Catatan Tambahan PJJ 1 - 7 Maret 2026
BERUTANG UNTUK MENGASIHI (RUTANG ENGKELENGI)
Berdasarkan �
Teks: 1 Yohanes 4:11–21
Pendahuluan
Dalam budaya Karo, istilah rutang bukan hanya berarti kewajiban ekonomi, tetapi juga kewajiban moral dan relasional. Kita mengenal hutang adat, hutang budi, hutang kekerabatan. Namun dalam terang Injil, Rasul Yohanes memperkenalkan satu jenis “hutang” yang jauh lebih tinggi: hutang kasih.
Kasih bukan sekadar pilihan emosional, tetapi respons eksistensial terhadap kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi kita. Karena Allah mengasihi, maka kita berutang untuk mengasihi.
Berutang untuk mengasihi bukanlah beban, melainkan identitas.
Fakta
- Beberapa realitas yang kita lihat hari ini:
- Banyak orang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi relasi horizontalnya rusak.
- Kekristenan sering berhenti pada pengakuan iman, bukan pembuktian kasih.
- Ketakutan, kecemasan, dan pertimbangan duniawi sering lebih dominan daripada iman.
- Relasi antar saudara sering dipengaruhi kepentingan, logika untung-rugi, dan harga diri.
Rasul Yohanes dengan tegas menyatakan:
“Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.”
Artinya: kasih vertikal dan horizontal tidak bisa dipisahkan.
Arti dan Makna Teologis
Tuhan mebentuk manusia compatibel dengan diriNya dengan cara kita ada di Dalam Dia dan Dia ada di dalam kita, dan kita mendapat bagian dari RohNYA. Dan penyempurnaan compatible ini di dalam Yesus Kristus.
Kasih Allah sempurna dalam diri manusia saat manusia berani percaya kepada NYA saat hari penghakiman.
Kalau Kasih Allah Allah sempurna dalam diri manusia, maka pertimbangan duniawi (logika dunia) hilang, dan diisi oleh pertimbangan Sorga. Kasih yang sempurna dalam diri manusia, saat dia melakonkan atau mempraktekkan kasih itu tanpa batas dalam 4 dimensi .
Pendalaman Teologis
Untuk memperdalam makna tersebut:
1. Compatible dengan Allah (Union with God)
Konsep “Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah” menunjuk pada doktrin union with Christ (Yoh 15:4; Gal 2:20). Ini bukan sekadar relasi simbolik, tetapi partisipasi ontologis melalui Roh Kudus.
Manusia menjadi “compatibel” karena:
Diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27)
Dipulihkan dalam Kristus
Ditinggali Roh Kudus
Kesempurnaan kompatibilitas ini mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus.
2. Keberanian pada Hari Penghakiman
Kasih yang sempurna menghasilkan parrhesia (keberanian eksistensial).
Bukan karena kita tidak berdosa, tetapi karena kita tinggal dalam kasih Allah.
Kasih yang sempurna:
Menghapus ketakutan akan hukuman
Mengubah relasi dari takut menjadi percaya
Menghasilkan ketenangan eskatologis
3. Pertimbangan Sorga Menggantikan Logika Dunia
Logika dunia:
Hitung untung rugi
Takut kehilangan
Cemas terhadap masa depan
Pertimbangan sorga:
Memberi tanpa takut
Mengampuni tanpa syarat
Mengasihi tanpa kalkulasi
Inilah transformasi batin ketika kasih Allah menjadi sempurna dalam diri manusia.
4. Kasih dalam 4 Dimensi
Kasih tanpa batas dalam 4 dimensi dapat dipahami sebagai:
Dimensi Vertikal – Mengasihi Allah
Dimensi Horizontal – Mengasihi sesama
Dimensi Internal – Mengasihi diri dalam terang kasih Allah
Dimensi Eskatologis – Mengasihi dalam perspektif kekekalan
Ketika empat dimensi ini berjalan, manusia hidup dalam orbit sorgawi meski masih di dunia.
Implementasi
Bagaimana kita “berutang untuk mengasihi”?
Mengasihi tanpa menunggu balasan.
Mengampuni tanpa menyimpan catatan kesalahan.
Berani percaya kepada Tuhan saat keadaan tidak logis.
Mengganti kalkulasi dunia dengan iman.
Membuktikan kasih kepada Tuhan melalui tindakan nyata kepada saudara.
Dalam konteks gereja dan keluarga:
Jangan hanya aktif dalam ritual.
Jangan hanya rajin dalam jabatan.
Tetapi hadirkan kasih yang nyata dan konsisten.
Kesimpulan
Kita tidak berutang untuk dihukum.
Kita berutang karena sudah dikasihi lebih dahulu.
Kasih Allah bukan teori.
Kasih Allah adalah identitas.
Jika Allah tinggal di dalam kita, maka dunia harus merasakan kasih itu melalui kita.
Power Statement
Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita, maka mengasihi bukan pilihan, tetapi kewajiban identitas.
Kita berutang untuk mengasihi, sampai kasih itu sempurna dalam diri kita.
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru, 1 Yohanes 4:11–21
- John Stott, The Epistles of John
- D.A. Carson, The Difficult Doctrine of the Love of God
- Augustine, On the Trinity
- Karl Barth, Church Dogmatics
- Dietrich Bonhoeffer, Life Together

Komentar