Featured Post

KHOTBAH MINGGU: 30 AGUSTUS 2026 (Minggu Ke 5, Khotbah Pertua/Diaken)

Gambar
​ Tema: Bapa Yang Takut Kepada Tuhan ( Sentudu ras Tempas Dibata ) Nats Alkitab: Kejadian 1:26–28 ​I. PENDAHULUAN ​Manusia sering lupa bahwa dirinya diciptakan segambar dengan Tuhan ( Imago Dei ). Bahkan, di tengah peradaban modern hari ini, ada kekuatan di dunia yang sangat sistematis dan makin lama makin besar untuk membuat manusia—khususnya para laki-laki dan bapak—melupakan kenyataan agung bahwa dirinya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. ​Ketika seorang bapak kehilangan kesadaran akan identitas Imago Dei dalam dirinya, ia akan kehilangan kompas moral, tujuan hidup, serta kepemimpinan yang berhikmat di dalam keluarga maupun masyarakat. ​II. FAKTA & REALITAS KEKINIAN ​Dunia hari ini menawarkan krisis identitas yang nyata bagi kaum bapak: ​ Materialisme & Sekularisme: Keberhasilan seorang bapak sering kali disempitkan hanya sebatas pencapaian finansial, status sosial, atau jabatan, sehingga tanggung jawab spiritual keluarga terabaikan. ​ Dekonstruksi Peran ...

TENANGLAH JIWAKU - Mazmur 116:7

 


Bila seseorang bertanya pada saudara saat ini, apa artinya membuat diri kita rileks? Apa jawaban yang saudara miliki. Apakah rileks itu adalah sesuatu yang direncanakan akan dilakukan pada saat mendatang – pada saat liburan, ketika di tempat tidur, bila pensiun atau bila sudah menyelesaikan pekerjaan.

Bila jawabannya adalah itu, maka sadarilah bahwa selama ini hidup saudara hampir seluruhnya dipakai untuk mengalami sesuatu yang membuat tegang, merasa diserang, terburu-buru dan panik. Tapi tidak mengapa, diitengah budaya yang justru menyukai konflik dan sensasi, ketenangan bisa dibilang bagaikan seni yang hilang. Dalam hal berbeda misalnya, sering kali kita begitu cepat membalas kritik atau mengumumkan ketidaksukaan kita – khususnya saat kita berada di depan keyboard. Sayangnya, interaksi semacam itu akan kembali menghantui kita. Yang seharusnya kita lakukan adalah menenangkan diri. Semakin kita mampu tetap tenang, semakin ringan dan bahagialah kita.

Bersikap tenang tidak berarti bersikap sedingin es atau memendam emosi, melainkan melatih pengendalian diri agar kita bisa mendamaikan situasi, mencegah beban pikiran, sakit hati, rasa berat dan duka. Bersikap tenang berarti menolak menggigit “umpan” emosi dan memilih merespos dengan anggun dan elok

Saat kita merasa ada ketegangan yang meningkat, ingatkanlah dirimu dan katakan pada dirimu bahan refleksi kita hari ini yang diambil dari Mazmur 116:7 “Kembalilah tenang, hai jiwaku sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu”. Ingatlah ayat ini, dan bersikaplah lebih tenang sebelum melakukan tindakan apapun itu.

Janganlah seperti seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak, berkata “saya tidak bisa merapikan rumah menjadi sebersih yang saya inginkan sebelum semua orang meninggalkan rumah di pagi hari dan sesampai mereka kembali ke rumah.” Ia begitu panik memikirkan ketidakmampuannya untuk menjadi sempurna, sehingga dokternya meresepkan obat anticemas untuknya.

Ternyata, sikap demikian muncul karena dirinya merasa seakan ada sepucuk pistol yang diarahkan ke kepalanya dan pemegang pistol itu menuntut agar ia memberesken semua piring yang ada di meja, membereskan dan membersihkan rumah– atau tugas-tugas rumah tangga lainnya! Padahal, semua itu tidak pernah ada. Kenyataannya, tak ada orang lain selain dirinya sendirilah yang menciptakan tekanan yang dialaminya.

Ingat, saya pernah mendengar kata bijak soal ini, begini katanya “Drama membuat hidup lebih “berbumbu”, tetapi juga bisa sangat melelahkan. Lebih baik bersabar dan memupuk rasa tenang”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026