Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 21 - 27 Juni 2026

Gambar
  PENUNTUN KEBAKTIAN KELUARGA / PJJ ​ Bahan Alkitab: Kisah Para Rasul 2 : 43 – 47 Thema: Perpulungen si Iselamatkan Tuhan (Jemaat yang Diselamatkan Tuhan) ​I. PENDAHULUAN Kitab Kisah Para Rasul mencatat masa-masa awal setelah peristiwa Pentakosta (pencurahan Roh Kudus), di mana Roh Kudus tidak hanya memberikan karunia bahasa-bahasa lidah, tetapi yang terpenting adalah membentuk sebuah komunitas baru yang radikal, yaitu Eklesia (jemaat/perpulungen). Teks Kisah Para Rasul 2:43-47 merupakan sebuah rangkuman deskriptif pertama mengenai karakteristik jemaat mula-mula yang telah mengalami keselamatan dari Tuhan. Mereka hidup dalam suatu tatanan yang sangat berbeda dari dunia sekitarnya, bukan sekadar sebagai perkumpulan sosial biasa, melainkan sebuah organisme rohani yang bergerak aktif, radikal, dan sepenuhnya dituntun oleh kuasa Allah. ​Jika kita merefleksikannya dalam konteks masa kini, jemaat sedang dihadapkan pada realitas situasi ekonomi yang sangat sulit di Indonesia. Gejo...

Pelajaran Penting, Kristen Mula-Mula (PPKM)

 


Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat membuat  masyarakat lebih banyak melakukan aktivitas secara terbatas. Menghabiskan waktu di rumah adalah hal yang paling aman dilakukan untuk menghindari penularan Covid-19. Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan jika masyarakat harus bisa melihat sisi lain dari PPKM Darurat ini. "Selain untuk menghentikan laju Covid-19, dengan momentum ini jadi lebih banyak memiliki waktu untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak sempat dilakukan kerana sibuk. Dengan lebih banyak di rumah  punya waktu untuk beribadah atau menjalankan hobi, " ujarnya secara virtual di Instagram live @radiokesehatan.

Tetapi, banyak yang merasa tertekan dengan kebijakan ini. Ruang gerak yang terbatas dan aktivitas  tidak bisa lagi dilakukan untuk sementara. Terlihat dari berbagai macam video yang viral di media sosial, pasca diberlakukannya PPKM secara menyeluruh di Indonesia. Faktor utamanya adalah ekonomi masyarakat yang sulit pulih, semenjak COVID-19 menyerang Indonesia.

Sekalipun demikian, Pemerintah telah menyiapkan skenario perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat hingga enam minggu ke depan. Hal tersebut diketahui berdasarkan bahan paparan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Senin (12/6/2021). Dalam paparan tersebut disebutkan, PPKM darurat diperpanjang hingga enam minggu karena risiko pandemi Covid-19 masih tinggi, khususnya varian baru (Delta).

APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Kisah Para Rasul 4:32-37 menjadi inspirasi dan solusi menarik dalam situasi PPKM seperti sekarang ini. Sederhana, namun sulit dilakukan oleh beberapa orang yang sudah terjebak dengan konsep kompetitif yang marak sebelum Covid-19 menyerang Indonesia.

Kita sering menemukan di dalam Alkitab bahwa imperatif (perintah) didahului dengan indikatif (pernyataan). Tindakan praktis dilandaskan pada alasan teologis. Apa yang kita lakukan didorong oleh apa yang Allah lakukan. Pola itulah yang kita temukan di sini. aksi (4:34-37) bersumber dari hati (4:32a), teologi (4:32b), dan anugerah ilahi (4:33).

Ribuan orang Yahudi yang bertobat dari pasal 2-4 kemungkinan besar adalah para peziarah dari berbagai daerah yang sedang merayakan Hari Raya Pentakosta (lihat 2:1-11). Tatkala mereka bertobat, mereka memutuskan untuk tinggal di Yerusalem lebih lama. Perbekalan mereka sangat mungkin tidak lagi memadai. Mereka tidak mampu membayar sewa penginapan maupun kebutuhan sehari-hari mereka. Situasi yang dialami oleh kita juga saat PPKM berlangsung. Namun, di tengah situasi seperti ini jemaat mula-mula tidak berdiam diri. Mereka memberi diri. Mereka belajar untuk berbagi. Bagaimana dengan kita?

Apa yang dilakukan oleh mereka  terbilang luar biasa. Kemurahhatian mereka melebihi praktek kebajikan pada zamannya. Sebagai contoh, pada zaman itu tanah atau rumah merupakan sumber kekayaan, status sosial dan jaminan utama. Semakin banyak tanah/rumah yang dimiliki, semakin  seseorang. Semakin banyak ladang berarti semakin banyak penghasilan. Semakin banyak properti semakin tenang sampai tua nanti. Ketika seseorang menjual tanah/rumah dan diberikan untuk kepentingan bersama, orang itu mungkin telah mengurbankan harta utama, sumber penghasilan utama, martabat dalam komunitas maupun ketenangan hari tua.

Hal lain yang membuat kemurahhatian jemaat mula-mula terlihat sangat menonjol adalah pemberian yang tanpa pilih dan pamrih. Menurut kebiasaan pada waktu itu, banyak orang cenderung memberi kepada orang lain yang memiliki status sosial yang sama. Di jaman modern pemberian itu juga umumnya bersifat resiprokal. Maksudnya, memberi supaya diberi. Ada pamrih. Tidak demikian dengan jemaat mula-mula di 4:34-37. Tidak ada keuntungan yang mereka dapatkan dari penerima bantuan. Yang diberi juga orang-orang yang secara sosial dan ekonomi lebih rendah daripada mereka.

Sederhananya, Kisah Jemaat Mula-Mula mengajarkan kita tentang budaya ekonomi gotong royong. Budaya yang timbul dari rasa simpati dan empati terhadap satu dengan yang lainnya. Budaya yang merubah sikap kompetitif. Sebaliknya kita diajak untuk menghasilkan produk-produk yang bisa saling memenuhi satu dengan yang lain. Bisakah kita “saling membeli” produk-produk yang dihasilkan saudara disekitar kita?  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025