Featured Post

Surat Ukat, Endi-Enta, dan Soteriologi Calvin: Temuan Kontekstual Anugerah dan Perbuatan Baik

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting Abstrak ​Artikel ini mengeksplorasi korelasi antara filosofi hidup masyarakat Karo yang terekam dalam konsep Surat Ukat ( Endi-Enta ) dengan soteriologi Calvinis, khususnya mengenai doktrin anugerah Allah ( sola gratia ) dan perbuatan baik sebagai ucapan syukur ( gratitudo ). Melalui pendekatan teologi kontekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Karo menyediakan gambaran kultural yang tepat untuk memahami keterdahuluan anugerah Allah sebelum tanggung jawab etis manusia. I. Pendahuluan ​Masyarakat Karo memiliki pandangan hidup yang berakar kuat pada pemeliharaan kehidupan dan relasi sosial. Salah satu ekspresi filosofis yang terekam dalam budaya Karo—terutama melalui Surat Ukat (surat ucapan/ungkapan kehendak hati)—adalah dinamika relasional antara Endi (memberi) dan Enta (meminta respon/hasil) [1]. ​Dalam kehidupan sehari-hari, makanan berfungsi sebagai simbol utama pemeliharaan. Orang Karo percaya bahwa Tuhan ( Dibata ) adalah Pemb...

TAK PERLU MEMBANDINGKAN DIRIMU / 1 TESALONIKA 5:18

 


Seorang novelis dan dramawan Irlandia yang hidup di tahun 1800 an bernama Oscar Wilde pernah mengatakan sebuah kalimat yang sangat baik untuk kita renungkan. Ia berkata: "Cara terbaik untuk menghargai pekerjaan anda adalah dengan membayangkan bagaimana diri anda tanpa pekerjaan itu." Quote in sesungguhnya masih sangat relevan hingga hari ini. Betapa seringnya saya mendengar orang-orang yang saya kenal bersungut-sungut dalam pekerjaannya, tetapi ketika mereka keluar dari sana mereka lalu menyesal. Ada kalanya kita terus mengeluh berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi, tetapi kemudian lupa mensyukuri apa yang ada. Kita lupa bahwa hidup ini adalah anugerah, dan apa yang kita miliki saat ini termasuk pekerjaan, meski mungkin terlihat kecil dibanding orang lain, itu pun merupakan anugerah yang indah dari Tuhan. Mengeluh itu gampang, tetapi mensyukuri seringkali sulit bagi banyak orang. Apa yang dikatakan Oscar Wilde sesungguhnya bagus untuk kita pikirkan. Jika sulit menghargai pekerjaan saat ini, cobalah bayangkan bagaimana nantinya jika pekerjaan itu tidak lagi ada bagi anda. Itu akan membuat anda bisa mulai menghargai dan mensyukuri apa yang anda miliki hari ini.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi diri kita yang suka mengeluh atas pekerjaan dan situasi yang sedang kita jalani. Salah satunya, kita sering melihat kehidupan orang lain sebagai tolak ukur untuk mengevaluasi kehidupan kita sendiri, alhasil kita akan menilai diri kita secara tidak adil.

Ketika kita membandingkan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain, kita secara otomatis menurukan diri sendiri, juga mencela kuasa dan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Jalan keluar dari siklus ini adalah Pertama-tama terlebih dahululah bersukacita dalam kebahagian orang lain dan pada saat yang sama kita juga akan lebih menghargai nasib baik kita serta kemampuan khusus yang kita miliki.

Hal ini menjadi penting, sebab bila hal ini tidak mampu kita lakukan. Pikiran kita justru terbelenggu pada rasa iri hati akan kehidupan orang lain atau justru membuat kita tidak akan pernah adil dalam menilai diri kita sendiri. Sangat jarang hal-hal semacam ini menumbuhkan motivasi untuk kita bisa bertumbuh lebih baik lagi.

Kedua, bila kita mau meluangkan waktu sejenak melihat apa yang tertulis dalam Alkitab, ada banyak tokoh disana yang tetap mampu memandang lewat iman ketika masalah menghadang mereka. Lihatlah Ayub yang memuji Tuhan meski mengalami penderitaan (Ayub 1:20-22). Daud, yang berulang kali terancam nyawanya akibat dikejar musuh, bahkan pada suatu kali hendak dibunuh oleh Saul dan terjebak di dalam gua pun demikian. Apa yang dilakukan Daud? Dia malah memuji Tuhan dan bermazmur! (Mazmur 57:1-12). Lalu dalam Perjanjian Baru, lihatlah apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas tengah dipasung dalam penjara. Mereka bukannya menyesali nasib, mengeluh atau menyalahkan Tuhan, namun malah berdoa dan menyanyikan puji-pujian dengan lantang, hingga semua orang dipenjara itu mendengarkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Terjadilah gempa sehingga semua pintu dan belenggu terbuka membebaskan mereka. Bukan itu saja, namun terjadi pertobatan pada diri kepala penjara dan keluarganya. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Lihatlah bukti kasih setia Tuhan, Dia tetap menyertai dalam segala hal. Tidak ada yang harus kita takutkan. Yang harus kita lakukan adalah tetap mengucap syukur dan melantunkan puji-pujian. We are never alone even in the deepest trouble.

Jadi, berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain dan mengucap syukur dalam keadaan, kondisi dan situasi apapun itu sangatlah penting. Begitu pentingnya, sehingga dikatakan "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Itulah yang menjadi keinginan Tuhan bagi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025