Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 12 – 18 Juli 2026

Gambar
 ​ Thema : Dunia Orang Mati (Doni Kalak Mate) Nats : Ayub 14 : 13 ​ "Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula!" ​ Pendahuluan ​Kitab Ayub sering kali membawa kita ke dalam perenungan yang sangat dalam mengenai penderitaan dan batas eksistensi manusia. Dalam Ayub 14, Ayub sedang meratapi betapa singkat dan penuh sesaknya hidup manusia di bumi. Di tengah rasa sakit yang luar biasa dan tekanan emosional yang hebat, Ayub tidak melihat kematian sebagai akhir dari segalanya atau sebagai hukuman yang membinasakan, melainkan sebagai sebuah tempat perlindungan sementara yang misterius di hadapan Allah.  Secara teologis, kematian sering kali disalahpahami hanya sebagai upah dosa atau sekadar akhir tragis dari biologis manusia. Namun, melalui kacamata iman, teologi kematian ( theology of death ) menyingkapkan bahwa maut telah ditundukkan di bawah kedaulatan Alla...

TAK PERLU MEMBANDINGKAN DIRIMU / 1 TESALONIKA 5:18

 


Seorang novelis dan dramawan Irlandia yang hidup di tahun 1800 an bernama Oscar Wilde pernah mengatakan sebuah kalimat yang sangat baik untuk kita renungkan. Ia berkata: "Cara terbaik untuk menghargai pekerjaan anda adalah dengan membayangkan bagaimana diri anda tanpa pekerjaan itu." Quote in sesungguhnya masih sangat relevan hingga hari ini. Betapa seringnya saya mendengar orang-orang yang saya kenal bersungut-sungut dalam pekerjaannya, tetapi ketika mereka keluar dari sana mereka lalu menyesal. Ada kalanya kita terus mengeluh berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi, tetapi kemudian lupa mensyukuri apa yang ada. Kita lupa bahwa hidup ini adalah anugerah, dan apa yang kita miliki saat ini termasuk pekerjaan, meski mungkin terlihat kecil dibanding orang lain, itu pun merupakan anugerah yang indah dari Tuhan. Mengeluh itu gampang, tetapi mensyukuri seringkali sulit bagi banyak orang. Apa yang dikatakan Oscar Wilde sesungguhnya bagus untuk kita pikirkan. Jika sulit menghargai pekerjaan saat ini, cobalah bayangkan bagaimana nantinya jika pekerjaan itu tidak lagi ada bagi anda. Itu akan membuat anda bisa mulai menghargai dan mensyukuri apa yang anda miliki hari ini.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi diri kita yang suka mengeluh atas pekerjaan dan situasi yang sedang kita jalani. Salah satunya, kita sering melihat kehidupan orang lain sebagai tolak ukur untuk mengevaluasi kehidupan kita sendiri, alhasil kita akan menilai diri kita secara tidak adil.

Ketika kita membandingkan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain, kita secara otomatis menurukan diri sendiri, juga mencela kuasa dan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Jalan keluar dari siklus ini adalah Pertama-tama terlebih dahululah bersukacita dalam kebahagian orang lain dan pada saat yang sama kita juga akan lebih menghargai nasib baik kita serta kemampuan khusus yang kita miliki.

Hal ini menjadi penting, sebab bila hal ini tidak mampu kita lakukan. Pikiran kita justru terbelenggu pada rasa iri hati akan kehidupan orang lain atau justru membuat kita tidak akan pernah adil dalam menilai diri kita sendiri. Sangat jarang hal-hal semacam ini menumbuhkan motivasi untuk kita bisa bertumbuh lebih baik lagi.

Kedua, bila kita mau meluangkan waktu sejenak melihat apa yang tertulis dalam Alkitab, ada banyak tokoh disana yang tetap mampu memandang lewat iman ketika masalah menghadang mereka. Lihatlah Ayub yang memuji Tuhan meski mengalami penderitaan (Ayub 1:20-22). Daud, yang berulang kali terancam nyawanya akibat dikejar musuh, bahkan pada suatu kali hendak dibunuh oleh Saul dan terjebak di dalam gua pun demikian. Apa yang dilakukan Daud? Dia malah memuji Tuhan dan bermazmur! (Mazmur 57:1-12). Lalu dalam Perjanjian Baru, lihatlah apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas tengah dipasung dalam penjara. Mereka bukannya menyesali nasib, mengeluh atau menyalahkan Tuhan, namun malah berdoa dan menyanyikan puji-pujian dengan lantang, hingga semua orang dipenjara itu mendengarkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Terjadilah gempa sehingga semua pintu dan belenggu terbuka membebaskan mereka. Bukan itu saja, namun terjadi pertobatan pada diri kepala penjara dan keluarganya. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Lihatlah bukti kasih setia Tuhan, Dia tetap menyertai dalam segala hal. Tidak ada yang harus kita takutkan. Yang harus kita lakukan adalah tetap mengucap syukur dan melantunkan puji-pujian. We are never alone even in the deepest trouble.

Jadi, berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain dan mengucap syukur dalam keadaan, kondisi dan situasi apapun itu sangatlah penting. Begitu pentingnya, sehingga dikatakan "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Itulah yang menjadi keinginan Tuhan bagi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ 10 – 16 Agustus 2025