Featured Post

​Catatan Tambahan PJJ 23-29 Agustus 2026

Gambar
 ​ Thema: Pertanda Orang Yang Mengenal ( Tanda Nandai Dibata ) Teks: 1 Yohanes 2 : 3 - 11 ​Teks Alkitab ​ 1 Yohanes 2:3-11 (3) Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. (4) Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. (5) Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. (6) Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. (7) Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. (8) Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan teran...

Pelajaran Penting, Kristen Mula-Mula (PPKM)

 


Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat membuat  masyarakat lebih banyak melakukan aktivitas secara terbatas. Menghabiskan waktu di rumah adalah hal yang paling aman dilakukan untuk menghindari penularan Covid-19. Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan jika masyarakat harus bisa melihat sisi lain dari PPKM Darurat ini. "Selain untuk menghentikan laju Covid-19, dengan momentum ini jadi lebih banyak memiliki waktu untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak sempat dilakukan kerana sibuk. Dengan lebih banyak di rumah  punya waktu untuk beribadah atau menjalankan hobi, " ujarnya secara virtual di Instagram live @radiokesehatan.

Tetapi, banyak yang merasa tertekan dengan kebijakan ini. Ruang gerak yang terbatas dan aktivitas  tidak bisa lagi dilakukan untuk sementara. Terlihat dari berbagai macam video yang viral di media sosial, pasca diberlakukannya PPKM secara menyeluruh di Indonesia. Faktor utamanya adalah ekonomi masyarakat yang sulit pulih, semenjak COVID-19 menyerang Indonesia.

Sekalipun demikian, Pemerintah telah menyiapkan skenario perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat hingga enam minggu ke depan. Hal tersebut diketahui berdasarkan bahan paparan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Senin (12/6/2021). Dalam paparan tersebut disebutkan, PPKM darurat diperpanjang hingga enam minggu karena risiko pandemi Covid-19 masih tinggi, khususnya varian baru (Delta).

APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Kisah Para Rasul 4:32-37 menjadi inspirasi dan solusi menarik dalam situasi PPKM seperti sekarang ini. Sederhana, namun sulit dilakukan oleh beberapa orang yang sudah terjebak dengan konsep kompetitif yang marak sebelum Covid-19 menyerang Indonesia.

Kita sering menemukan di dalam Alkitab bahwa imperatif (perintah) didahului dengan indikatif (pernyataan). Tindakan praktis dilandaskan pada alasan teologis. Apa yang kita lakukan didorong oleh apa yang Allah lakukan. Pola itulah yang kita temukan di sini. aksi (4:34-37) bersumber dari hati (4:32a), teologi (4:32b), dan anugerah ilahi (4:33).

Ribuan orang Yahudi yang bertobat dari pasal 2-4 kemungkinan besar adalah para peziarah dari berbagai daerah yang sedang merayakan Hari Raya Pentakosta (lihat 2:1-11). Tatkala mereka bertobat, mereka memutuskan untuk tinggal di Yerusalem lebih lama. Perbekalan mereka sangat mungkin tidak lagi memadai. Mereka tidak mampu membayar sewa penginapan maupun kebutuhan sehari-hari mereka. Situasi yang dialami oleh kita juga saat PPKM berlangsung. Namun, di tengah situasi seperti ini jemaat mula-mula tidak berdiam diri. Mereka memberi diri. Mereka belajar untuk berbagi. Bagaimana dengan kita?

Apa yang dilakukan oleh mereka  terbilang luar biasa. Kemurahhatian mereka melebihi praktek kebajikan pada zamannya. Sebagai contoh, pada zaman itu tanah atau rumah merupakan sumber kekayaan, status sosial dan jaminan utama. Semakin banyak tanah/rumah yang dimiliki, semakin  seseorang. Semakin banyak ladang berarti semakin banyak penghasilan. Semakin banyak properti semakin tenang sampai tua nanti. Ketika seseorang menjual tanah/rumah dan diberikan untuk kepentingan bersama, orang itu mungkin telah mengurbankan harta utama, sumber penghasilan utama, martabat dalam komunitas maupun ketenangan hari tua.

Hal lain yang membuat kemurahhatian jemaat mula-mula terlihat sangat menonjol adalah pemberian yang tanpa pilih dan pamrih. Menurut kebiasaan pada waktu itu, banyak orang cenderung memberi kepada orang lain yang memiliki status sosial yang sama. Di jaman modern pemberian itu juga umumnya bersifat resiprokal. Maksudnya, memberi supaya diberi. Ada pamrih. Tidak demikian dengan jemaat mula-mula di 4:34-37. Tidak ada keuntungan yang mereka dapatkan dari penerima bantuan. Yang diberi juga orang-orang yang secara sosial dan ekonomi lebih rendah daripada mereka.

Sederhananya, Kisah Jemaat Mula-Mula mengajarkan kita tentang budaya ekonomi gotong royong. Budaya yang timbul dari rasa simpati dan empati terhadap satu dengan yang lainnya. Budaya yang merubah sikap kompetitif. Sebaliknya kita diajak untuk menghasilkan produk-produk yang bisa saling memenuhi satu dengan yang lain. Bisakah kita “saling membeli” produk-produk yang dihasilkan saudara disekitar kita?  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026