Featured Post

Revitalisasi Etos Kerja Karo: Rahasia "Endi Enta" sebagai Respon Ilahi

Gambar
( Menakar Kesamaan  Teologi Calvin dengan Filosofi Surat Ukat Endi Enta) Pt. Em. Analgin Ginting.  Filosofi Endi Enta (Surat Ukat)  secara harfiah merujuk pada prinsip timbal balik yang adil dan kerja keras. Ukat (sendok nasi tradisional dari bambu/tempurung kelapa) memiliki dua sisi: satu sisi untuk menyendok nasi ke piring orang lain (Endi - ini, ambillah), dan sisi lain sebagai pegangan atau bagian dari proses yang menghasilkan untuk diri sendiri (Enta - berikan padaku/bagianku). Dalam masyarakat Karo, Ukat bukan sekadar alat dapur, melainkan simbol keadilan dan keseimbangan hidup. Namun, jika kita menggali lebih dalam secara teologis, filosofi "Surat Ukat: Endi Enta" sebenarnya adalah sebuah dialog antara Tuhan (Dibata)  dan manusia. 1. Inisiatif Kasih: Tuhan sebagai Sang "Endi" Utama Dalam pemahaman teologi Calvinisme yang sejati, segala sesuatu dimulai dari Allah (God’s Initiative). Sebelum manusia mampu bekerja, Tuhan telah terlebih dahulu melakukan Endi. • ...

Jokowi Adalah Pemimpin Yang Melahirkan Pemimpin

Pada tahun 90 an saya mengikuti sebuah pelatihan tentang kepemimpinan yang dipandu oleh Jansen Sinamo, Sang Guru Ethos.  Saya masih ingat dan terus ingat ketika Jansen menjelaskan beda  antara  pemimpin yang baik dengan pemimpin yang sangat baik/hebat.


Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berwibawa, pemimpin yang tegas dan dikagumi oleh anak buahnya.


Sedangkan pemimpin yang  sangat baik atau hebat menurut penjelasan  Jansen Sinamo kala itu adalah pemimpin yang membuat anak buahnya atau bawahannya percaya diri, percaya kepada diri mereka sendiri.  Dengan kata lain pemimpin yang hebat adalah pemimpim yang melahirkan pemimpin.


Saya langsung teringat dan setuju bahwa pemimpin yang hebat itu adalah Jokowi.  Pemimpin yang mampu membuat anak buahnya percaya diri dan menjadi pemimpin.   Jokowi berhasil  membuat Wakil Walikota Solo menjadi Walikota Solo, dan Jokowi pun berhasil (untuk sementara) membuat Wakil Gubernur DKI Jakarta  Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.  Terbukti bahwa Jokowi mampu melahirkan pemimpin.



Hal yang sama pernah dilakukan oleh Robby Djohan, CEO Bank Niaga yang pernah menukangi Garuda Indonesia dan membidani lahirnya Bank Mandiri.  Ketika di Bank Niaga Robby Djohan mempunyai beberapa anak buah yang akhirnya menjadi CEO juga.  Agus Martowardoyo, Emirsyah Satar, Aswin Rasjid, Glen Yusuf, dan beberapa nama lain.  Sekarang Robby Djohan dengan aktivitas nya tetap melahirkan orang orang hebat, dia mempunyai Sekolah Untuk Calon Penerbang (Pilot).


Kembali kepada Jokowi, saya yakin sekali jadinya bahwa jika dia terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, maka dalam waktu 5 tahun atau 10 tahun kepemimpinannya akan muncul pemimpin pemimpin yang handal dan menjadi calon presiden untuk periode berikutnya.  Saya yakin bahwa menteri menteri yang akan dipilih Jokowi dalam kabinetnya adalah orang orang yang akan terlatih kepemimpinannya, karena Jokowi akan mampu membuat semua anak buahnya menjadi orang yang percaya diri dan orang yang hebat.


Lalu bagaimana dengan Prabowo?  Semua orang kagum akan keberaniannya dan ketegasannya.  Namun tipe pemimpin seperti ini adalah tipe pemimpin yang cenderung one man show.  Anak buahnya tidak akan berkutik, anak buahnya akan meniru gayanya.  Anak buahnya tidak akan berani bertindak sesuai dengan nurani dan hati mereka sendiri.   Sebab ketegasan dan kewibawaan Prabowo akan membuat semua anak buahnya  “takut” jika berbeda dengan dirinya.


Setelah pencanangan Jokowi menjadi Calon Presiden dari PDIP lihatlah apa yang dilakukan oleh Fadli Djon, orang kepercayaan dan orang paling dekat dengan Prabowo.  Terlihat sekali bahwa Fadli hanya membeo, dia hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh atasannya.  Kemarahan Prabowo dikompori juga oleh Fadli Djon, jadi tidak ada yang berbeda.  Seharusnya Fadli berani berbeda dengan Prabowo untuk menyampaikan pandangannnya sendiri, ternyata dia tidak melakukan itu.  Fadli hanya mengulangi apa yang telah dilakukan oleh Prabowo.








Ini sekedar padangan saya teman teman sekalian, sehingga atas aura kepemimpinan  Jokowi yang ternyata sangat hebat ini partai partai lain pun  ingin berkoalisi dengan PDIP untuk mendukung JoKowi.  Golkar dikhabarkan sudah mendekat ke Jokowi, Hanura pun sudah beberapa kali bertemu denganb Puan Maharani dan Megawati.  Sedangkan Demokrat masih jual mahal, masih menunggu dipanggil oleh PDIP atau Jokowi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025