basi, sebab pada akhirnya semua orang akan meninggalkannya juga. Terutama  setelah bertahun tahun diobati oleh seorang tabib yang telah menguras habis semua yang ada padanya.

Tiba-tiba semuanya berubah, saat dia mendengar BERITA besar, bahkan BERITA PALING BESAR untuk semua kehidupan, sebab SANG AWAL dan PEMILIK KEHIDUPAN yang amat sederhana itu akan mendekat ketempatnya. HARAPAN nya memuncak, bahwa akan terjadi sesuatu yang luar biasa dalam seluruh kehidupannya. Kata-kata harap tiba-tiba saja meliputi seluruh jantung hati dan otaknya, “asal aku sentuh dan terhubung dengan DIA, aku akan sembuh”.

Begitulah selanjutnya ditengah kerumunan yang amat ramai, saat pagar manusia dan semua orang seolah tidak peduli lagi dengan manusia sekitarnya, yang mengerubungi SANG HIDUP, dia hanya mencari satu titik saja di JUBAH SANG MESIAS dan PENYELAMAT seluruh alam.

Sentuhan itu terjadi, ada aliran listrik kuasa mujijat yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Dan KRISTUS sendiri menyadari ada pergerakan yang mengalir keluar dari TUBUH NYA yang ditarik oleh kekuatan Iman yang amat dahsyat.

Lalu DIA berpaling dan menemukan Sang Wanita terduduk gemetar dalam keheranan yang amat menakutkannya. Akan tetapi SANG DAMAI berkata dalam kata-kata yang sangat lembut dan putih "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 

(Diinspirasi dari Markus 5 : 25-34)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025