Featured Post

Refleksi 136 Tahun GBKP: Menjemput Jati Diri yang Tercecer

Gambar
  Oleh Pt. Em Analgin Ginting Pengantar   Menjelang usia ke-136 pada 18 April 2026, GBKP berdiri di persimpangan jalan yang krusial. Perjalanan ini tidak boleh dilepaskan dari sejarah besar dunia, di mana kita juga dipanggil untuk mengenang kembali peristiwa Reformasi Gereja sekitar 500 tahun yang lalu. Semangat Sola Scriptura, Sola Gratia, dan Sola Fide yang dikobarkan para reformator seharusnya menjadi cermin untuk melihat sejauh mana GBKP hari ini masih setia pada jalurnya, atau justru sedang mengalami pengikisan kualitas teologi dan spiritualitas yang mengkhawatirkan. Krisis integritas kini kian nyata ketika pelayanan mulai bergeser menjadi sekadar karier profesional. Fenomena "urban-sentris" di kalangan pendeta menjadi luka terbuka; di mana hasrat menetap di kota besar demi fasilitas telah menciptakan jurang spiritual dengan jemaat di pelosok desa. Jika desa-desa terpencil yang merupakan rahim sejarah GBKP kini dianggap sebagai "tempat pembuangan", maka kita te...

Penutupan Gereja Hanya Noktah Hitam Kecil Dan Tidak Mempunyai Arti

Minggu kemarin ramai diberitakan bahwa sebanyak 18 gereja di tutup di Kabupaten Aceh Singkel. Salah satu alasan penutupan ini dikatakan oleh Pejabat Bupati Aceh Singkel adalah untuk meredam terjadinya bentrokan. Apalagi Aceh adalah daerah Syariat Islam, koq masih ada gereja? Kasus Gereja Yasmin pun belum selesai ditangani, lalu bertambah lagi kasus HKBP di Bekasi Timur yang ditutup dengan kasus yang mirip. Maka semakin mengemukalah kesadaran kita bahwa betapa gereja selalu berada dalam kondisi yang teraniaya. Pada hal Undang Undang Dasar Republik Indonesia dengan tegas dan sangat jelas menjamin kebebasan beragama semua Rakyat Indonesia. Dengan kejadian kejadian ini tentu akal sehat kita mengatakan bahwa UUD sudah dikangkangi sebagian Warga Negara Indonesia. Tentu kita berharap agar Pemerintah tegas menyikapi hal ini. Jangan melakukan pembiaran yang akibatnya bisa lebih buruk lagi karena bisa menimbulkan konflik konflik horizontal. Namun kalau kita kembali melihat sejarah, mungkinkah gereja ditutup atau diberangus. Mungkinkah Iman Orang Kristen yang selalu bersekutu dan menjadi gereja yang sesungguhnya itu ditekan, dihambat, dan dihilangkan. Bukankah upaya upaya untuk menutup gereja di belahan manapun di dunia ini hanya upaya kosong yang sia sia yang mustahil dapat menjadi kenyataan. Atau jangan jangan seluruh upaya untuk menghambat pertumbuhan gereja dengan segala cara yang dilakukan hanya akan menjadi noktah hitam kelam kecil tanpa arti apa apa dalam seluruh sejarah perjalanan umat manusia? Silahkan kita renungkan semuanya. Kalau dilihat dari rentetan sejarah ini, saya pribadi berkesimpulan bahwa Gereja tidak mungkin ditutup karena ada yang mengawal perjalanannya dalm dunia ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus Kristus sendiri yang memang adalah kepala Gereja. Dengan kata lain, gedung gereja bisa saja ditutup namun gereja yang sesungguhnya yaitu kehidupan orang orang kristen itu tidak mungkin dihalang halangilah. Jadi hanya upaya sesaat dan tidak akan berhasil seluruh kejadian penutupan gereja. Sebab memang Tuhan Yesus sendiri lah yang memesankan bahwa gereja harus bertumbuh di dalam dunia supaya manusia dapat lebih mendapatkan anugrah dan seluruh kebaikannya.

Komentar

Abner M. Napitupulu mengatakan…
analisis yang cukup luar bisa bung,,,saya sangat setuju dengan analisi saudara dan semoga ini membuka pemikiran untuk kita dalam menghadapi persoalan yang seperti ini. GBu,,,
Analgin Ginting mengatakan…
Terima kasih apresiasinya Bung Abner. GBU too.
winandhi mengatakan…
Pak Analgin Ginting,

Tapi masalahnya saat ini sudah semakin banyak anak muda Kristen di Indonesia yang sejatinya adalah penerus masa depan kekristenan di Indonesia mulai tidak lagi peduli dengan isu-isu keagamaan, malah lebih sibuk dengan gadget dan segala efek negatifnya.

Kita generasi yang lebih tua hanya menjadi penonton/pembaca untuk setiap kasus yang terjadi. Karena gereja-gereja memiliki kewenangan sendiri-sendiri, bahkan terkesan tidak mau ikut campur dengan yang terjadi di gereja lain.

Kalau sudah seperti ini...gereja akan hilang di Indonesia cepat atau lambat.

Saya sebagai orang Kristen juga merasa prihatin dengan kejadian-kejadian tersebut, tetapi kalau gereja saya diam atau gereja yang lain diam, terus salurannya melalui apa?
Apakah orang Kristen diperkenankan untuk berdemo?

Sepertinya saya tidak melihat upaya-upaya kearah situ.

Salam Kenal pak, nama saya Winandhi
saya tinggal di Bali.
Gereja saya sudah mempunyai tanah yang siap untuk dibangun gedung gereja, tapi sudah 15 tahun pembangunan tidak bisa terlaksana.

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025